Socialize

Muktamar VI KBPII: Mengenal TANRI ABENG, Ketum KBPII 2008-2011


Laporan: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Ketika kita sedang berada di arena Muktamar KBPII tentu kita masih teringat sosok sosok Ketua Umum KBPII dari pereode ke pereode. Salah satunya adalah Tantri Abeng yang jadi Ketua Umum KBPII pereode ke 3 tahun 2008-2011. Berikut ini biografi beliau yang dilansir dari karrama.blogspot.com, Tanri Abeng adalah  seorang manajer handal di Indonesia. Ia adalah ikon majaner profesional Indonesia. Pada masanya, ia dijuluki Manajer Satu Milyar. Jumlah nilai ‘transfernya’ dari Multi Bintang Indonesia (MBI) ke Bakrie Group. Ia sukses menakhodai kedua perusahaan itu. Salah satu resepnya adalah keberaniannya mengambil tantangan dan risiko. Setelah mencapai puncak karir sebagai CEO, ia pun dipercaya menjabat Menteri Negara Pemberdayaan BUMN Kabinet Pembangunan IV dan Kabinet Reformasi. 

Suami Farida Nasution ini lahir di pelosok desa Pulau Selayar, Sulawesi Selatan tanggal 7 Maret 1942, dari sebuah keluarga miskin. Sejak kecil ia telah memperlihatkan keuletan dan kemauan bekerja keras. Ia sangat rajin belajar, seraya bekerja mencari uang untuk menopang kebutuhan sehari-harinya. Ia memberi les dan menstensil catatan-catatan sekolah dan kuliah untuk dijual kepada peserta les dan pelajar atau mahasiswa lain yang membutuhkan. 


Kesungguhannya balajar membuatnya terpilih sebagai peserta program pertukaran pelajar American Field Service. Ketika di Amerika itu, ia pun menemukan orangtua asuh, yakni keluarga Gibson. Selepas itu, ia kembali ke tanah air dan melanjutkan kuliah di Universitas Hasanudin. Semasa kuliah itu, ia pun sambil bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan eksportir dan mengajar bahasa Inggris di sebuah SMA. 

Kemudian, ia memperoleh beasiswa untuk mengambil Master of Business Administration dari State University, New York. Gelar yang masih langka di Indonesia pada masa itu. Setelah lulus MBA itu, ia bergabung dengan Union Carbide. Dimulai dari management trainee di Amerika Serikat. Ketika masih berusia 29 tahun, ia pun sudah menduduki jabatan direktur keuangan dan Corporate Secretary di perusahaan multinasional tersebut. 

Kemudian, lima tahun berikutnya, ia dialihtugaskan ke Singapura dan bertanggungjawab atas pemasaran di Eropa, Asia dan Afrika. Ketika karirnya tengah menanjak di Union Carbide itu, pria berkumis ini malah hengkang, memilih masuk ke PT Perusahaan Bir Indonesia (sekarang Multi Bintang Indonesia). Padahal di Union Carbide, ia pun diiming-iming gaji dan fasilitas sebagai presiden direktur. Tapi ia tak bergeming. Ia berani dan kukuh dalam pilihannya. 

Tahun 1979, ia resmi pindah, menjadi CEO (Chief Executive Officer) di Multi Bintang. Di sini ia berhasil menaklukkan tantangan kerja sehari-hari. Tangan dinginnya berhasil mengangkat perusahaan multinasional ini menjadi bintang pasar minuman di Indonesia. Saat itu, sejalan perkembangan pesat perusahaan ini, namanya berganti dari PBI (Perusahaan Bir Indonesia) menjadi PT MBI (Multi Bintang Indonesia). 

Saat mencapai keberhasilan puncak di MBI, tahun 1991, ia pun mendapat tantangan baru menjadi CEO di Bakrie Brothers. Tantangan itu ditangkapnya dengan nilai transfer satu milyar rupiah. Sejak itu ia digelari Manajer Satu Milyar. Manajer dengan nilai tertinggi pada masa itu. Namun pihak MBI tetap memintanya menjadi Non Executive Chairman di perusahaan itu. 

Di Bakrie ia kembali membuktikan kemampuannya sebagai manajer nomor wahid. Di sini ia melakukan turn around dengan melakukan restrukturisasi, profitisasi, dan akhirnya menjadi perusahaan publik. Dalam setahun ia telah berhasil meningkatkan keuntungan kelompok usaha Bakrie hingga 30%. 

Di tengah kesibukannya sebagai CEO, ia juga memegang banyak posisi senior non eksekutif di banyak organisasi kepemerintahan dan LSM seperti Komisi Pendidikan Nasional, Badan Promosi Pariwisata, Dana Mitra Lingkungan, Asosiasi Indonesia Imggris, Institut Asia-Australia, Yayasan Mitra Mandiri dan sebagainya. 

Lalu ketika pemerintah berniat melakukan pendayagunaan (restrukturisasi dan privatisasi BUMN), ia pun menjadi orang yang dinilai paling pantas (kompeten) untuk itu. Ia pun diangkat menjabat Menteri Negara Pendayagunaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Kabinet Pembangunan VII, kebinet terakhir pemerintahan Soeharto (1998). Di sini ia menakhodai 164 BUMN dengan 1.300 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang dengan nilai total mencapai kisaran Rp 500 triliun. 
Ia merasa enjoy dan sekaligus tertantang. "Selain merupakan sesuatu yang berat, tugas itu merupakan suatu kehormatan luar biasa karena saya termasuk dalam kabinet penuh tantangan," ujarnya kepada pers ketika itu. 

Setelah Presiden Soeharto lengser, digantikan BJ Habibie, ia pun tetap dipercaya di posisi yang sama dalam Kabinet Reformasi (25 Mei sampai dengan 13 Oktober 1999). Secara konseptual ia telah menggariskan langkah-langkah pendayagunaan BUMN demikian baiknya.
Kini ia lebih banyak mencurahkan waktunya untuk mengembangkan pemikiran dan pendidikan manajemen, termasuk penulisan buku manajemen. Tahun 2000, ia meluncurkan buku "Dari Meja Tanri Abeng: Managing atau Chaos", yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan.
Pada tahun 2004, ia menjadi Komisaris Utama PT. Telkom Indonesia. 

Tahun 2010 beliau menyelesaikan pendidikan Doktor dalam Ilmu Multidisiplin di UGM. Setelah lebih dari empat dekade malang melintang di perusahaan multinasional dan pemerintahan, tahun 2014 ia mendirikan Universitas Tanri Abeng di Ulujami, Pesanggahan, Jakarta Selatan. Dan pada awal 2012, ia menjabat sebagai CEO OSO Group yang bergerak dibidang pertambangan, perkebunan, transportasi, property, dan hotel.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel