SENSASI DEMO


A. Khoirul Anam

Dosen UNUSIA Jakarta

Efitor:  Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Saya iseng menanyakan beberapa mahasiswa UNUSIA yang ikut demo, aspirasi apa yang akan disampaikan? Jawaban mereka beragam. Sebagian menolak beberapa RUU seperti KPK, KUHP, agraria dan minerba. Mereka mendukung RUU PKS. Beberapa mahasiawa tidak update mana RUU yg disahkan dan mana yang ditunda pengesahannya. Lalu hanya satu mahasiswa yg tahu ada RUU pesantren, itu pun dia hanya tahu sebagian isinya dari medsos. Referensi mereka menerima dan menolak RUU semua dari medsos dan pembicaraan di warung kopi. Tidak banyak yang mencermati ayat yang ditolak yang mana dan yang diterima yang mana dan bagaimana argumentasi hukumnya.

Saya tadi bercerita tentang mahasiawa UNUSIA Jakarta yang kampusnya berjarak tidak jauh dari istana negara dan gedung DPR RI. Sebagian dosen mereka adalah komisioner dan para ahli di bidang khusus. Mereka juga sering mengikuti kuliah umum bersama menteri dan sebagian aktivisnya banyak kenal dengan anggota DPR. Kalau mahasiswa UNUSIA saja begitu, mahasiswa kampus lain mungkin juga sama. Beberapa mahasiswa UNUSIA juga berangkat berdemonstrasi dengan niat peringatan hari tani sesuai arahan senior.


Demonstrasi mahasiswa kemarin sangat tidak fokus isunya. Dari beberapa poster/tulisan yang dibawa oleh mahasiswa, terlihat banyak yang sekedar meramaikan demostrasi, sekedar berpartisipasi. Bobot tuntutannya juga tidak berat dan mengambang karens terlalu banyak isu yang beredar. Berkaitan dengan RKUHP, sebagian malah mengurusi kenakalan mereka sendiri, urusan kebebasan seksual. Kalimat-kalimat yang mereka tuliskan juga tidak simpatik, main2 dan lucu-lucuan tapi serius, tidak berurusan dengan Rakyat (dengan R besar). Yang terakhir ini tentu saya tidak membicarakan mahasiswa UNUSIA.

Beruntunglah mahasiswa yang "menangi" demostrasi di era 1997-2002. Sebagaian mereka adalah wakil rakyat sekarang ini. Dulu, jika mereka menuntut, tuntutannya pun sangat mengena hati. Kalaupun mereka berkelahi dengan aparat, perkelahian itu adalah perkelahian mewakili rakyat. Kalau mereka menjebol pagar, atau menyetop kendaraan di jalan raya, itu bukan sekedar mencari sensasi, sebagai bahan cerita di kelas di sela jam kuliah. Lebih dari urusan sensasi.

Kalau boleh usul, yang diperlukan sekarang adalah mahasiswa yang mengawal satu isu khusus, direkomendasikan pilih yang terkait dengan bidang studinya atau berkaitan dengan urusan yang dialami masyarakat sekitar/komunitas sehingga benar2 dialami sendiri. Dia mengupdate perkembangannya, dan mencari ruang-ruang yang bisa dimanfaatkan untuk mendesak aspirasi. Syahdan, demonstrasi diperlukan kadang-kadang saja, dan sebagian demonstrasi hanyalah main-main, seperti waktu bermain teater. Jika tujuannya hanya publikasi, wartawan di zaman akhir ini juga tidak selalu menulis berita dari jalanan yang panas dengan bau knalpot. Aspirasi mahasiswa bisa didesakkan lewat banyak saluran.

Post a Comment

0 Comments