Socialize

Kunti: Watu Ijo (9)


Oleh: Choirul Aminuddin

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Punggung Sarjan masih bersandar ke salah satu gundukan batu kali yang berdiri kokoh di pinggir sungai. Tubuhnya melekat kuat seperti perangko yang lengket dengan amplop putih bergaris merah biru. Selain kelelahan akibat terjerembat ke tanah lempung, Sarjan ingin berlama-lama dengan batu kali itu. 

Sarjan merasa jiwanya damai jika bersandar pada batu kali itu kendati hatinya meradang keras. Dia memiliki memori yang sulit dilupakan dengan tiga gundukan batu kali tersebut. Ketiganya diberi nama oleh Sarjan: Watu Ijo, Watu Abang dan Watu Ireng. Nama masing-masing batu itu memiliki makna tatkala Sarjan duduk di bangku sekolah dasar, sehingga dia menamakannya seperti itu.

Bagi Sarjan, Watu Ijo punya kesan paling kuat bila dibandingkan dengan dua batu lainnya: Watu Abang dan Watu Ireng. Sebab kedua batu ini tak memiliki cerita kecuali warnanya yang kemerahan dan kehitaman akibat ditempa sinar matahari.

Watu Ijo dalam bahasa Indonesia artinya Batu Hijau atau orang Jawa menyebutknya dengan istilah lebih halus yakni Selo Ijem . Menurut penglihatan Sarjan, benda yang sesungguhnya berwarna keabu-abuan itu selalu mengeluarkan warna hijau setiap diinjak oleh seorang gadis kecil yang mengaku bernama Kunti. Bahkan setiap Kunti naik ke bagian atas batu, Watu Ijo menyambutnya dengan sinar hijau kerkilau-kilau.

“Sejurus kemudian, sinar hijau yang keluar dari batu itu menjulang ke arah langit berwujud gadis sebagaimana wajahmu, Kunti,” tulis Sarjan di buku harian bagian depan.

Bila ditanyakan kepada warga desa mengenai cerita Watu Ijo, mereka pasti geleng kepala karena tidak paham. Apalagi kalau ditanyakan asal usulnya. Namun sebaliknya, seandainya pertanyaan itu disodorkan kepada Sarjan, maka penanya akan mendapatkan penjelasan gamblang, termasuk hikayat batu tersebut.

Dalam salah satu catatan bukunya yang bersampul grup musik Koes Plus, Sarjan pernah menulis dua halaman penuh perihal batu hijau, inti tulisannya begini, “Watu Ijo bukanlah sembarang batu. Batu yang sekarang berada di pinggir Kali Dawa itu memiliki kekuatan yang tak dimiliki oleh benda manapun untuk menangkis energi negatif. Benda tersebut berada di tepi sungai setelah terseret longsor tanah dari lereng puncak Gunung Deret saat hujan lebat. Ketika turun dari bukit terjal, Watu Ijo mengeluarkan 
cahaya berkilat-kilat warna hijau tua. Selanjutnya berubah menjadi hijau muda disusul hijau pupus seperti daun pisang muda yang suka menari-nari di pinggir kali.”

Barangkali cerita itu sulit dipahami oleh orang-orang yang berpikiran rasional. Demikian pula bila didengar oleh Bolu, wartawan yang selalu menggunakan logika perpikir. Hikayat Watu Ijo bakal menjadi bahan tertawaan banyak orang, apalagi yang menyampaikannya Sarjan. 

Meskipun berlatar berlakang pendidikan Barat, Sarjan dianggap nyleneh oleh lingkungan dan teman-temannya karena suka mengaitkan sebuah peristiwa dengan mahkluk ghaib yang diakui pernah dijumpai. 

“Kang Sarjan itu orang aneh, masa benda mati bisa mengeluarkan warna hijau, apalagi bisa menyembuhkan orang sakit,” ujar Mursid, warga desa yang tinggal tak jauh dari Kali Dawa.

Di  bagian lain dalam tulisannya, Sarjan membuat diskripsi Watu Ijo lebih panjang. “Mengapa air Kali Dawa sepanjang sejarahnya tak bisa meluber, membanjiri seluruh persawahan di desa kita? Penyebabnya tak lain dan tak bukan karena Watu Ijo berdiri kokoh di tepiannya. Bila Watu Ijo tak menjaganya, aku tak yakin warga desa di sini selamat dari amuk air bah. Seluruh desa akan tenggelam oleh luapan air Kali Dawa. Aku yakin seribu persen,” Sarjan menulis kalimat itu dengan spidol warna hijau di bukunya.

Mengenai Kali Dawa cerita Sarjan bisa jadi benar. Jika pada musim hujan, air sungai ini dipastikan meluap hingga seukuran tangkis. Kondisi ini membahayakan penduduk desa karena bila ada tangkis yang menjadi penghalang sungai itu tergerus air sungai, seluruh wilayah desa dipastikan kelelap.

Selain itu, di sepanjang pinggiran Kali Dawa sudah tak ada lagi pepohonan rindang: trembesi, rumpun bambu, beringin dan pohon waru yang menjadi tempat Sarjan kecil berlompatan ke sungai. Penebangan tanpa ampun oleh penduduk desa terhadap pelindung tangkis itu mengakibatkan erosi. Warga desa tak paham dengan konservasi sehingga mereka seenaknya menebang pohon dengan alasan untuk bikin rumah atau kayu pohon trembesi itu dijual ke tauke yang buka toko bahan bangunan di ujung desa.

Apapun kata orang mengenai cerita Watu Ijo, bagi Sarjan, tak dipedulikan. “Aku ini seperti khafilah yang tetap berlalu kendati banyak anjing mengonggong. Aku yakin, Kunti segera berada di sisiku, menemaniku untuk berbagi rasa di atas punggung Watu Ijo.”
 _berlanjut_

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel