Kereta Barang


Oleh: Ahmad Darojul Ali

(Alumni Ponpes YTP, Kertsono dan Sekarang Dosen Univ. Ibnu Chaldun, Jakarta)

Tulisan ini sedikit semacam memori saya dikala masih di pesantren Kertosono.


Harianindonesiapost.com Tepat ba'da Maghrib, setelah sholat di Masjid Angkasa Halim Perdana Kusuma, saya pulang ke Matraman, sampai jatinegara, saya berhenti sebentar, tiba tiba ada Bapak bapak dan anak perempuan usia SD sekitar kelas 4.
Bertanya ke saya, Pak maaf, jalan arah ke stasiun kereta senen lurus ini ya Pak ?
Saya jawab , betul pak, naik aja mikrolet 01.
dia bilang, terimakasih Pak langsung jalan cepat sama anaknya.

Saya teriak, pak naik 01, tapi dia langsung angkat tangan bilang makasih pak.

Tiba tiba saya penasaran, saya ikuti bapak tadi ternyata jalannya cepat sudah sampai Berlan.
Saya tanya, pak mau kesenen ada apa ?
Dia bilang mau naik kereta barang, 
Saya bilang.
Kenapa gak dari jatinegara ?
Dia bilang gak mau pak kereta barangnya dari jatinegara ditumpangi.

Saya jadi tanya lagi,
Emang Bapak mau kemana ?
Mau ke jawa Pak ongkos kehabisan.

Karna jalanan Berlan penuh kendaraan, sy langsung tancap gas.
Sesampai Gramedia Matraman, saya berhenti pikiran saya berkecamuk.
Ini Bapak benar mau kesenen, kehabisan dana , tapi nekat banget kesenen jalan kaki ?
Tentu jatinegara senen sangat jauh.
Lalu saya balik arah nemuin Bapak tadi, pak, jangan jalan kaki kesenen jauh.
Ini sedikit untuk ongkos.
Bapak itu gak mau nerima, akhirnya saya bujuk, anaknya yang suruh menerima.

Saya husnudzon apa yang dialami Bapak dan anaknya tadi benar aja.
moga demikian adanya

Sesampai dirumah, sy jadi ingat ketika di pesantren kertosono, saya sering diajak sahabat sholihin ngepung Naik kereta barang dari kertisono menuju surabaya, untuk sekedar jalan jalan
Sambil saya menulis ini, saya geleng2 kepala, kenapa diusia itu saya begitu ambisius ingin tau surabaya dengan naik kereta barang ?🙏
Kemudian, saya juga sering pulang kekediri dari kertosono, sampai kota kediri kekampung saya adalah 21 kilo.
Mengapa saya sering jalan kaki jarak sejauh itu saya tempuh ketika itu.
Dan anehnya semua saya nekmati...

Moga  Bapak dan anaknya yang jalan kaki dari kampung melayu/jatinegara menikmatinya.
Masalahnya dia kan sudah sepuh, dan anaknya perempuan masih kecil.
Di usia sepuh itu, masih aja anak negri, yang susah pasah dalam mempertahankan hidupnya.

Allahuakbar..

Jakarta, 2 Nov 2109.

Post a Comment

0 Comments