Socialize

Sang Ketua MPR Terpilih


Prof. Dr. H. Daniel Mohammad Rosyid

(Mantan Ketua Dewan Pendidikan Jatim, Mantan Dewan Pakar Jatim dan Mantan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Cabang Surabaya)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiaposy.com Pada pidato pertamanya selaku Ketua MPR terpilih, Bambang Soesatyo, mengatakan bahwa banyak pemuda yang kini lebih menyukai ideologi lain selain Pancasila. Untuk pidatonya ini, saya akan memberi catatan. 

Pertama, dalam prinsip pendidikan, *tidak ada yang salah pada anak didik. Yang salah, jika bukan orang tuanya, pastilah gurunya*. Anak itu hanya meniru sikap dan tingkah laku orang tua dan gurunya. Dalam konteks ini, guru adalah orang yang memberi contoh. *Setiap pemimpin yang efektif adalah guru*. Makin tinggi jabatan pemimpin, makin besar dampak teladan sikap dan perilakunya. Jadi, siapa yang seharusnya disalahkan jika banyak pemuda lebih suka ideologi liberal ?

Kedua, semoga ini dipahami oleh Ketua MPR, sejak proklamasi kemerdekaan, praktis *Pancasila gagal diwujudkan oleh pemimpin-pemimpin negeri ini*. Sejak Perang Dunia II selesai yang melahirkan _Pax Americana_, lingkungan internasional  semakin nekolimik yang tidak pernah  menghendaki Pancasila diwujudkan melalui penerapan pembukaan dan batang tubuh UUD45 dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik ini. *Ekonomi kita segera dibajak oleh IMF sehingga praktis kita hidup dalam sistem ekonomi liberal ribawi*. Jadi, kehidupan liberal inilah yang mendidik anak muda Indonesia hingga hari ini. Bahkan *melalui amandemen UUD45 menjadi UUD2002, model kehidupan liberal itu sekarang konstitusional*. 

Ketiga, dalam kehidupan politik, kita jauh lebih liberal dari kampiun demokrasi sekalipun, yaitu AS. *Pasar politik kita dimonopoli oleh partai politik, persis seperti pasar pendidikan kita dimonopoli oleh persekolahan* sebagai instrumen budaya liberalisasi. Warga negara tidak bisa berpolitik tanpa partai politik seperti warga yang tidak pernah sekolah dianggap tidak kompeten. Tidak sekolah langsung dianggap kampungan. Bahkan akhir-akhir ini banyak anggota Parlemen mengejar gelas doktor _honoris causa_, bahkan profesor padahal hanya sesekali datang ke kampus. 

Saat Presiden BEM UI tidak lama ini di dalam Gedung DPR/MPR Senayan mengatakan bahwa *mahasiswa sudah tidak percaya lagi dengan parlemen*, ini hanya menegaskan gejala bahwa parlemen berjalan sendiri semakin jauh dari aspirasi rakyat, serupa dengan gejala  persekolahan yang makin asing dari kebutuhan murid dan dunia nyata di sekitar sekolah. Sama persis dengan gejala Perguruan Tinggi makin menjadi menara gading yang terobsesi oleh _world class ranking_. 

Keempat, *sistem MPR yang diamanahkan  oleh UUD45 sudah dikebiri sejak diamandemen menjadi UUD2002*. Kini, melalui pemilihan langsung, MPR bukan lembaga tertinggi negara. *Presiden bukan mandataris MPR, tapi petugas partai*. MPR hanya sebuah sesi sidang saat DPR bersama DPD menentukan legislasi. Melalui pilkada dan Pilpres langsung ini, siapapun bisa terpilih menjadi presiden, gubernur, bupati atau walikota. Rata-rata pemilih tidak mengerti bagaimana menentukan pilihan, bahkan peneliti Oxford baru-baru ini menegaskan bahwa banyak pemerintah dan partai politik memanipulasi opini pemilih melalui berbagai teknik semburan kebohongan untuk mendiskreditkan lawan politik. 

Di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang makin liberal ini, maka pernyataan Bambang Soesatyo dan _glamourous body languages_ para anggota DPR dan DPD bahwa pemuda kita makin menyukai ideologi lain selain Pancasila adalah gema yang kembali ke  seluruh ruangan Gedung Parlemen di Senayan. Di luar gedung itu, pernyataan itu hanya _hoax_ saja. 

Gunung Anyar, 4 Oktober 2019

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel