Islamiyyun dan Muslim


Oleh: Prof. Dr. H. Daniel Mohammad Rosyid

(Mantan Ketua Dewan Pendidikan Jatim, Mantan Ketua Dewan Pakar Jatim dan Mantan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Cabang Surabaya)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Dakwah Islam pasca Proklamasi di Indonesia boleh dibilang gagal. Salah satu sebabnya adalah asumsi bahwa _muslimun_ di Indonesia adalah mayoritas. Padahal jumlah kaum muslimunnya tetap minoritas, yang bertambah jumlahnya itu adalah kaum _islamiyyun_ atau kaum _islamists_. Dakwah Islam pasca era Wali Songo dikalahkan secara telak oleh kampanye penjajah yang disebut *westernisasi* atau *sekulerisasi*, terutama melalui *persekolahan*. Kaum _islamiyyun_ adalah kaum sekuler. Mereka mungkin pergi ke masjid untuk sembahyang, atau pergi umrah atau haji ke Mekkah, tapi *hidup nyaman dalam sistem ekonomi ribawi* yang jelas-jelas diharamkan oleh Islam. Banyak Ormas seperti Muhammadiyah atau NU menyikapi bahwa *situasi ribawi ini adalah situasi darurat*. Jika darurat koq dibiarkan berlarut-larut bahkan berpuluh tahun sejak proklamasi ? 

Kaum _Islamiyyun_  mayoritas yang lazimnya _politically naive_ akhir-akhir ini ditakut-takuti untuk mengurangi ekspresi Islam mereka agar tidak dituding radikal atau intoleran. Kebangkitan *Islam politik* dituding sebagai kebangkitan politik identitas yang dinilai sebagai kemunduran demokrasi. Kaum _muslimun_ minoritas tidak mudah diintimidasi seperti itu. Mempraktekkan semua ajaran Islam itu ongkos yang dibutuhkan untuk membeli iman, tanpa harus menjadi intoleran. Kaum _muslimun_ bisa bertransaksi ekonomi dengan siapapun, hidup berdampingan secara damai dalam lingkungan yang majemuk,  tapi merasa berhak memperjuangkan sistem ekonomi _zakaty_ yang _fair and just_, bebas riba. Semua ajaran agama _Abrahamic_ (Islam, Kristen, Yahudi) mengharamkan riba. Riba tidak saja merusak alam, tapi memiskinkan manusia secara material dan mental. Sangat merusak. 

_Islamiyyun_ adalah istilah yang digunakan oleh Imam Abu Hasan Al Asyari yang membedakannya dengan _muslimun_. Setiap Jumat, khotib Jumat hampir selalu menyeru pada orang-orang beriman untuk bertaqwa dan tidak mati kecuali dalam keadaan _muslimun_. Sebab jika tidak hidup sebagai _muslimun_, dipastikan orang-orang beriman itu bangkrut : miskin, terjajah, dan korup. Islam itu ongkos yang harus dibayar lunas oleh orang-orang beriman untuk memperoleh kehidupan yang layak dan bermartabat dalam lingkungan yang majemuk. 

Istilah _kaafirun_ berlaku untuk orang yang memahami Islam (orang yang tidak pernah mempelajari Islam tidak layak disebut _kaafir_, tapi cukup disebut _jaahil_ atau _ignorant_ saja) tapi bersikeras hidup menentang Islam, terutama karena akan menggangu kemapanan ekonomi ribawinya. Kaum _kaafir_ akan senang hidup bersama kaum _islamiyyun_. *Alasan utama orang menjadi kaafir karena alasan ekonomi, bukan alasan teologis*. 

Sukolilo, 4/10/2019

Post a Comment

0 Comments