Bahagia Berumah Tangga


Oleh: Qudrotul Bahiroh

(Ustadzah di Ponpes YTP, Kertosono, Jatim)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Dulu, sebelum menikah saya sering sekali galau. Mungkin itu yang membuat badan ini tidak bisa berdanging. Karena kegalauan membuat enggan untuk melahap makanan. 

Saat itu ingin sedikit lebih gemuk, namun terasa sangat sulit. Padahal selalu minum susu dan kadang-kadang juga vitamin B-Complex.

Penasaran siapa gerangan jodoh yang dipersiapkan oleh Tuhan. Apakah si A, si B ataukah yang lain. Satu prinsip yang tak pernah dilepas, menjaga pergaulan. 

Karena Allah SWT berjanji orang yang baik hanya untuk yang baik. Kalau saya berada dalam kemaksiatan, maka tak bisa berharap mendapatkan pendamping seorang yang berada dalam ketaatan.

Saat kenyataan sudah mengerucut bahwa jodohku adalah Si Ganteng yang memakai baju merah dalam foto ini, maka di situ saya belajar mencintai. Karena cinta membuat kita rela berbuat apa saja. 😄😄😄

Pengorbanan yang terlihat berat oleh orang lain, tidak berlaku untuk orang yang memiliki rasa cinta. Penting bagi seorang suami/isteri mencintai belahan jiwanya. 

Dengan cinta akan lahir penghormatan, kerelaan berkorban, keterbukaan, kerinduan, kekhawatiran akan rasa sakit pada pasangan, keasyikan berinteraksi dan sederet hal baik lain. 

Inilah mungkin penyebab kenapa diri ini perlahan naik berat badannya setelah menikah. Kegalauan sama sekali hilang. Tidak butuh lagi buku diary yang tebal, karena suami sudah bisa menampung semuanya. Tidak butuh lagi vitamin penambah nafsu makan, karena semua sudah terasa nikmat.

Ada patner dalam suka maupun duka. Ada yang menghargai sebuah tawa dan menyeka air mata. Ternyata janji Tuhan itu luar biasa.

Hakikatnya manusia hanya melakoni ketentuan dari-Nya. Tentang siapa jodoh kita, cukuplah menjadi urusan-Nya. Tugas kita hanyalah menjaga-Nya. Sebagaimana pesan Sang Nabi kepada Ibnu Abbas:

احفظ الله يحفظك، احفظ الله تجده تجاهك، فاذا سألت فاسأل الله واذا استعنت فاستعن بالله....

Kertosono, 28 Oktober 2019
Habis belajar Nahwu bersama anak-anak 1 Pi a (Kelas Tahfidz Puteri)

Post a Comment

0 Comments