Socialize

Cadar Dan Hijab Ala Pakaian Adat Suku Bima Zaman Baheula


Laporan: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Akhir akhir ini Cadar dan Hijab  lagi hangat dibicarakan masyarakat lndonesia, baik di media masa, jagad medsos mapun obrolan di warkop (public sphare) karena dianggap pakaian RADIKALIS, pakaian import dari gurun pasir dan bukan budaya nusantara serta bukan pakaian lslam.

Ketahuilah bahwa Islam mensyariatkan pakaian menutup aurat bagi para Muslimah seperti jilbab atau hijab Syar’i.  Tak disangka,  cadar dan hijab/jilbab yang seringkali diidentikan dengan budaya Arab dan dianggap RADIKAL ternyata sudah ada di Indonesia sejak zaman dahulu kala.

Budaya cadar dab hijab sudah ada di Nusa Tenggara Barat sejak masa kerajaan Islam. Bahkan menjadi tradisi dan budaya yang terus dilestarikan hingga sekarang. Budaya tersebut tercermin dalam pakaian adat mereka yang bernama RIMPU.


Dilansir dari laman Budaya Nusantara, satu set Rimpu terdiri dari dua bagian, sebagai penutup kepala sampai perut dan penutup perut sampai kaki (seperti rok perempuan pada umumnya). Pakaian adat tersebut dikenakan para Muslimah Bima dan Dompu ketika keluar rumah.

Ada 2 jenis Rimpu, yaitu Rimpu Mpida dan Rimpu Colo. Rimpu Mpida adalah Rimpu yang ada cadarnya, menutupi wajah, diperuntukan bagi yang belum menikah. Sedangkan Rimpu Colo adalah Rimpu yang tiada cadar (terbuka wajahnya), dikenakan oleh ibu-ibu atau mereka yang sudah menikah.

Rimpu menggunakan sarung khas Bima (Tembe Nggoli) yang terdiri dari 2 lembar (dua ndo`o) sarung. Kedua sarung tersebut untuk bagian bawah dan bagian atas.

Sarung yang dipakai ini dalam kalangan masyarakat Bima dikenal sebagai Tembe Nggoli (Sarung Songket). Kafa Mpida (Benang Kapas) yang dipintal sendiri melalui tenunan khas Bima yang dikenal dengan Muna.

Sarung songket memiliki beberapa motif yang indah. Motif-motif sarung songket tersebut meliputi nggusu waru (bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli (yang bahan bakunya memakai benang rayon).

Ternyata budaya hijab pada pakaian adat Rimpu itu indah dengan keragaman motifnya, ya. Perpaduan unik antara budaya Indonesia dengan syar’at Islam yang kuat.

Rimpu menunjukkan jati diri bangsa tanpa meninggalkan identitas Islam.


Masyarakat Bima yang banyak berpakaian Rimpu adalah Suku Dou Mbojo, adalah salah satu suku yang paling banyak bermukim atau mendiami wilayah Kota Bima dan Kabupaten Bima (NTB).
Dan Kabupaten Bima merupakan sebuah wilayah dengan kondisi geografis dataran rendah, sedangkan kondisi tanah di wilayah Bima ini tergolong berbeda-beda hal ini tercermin pada kondisi tanah yang subur berada di sebelah utara kota Bima, sedangkan yang di sebelah selatan tanahnya tandus dan tidak subur, kendati demikian masyarakat suku Bima justru banyak yang bermukim di wilayah dekat pesisir pantai.

Orang-orang suku sering juga di sebut dengan istilah “oma” yang artinya berpindah-pindah, penduduk suku Bima juga memiliki kebiasaan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain atau ada juga yang menyebutnya dengan istilah “nomaden”.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel