Yang Gagal Naikkan Kursi PAN di DPR RI Harus Mundur


Oleh: Sudono Syueb

(Mantan Anggota Fraksi PAN DPRD Jatim 2004-2014)

Harianindonesiapost.com Sebentar lagi PAN (Partai Amanat Nasional) akan punya gawe besar lima tahunan ke 5 untuk memilih nakhoda baru PAN, yaitu Konggres ke 5 PAN tahun 2020. Dalam Konggres nanti akan muncul Ketum PAN baru atau petahana Zulkifli Hasan, yang nota bene, besannya pendiri PAN, Prof. Dr. HM. Amien Rasis, pendiri PAN, akan kepilih lagi.
Dalam pemilihan Ketum PAN dari konggres ke konggres PAN memang tidak lepas dari campur tangan dan bayang bayang Amien Rais.
Konggres PAN ke 1 di Semarang, para peserta konggres yang diikuti utusan DPW dan DPD PAN se Indonesia merasa kaget dengan munculnya kandidat yang tidak begitu terkenal di lingkungan PAN, bahkan bisa dibilang bukan kader lnternal PAN. Dia seorang pengusaha nasional yang sukses, yaitu Sutrisno Bachir yang biasa dipanggil Mas Tris atau Mas SB. 


Mas Tris bisa masuk bursa Caketum di Konggres ke 2 PAN di Semarang karena diusung oleh Amien Rais sebagai balas budi Amien Rais karena Mas Tris inilah pengusaha nasional yang mebeckup logistik Capres Amien Rais dalam Pilpres 2004  habis habisan. 
Ketika Mas Tris diminta SC Konggres ke 2 PAN memperkenalkan diri, kelihatan kalau Mas Tris kurang fasih politik, maklum dia seorang pengusaha, bukan politikus.

Dalam pemilihan Ketum PAN dengan sistem voting itu, dalam Konggres ke 2, dinilai sangat demokratis, Mas Tris, jagonya Amien Rais menang secara mutlak.

Ada mimpi dan harapan baru bagi anggota dan pengurus PAN mulai Pusat sampai Ranting se Indonesia agar PAN jadi parpol besar dengan meningkatnya perolehan kursi dewan baik nasional maupun daeran karena Ketum DPP PAN 2004-2009 adalah seorang SAUDAGAR sukses.
Tapi mimpi dan harapan PAN jadi parpol besar sirna, karena suara PAN turun dari 7.528.956 suara (7,O2%) jadi 6.254.580 suara (6.01%), turun sekitar  1.474.376 suara atau 1,01 %. 
Walaupun suara PAN nasional turun 1,0%, tapi kursi DPR RI PAN naik dari 35 kursi menjadi 46 kursi. 
Kalau dilihat dari kenaikan jumlah kursi DPR RI, sebetulnya kinerja politik Mas Tris cukup bagus, bisa menambah 11 kursi DPR RI, dari 35 jadi 46 kursi.
Tapi karena kenaikan 11 kursi itu dianggap kurang memenuhi ekspektasi sang maestro PAN, Amien Rais, yang konon Mas Tris 'ditarget' menaikkan kursi 100%, maka Mas Tris dianggap gagal menakhodai PAN. Hingga pada Konggres ke 3 PAN di BATAM, Mas Tris "dipaksa" turun dan diganti oleh Hatta Rajasa secara aklamasi sebelum LPJ Ketua PAN 2004-2009 disampaikan oleh Sutrisno Bachir, karena beliau masih dalam perjalanan menuju arena Konggres ke 5 PAN. 
Tahu kalau dirinya "dipaksa" mundur, Mas Tris tidak jadi masuk arena Konggres PAN. 
Makan dengan mulus Hatta jadi Ketum DPP PAN tanpa "perlawanan".


Sebetulnya dalam Konggres ke 3 PAN di Batam itu, menurut saudaraku Ali Mukti, Ketua BM PAN Jatim merangkap Wakil Ketua DPW PAN  Jatim, yang ikut hadir saat itu, bahwa Hatta Rajasa bersaing ketat dengan Drajat Wibowo, tetapi oleh Amien Rais Drajat Wibowo dibuat legowo untuk mundur dari pencalonannya setelah penyampaian visi dan misinya di forum pemilihan ketua itu. 

Karena Drajat dianggap telah mundur (walaupun dia tidak merasa mundur), maka Caketum DPP PAN tinggal Hatta Rajasa. Lalu terjadilah "drama" aklamasi itu. Hatta Rajasa diputuskan secara aklamasi jadi Ketum DPP PAN 2009-2014.

Ketika DPP PAN dinakhodai Hatta Rajasa, perolehan suara PAN secara nasional dalam Pilleg 2014 naik jadi 7,05 % dengan perolehan kursi DPR RI 6O kursi. 
Pada pemilu 2014 ini Hatta Rajasa bisa menambah kursi DPR RI sebanyak 14 kursi.

Sementara itu, ketika DPP PAN dipimpin Zulkifli Hasan 2014-2019 perolehan suara PAN turun jadi 6,84 % dengan jumlah kursi DPR RI hanya 44 kursi, dibawah Nas Tris 2 kursi.
Melihat fakta politik perolehan kursi DRR RI PAN dari Pilleg ke Pilleg seperti itu, maka Pak Amien Rais harus konsisten, Ketum PAN yang gagal naikkan perolehan kursi di DPR RI tidak perlu ditangisi turun TAHTA dari DPP PAN.
Sekalipun Zulkifli Hasan itu besanya sendiri.

Post a Comment

0 Comments