Kesombongan Yang Membawa Petaka


Oleh: Ahmad Darojul Ali

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan Dosen Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Pengertian sombong, berarti menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Bila kebenaran ilahiyah ditentang, dikatakan Quran itu gak cocok untuk jaman sekarang, ia hanya asatiirul awwalin, cerita2 masa lalu, maka perlu reaktualisasi ayat2 al qur'an.
Dengan demikian kesombongan sedang bersemi dalam hatinya.
Lalu dalam melihat manusia, ia takar dalam dataran materi, status sosial, darah biru apa bukan.
Maka lengkaplah kesombongan disandangnya.

 Firaun refleksi kesombongan penguasa dimasanya, kebenaran yang dibawa Musa ditolak mentah2, dakwah Musa yang bertentangan dengan kekuasaannya dianggap Bughot, melawan pemerintahan yang sah.
Qorun, melihat manusia dalam dataran materi, kehormatan, kemulyaan, kewibawaan ditakarnya sejauh banyak materi bersama manusia itu.

Bal'am, tragis lagi, kader yang tak punya pendirian ilahiyah, yang penting selamat, yang penting urusan dirinya terselamatkan, ia bal'am jadi corong kekuasaan fir'aun yang sempurna.

Dalam refleksi sejarah, fir'aun, Qorun, Bal'am berakhir tragis, dan Musa yang tercatat tinta emas sejarah.

 Hadist Nabi yang populer seakan senyam dalam blantika materialistis, " sungguh Allah tidak melihat fisikmu yang ganteng, suaramu yang indah, atau kekayaanmu yang melimpah, kekuasaanmu yang luas. Allah hanya akan melihat kebersihan hatimu dan karya2 ( amalmu ). "

 Fafirru IlaAllah, berlarilah, kembalilah pada Allah, kembali pada Manhaj ilahiyah, tatanan yang adiluhung, jalan yang lurus.
" Hadza shirotul mustakim, fattabi'uuh wala tattabi'u subula fatafarroqo bikum ansabiilih.
Ini, jalan Allah, Al Qur'an ini jalan yang lurus, jangan engkau terpenjarakan, terbelokkan jalan yang lain, karna engkau akan jadi cerai berai.

Waallahua'lam.

Post a Comment

0 Comments