CATATAN DARI BANDUNG:


​"Pengalaman Mempresentasikan Makalah di Acara Pertemuan Ilmiyah Internasional Bahasa Arab dan Muktamar IMLA di UNPAD Bandung 16-18 Okt. 2019."

Oleh: Hamim Thohari Al-Lamunjaniy As-Sanjatawiy Bin Supriadi Bin Daiman Al-Lamunhaniy

Editor: Sudono Syueb
​Harianindonesiapost.com Bagi sebagian orang dari kalangan akademisi,  mempresentasikan makalah dan karya ilmiyah adalah hal yang biasa-biasa saja. Bagi saya,  yang biasa tampil berceramah di depan publik,  semestinya juga menganggapnya begitu. Akan tetapi, untuk pengalaman kali ini,  saya harus mengatakannya berbeda.
​Bermula dari info dari seorang teman tentang penyelenggaraan "Pertemuan Ilmiyah Internasional Bahasa Arab ke-12 dan Muktamar Persatuan Guru2 Bahasa Arab ke-6" di UNPAD Bandung,  gairah saya untuk menulis makalah ilmiyah berbahasa Arab tiba2 bangkit kembali. Dalam pertemuan itu,  ada undangan bagi siapa pun untuk mempresentasikan makalahnya terutama yg terkait dg tema Multaqa dan Muktamar tersebut.
​Hampir 15 tahun lebih saya tidak pernah menulis makalah berbahasa Arab. Akan tetapi begitu mengetahui undangam tersebut,  saya tiba2 ingin ikut, bahkan harus bisa menjadi salah satu pemakalah. Entah kenapa keinginan itu begitu kuat,  padahal saya baru tahu infonya sehari sebelum batas akhir penyerahan makalah. 
​Saya langsung menghubungi panitia dan minta diberi waktu maksimal 5 hari untuk menulis makalah. Panitia mengizinkan,  namun alhamdulillaah,  di sela-sela kegiatan yg lumayan padat makalah sederhana setebal 35 halaman  bisa saya selesaikan dalam dua malam. Berkat taufiq Allah dan dorongan keinginan yang begitu membuncah. 
​Pertanyaannya, apakah sekedar ingin menulis dan ingin tampil di depan publik ilmiyah sampai seperti itu ambisinya?? Mudah2an bukan sepicisan itu, melainkan yg paling penting adalah saya ingin mendapatkan kritik, saran dan pandangan ilmiyah dari pakar bahasa Arab -- dari berbagai negara seperti: Arab Saudi,  Yaman,  Turki,  Sudan, Mesir dan Maroko -- terhadap tulisan saya berupa nazhom syair tentang adab dan prilaku santri,  berjudul "Jauharut Thohari fii Adabi Santri,  Daliilus Suluuk was Sairi."
​Saya memandang acara multaqa ilmi internasional ini sebagai momentum paling tepat untuk mendapatkan pandangan ilmiyah yg kredibel terhadap sebuah karya bermuatan ilmu dan adab yg hendak dijadikan sbg materi ajar kepada santri2 di pesantren yg tengah kami rintis sejak 4 tahun yg lalu. 
​Begitu hadir dalam ruangan muktamar,  dan melihat pesertanya yg membludak dari kalangan guru, dosen dan pakar bahasa Arab hampir dari seluruh universitas besar di Indonesia (tidak hanya dari universitas2 islam saja) dan para panelis dari negara2 Timur Tengah dengan gelar2 akademisinya yg moncer dan prestisius,  saya sedikit agak keder. Bagaimana tidak seorang guru ngaji pengasuh pesantren gurem di bawah kolong langit dengan kemampuan bahasa Arabnya yg belum teruji di forum ilmiyah seperti itu, harus mempresentasikan tulisan tergesa-gesanya di hadapan para honorable doctors.
​Tapi dg tujuan dan keinginan tadi saya mencoba untuk tetap tatag. Hari pertama -- dari 3 hari penyelenggaraan -- saya berusaha berkenalan dengan para pakar baik dari dalam negeri mau pun luar negeri. Saya manfaatkan untuk bertukar fikiran,  kadang2 saya berkesempatan untuk mendiskusikan tentang isi makalah dan gagasan saya tentang bagaimana syair2 adab itu bisa mempengaruhi pembentukan karakter santri.
Sebab, ​makalah saya dilatarbelakangi oleh "asumsi" bahwa syair2 adab itu punya pengaruh terhadap prilaku dan sikap budipakerti seseorang. Setidaknya ada tiga alasan atas "keberanian berasumsi" demikian:
​Pertama:​ Orang yg menguasai bahasa Arab dengan ilmu alatnya: nahwu,  shorof,  apalagi ilmu balaghoh, badi' dan maaninya adalah orang cerdas. Bagaimana tidak kata Allah yarham kyai saya,  K.H. Mustain Kastam Pesantren YTP Kertosono,  "Orang yang mampu membaca memahami bahasa itu pasti orang cerdas. Sebab membaca naskah Arab itu tidak sekedar faham makna kosa katanya,  tapi juga harus mengerti i'rabnya (posisi kata dalam kalimat). Dan, ini membutuhkan kejelian dan kecerdasan.
​Kedua: Orang yg memiliki kemampuan berbahasa Arab yg tinggi (bahkan bahasa apa pun) akan memiliki sikap dan prilaku yg berkeadaban. Ia tidak akan bertutur kata sembarangan,  pilihan kata dan diksi yg digunakannya dalam bertutur dan bertulis akan sangat diperhatikan. Tidak asal bunyi (asbun). Hal ini tentu saja mempengaruhi adab kesopanannya dan body language-nya. Sederhana saja,  orang Jawa atau Sunda yg mampu berbahasa halus (krama inggil) akan jauh berbeda sikap dan tatakramanya dg orang yang berbahasa rendah (ngoko /krama andap).
​Ketiga: Orang yang menguasai bahasa Arab yang tinggi (bahasa apa saja) akan memiliki kepercayaan diri yang baik, menjadi pribadi komunikatif dan penengah yang baik. Kenyataan ini telah diyakini kebenarannya sejak dahulu. Terbukti, cara2 diplomatik selalu menjadi pilihan terbaik untuk penyelesaian perkara. Dan tentu saja membutuhkan komunikator yang handal dalam berbahasa,  tentu saja itu adalah nilai plus setelah kapasitas keilmuan seseorang. 
​Inilah gagasan sederhana yg coba saya ketengahkan dalam presentasi di acara bergengsi tersebut. Apakah tujuan saya tercapai? Jawabannya bisa iya dan bisa tidak. Jujur saat presentasi makalah, tujuan saya di atas tidak terpenuhi. Dan ini sudah saya duga sebelumnya,  bagaimana tidak,  pemakalah yg membludak dan waktu yg amat sangat terbatas,  meskipun sdh dibagi dalam komisi2 kecil,  tetap saja tidak cukup untuk menjadi forum diskusi ilmiyah yang tuntas. Beruntungnya,  saat saya mempresentasikan makalah,  saat itu juga diobservasi oleh Dr. Muhammad Al-Qohthaniy dari Universitas King Kholid,  Saudi Arabia. Sekaligus beliau berkenan memberi komentar dan dorongan untuk penyebarluasan nazhom syair saya ke Universitas2 di dalam dan luar negeri. Di samping itu,  ada sedikit beda dari pemakalah lain -- wa laa fakhra -- presentasi saya sedikit menghibur dan menarik karena nazhom syair saya yg berbahar rajaz saya lagukan bahkan beberapa hadirin merekamnya.
​Namun saya juga harus memberi jawaban "iya", setidaknya itu bisa saya peroleh dari berinteraksi,  berkenalan dan berdiskusi dengan para peserta. Saya bisa "mencuri-curi" ilmu mereka. Dan,  pelajaran terpenting selama berinteraksi dg para ahli bahasa Arab adalah saya bisa menikmati, entah sampai kapan,  sebagai katak yang keluar dari tempurung. Bahwa ilmu -- khususnya di bidang bahasa Arab -- sungguh sangat luas,  sisa-sisa usia ini tidak akan cukup untuk menambahkan walau "sekuku irengnya" para dakaatir ahli bahasa Arab yg hadir. Namun saya bersyukur,  setidak-tidaknya saya telah mencoba untuk mempersiapkan kemungkinan pertanyaan di akhirat nanti,  "Allah telah menganugerahkan akal,  sejauh mana Kamu telah menjaga dan mengoptimalkannya??" nas'alullaahal 'afwa wal'aafiyah walhamdulillaahi rabbil 'aalamiin.
Jum'at, 18 Oktober 2018,
​​KA Ceremei BANDUNG - SEMARANG
​al-Faqir ila Luthfil Baariy

​​HAMIM THOHARI AL-LAMUNJANIY AS-SANJATAWIY BIN SUPRIADI BIN DAIMAN AL-LAMUNHANIY

Post a Comment

0 Comments