Socialize

Kunti: Musala Panggung (10)


Oleh: Choirul Aminuddin

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Kunti tetap tak menampakkan wujud hingga kantuk Sarjan menghantam kedua kelopak matanya, suaranya pun tak terdengar. Dia membisu tanpa sepotong kata. 

Keinginan Sarjan agar tambatan hati, tempat dia melabuhkan rasa terancam pupus kendati berbagai cara telah dia lakukan. Sarjan hampir saban waktu berdoa, meminta pertolongan orang pintar di kaki Gunung Deret, hingga membakar kemenyan dan kembang tujuh rupa kesukaan Kunti. Tetapi seluruh usaha kerasnya itu seperti upaya dia melukis langit.

Meskipun begitu, Sarjan tetap berharap Kunti segera muncul, setidaknya menyapanya dengan suara lembut sebagaimana dilakukannya saat kunang-kunang berterbangan di antara ilalang-. _“Mas…Mas Sarjan”_

Sesaat kemudian, asa yang digantung Sarjan di atas awan berlapis itu tiba-tiba buyar bersamaan dengan kumandang azan subuh Mukri dari corong suara Musala Panggung. Seketika itu pula asap putih yang muncul dari Watu Ijo berwujud mirip manusia berkelamin wanita perlahan-lahan sirna dari pandangan matanya.

Semula, Sarjan terkesiap menyaksikan benda sewarna dengan kapuk randu keluar tanpa aba-aba dari punggung Watu Ijo. Jakun di lehernya naik turun, pipinya terasa menebal, mukanya seperti ada yang mencabik-cabik, sementara detak jantungnya turut berpacu cepat layaknya usai melakukan lari _sprint_.

Benda itu seperti menggeremet mulai dari ujung jari kaki, betis, paha, disusul ke lekuk tubuh, serta ke leher mulai menghilang. Terakhir bentuk kepala yang dibungkus rambut hingga di atas bokong lenyap terbawa angin menuju arah selatan. 

Panggilan muazin Mukri _assalatuhairumminanna’uum_ membuat asap yang berbentuk mirip tubuh wanita dewasa itu semburat tanpa bekas disertai suara lirih yang hanya bisa dimengerti oleh Sarjan dan Kunti. 

Sarjan terpekur dengan topangan kedua lututnya di tepi Kali Dawa. Dia tak sanggup membuka mulut untuk meletupkan kata. Hatinya teriris sembilu, terasa perih setelah dia menyaksikan kejadian yang menjadi perlambang Kunti tak mungkin kembali.

 “Kunti, inikah pertanda perpisahanmu denganku?”

Suasana senyap. Aliran sungai Kali Dawa yang biasanya deras akibat luberan air dari hulu, kali ini, berhenti bergerak. Jangkrik tak mau memamerkan keriknya, kodok hijau dan ular sawah tak bergeming. Demikian pula kunang-kunang enggan mempertontonkan kerlap kerlipnya. Semuanya stop.

Sarjan membasuh mukanya dengan air Kali Dawa berwarna kecoklatan. Selanjutnya berkumur dan membersihkan kedua lengan tangannya hingga ke siku, kepalanya dibasahi, disusul mencelupkan kakinya ke pinggiran sungai.

Suara azan Mukri menjadi penuntun Sarjan menuju Musala Panggung untuk meninggalkan Watu Ijo, tempat dia mengalami beragam peristiwa batin. Meskipun situasi gelap gulita tanpa penerang, kondisi itu tak menghalangi Sarjan merapat ke arah sumber suara. Dia tak menghitung berapa kali kesandung batu atau terjerembab ke dalam parit. 

Tumitnya berdarah deras akibat menginjak pecahan beling tak dihiraukan. Gelora di jiwanya menyala ketika lentera yang menerangi Musala Panggung tampak kian jelas. Derap kakinya terus melangkah setelah surau tersebut terlihat dari jarak sekitar 100 meter.

“Aku harus tiba Musala Panggung sebelum para jamaah berdiri salat subuh. Ya Tuhan berilah aku kekuatan untuk salat sunah rawatib di rumahMu. Perkenankan aku mendekatiMu. Aku ini lemah, ya Tuhan tidak ada kekuatan kecuali di tanganMu,” Sarjan berkata dengan suara parau.

Ketika langkah Sarjan mulai mendekat pekarangan Musala Panggung, seorang ustadz yang akrab dipanggil Datuk Amat berdiri di atas teras surau. Datuk bergamis putih sengaja menyambut kedatangan Sarjan setelah tersiar kabar bahwa dia tersaruk oleh bisikan ghaib sehingga bertingkah aneh.

Datuk bermaksud ingin konfirmasi mengenai kebenaran kabar burung tersebut. Bila benar, Sarjan akan diru’yah untuk menghilangkan pengaruh ghaib agar tingkahnya kembali normal seperti perilaku sebelumnya.

“Assalamualaikum Datuk. Saya Sarjan, ingin numpang salat subuh di Musala Panggung mohon diperkenankan,” ucap Sarjan.
  
“Walaikumsalam, tafadhol anak muda. Silahkan, bersihkan dulu dan sucikan dirimu dengan air wudu di sebelah sana sebelum salat.”

“Terima kasih, Datuk.”

“Selepas salat, saya ingin berbicara denganmu. Sekarang, mari kita salat berjamaah dengan para makmum lainnya.”

“Iya Datuk.”

Usai salat dan zikir bersama, Datuk mengajak Sarjan ke bilik di sebelah kanan musala untuk membicarakan masalah isu jin yang menggoda warga desa, termasuk Sarjan.

“Saya dengar kabar, mungkin ini tidak benar, mengenai dirimu yang dianggap tidak normal oleh warga desa. Mereka mengatakan kamu tergoda oleh jin atau kuntilanak yang suka gentayangan di wilayah kita. Bagaimana menurutmu?

Akibat godaan itu, kamu dilihat oleh banyak orang berbicara sendiri, tertawa sendirian di bawah pohon beringin. Bahkan mereka pernah mendengar kamu berteriak kegirangan seperti orang yang sedang jatuh cinta. Benarkah anak muda?

Sementara mereka tidak melihat lawan bicaramu. Siapa yang kamu ajak bicara di tempat gelap itu. Warga sangat takut kamu berteriak sendirian, mereka menganggap kamu ketempelan jin.”

“Begini Datuk…”

Sarjan belum selesai menjawab pertanyaan, Datuk langsung menyambar, “Jika dugaan warga desa itu benar, saya ingin tawarkan kepadamu, maukah jin yang merasuk dalam dirimu saya keluarkan?”

Datuk melanjutkan, “Apakah kamu tahu jin atau setan penggoda manusia itu sangat berbahaya. Makhluk halus tersebut memang ciptaan Allah, tapi bakal menjurumuskan manusia ke dalam neraka termasuk kita. Mengertikah kamu Sarjan!”

“Datuk, bolehkah saya menjelaskan semuanya dari A sampai Z?” ucap Sarjan.

“Boleh, silahkan.”

“Biarlah warga desa menyebut saya orang gila, terserah mereka, itu hak mereka menilai saya. Datuk perlu tahu, saya sangat mencintai Kunti. Perempuan itu saya jumpai di pinggir Kali Dawa pada setiap malam Kamis. Saya suka parasnya, suaranya lembut.

Saya mengenal Kunti sejak usia sekolah dasar. Kami berdua, saat itu, kerap bertemu untuk bermain di sungai, kadang-kadang kami berenang bersama sambil mencari ikan atau belut. Bila kami lelah bermain, saya dan Kunti istirahat di Watu Ijo yang menancap di pinggir Kali Dawa. Ikan hasil tangkapan kami bakar, selanjutnya kami maka bersama.

“Namun sejak lulus sekolah dasar, saya tidak pernah bertemu Kunti hingga sekarang. Saya sangat rindu bertemu dia. Untuk itu, saya mencari dari berbagai sumber, termasuk bertanya kepada orang-orang pintar di kaki Gunung Deret. Hampir seluruh informasi yang saya peroleh dari orang pintar, mereka mengatakan Kunti suka datang ke Watu Ijo di Kali Dawa. Datuk, Watu Ijo adalah tempat kami membuat janji untuk bertemu Kunti.” 

Datuk Amat diam sejenak untuk memahami penjelasan Sarjan. “Kamu mengaku tak pernah bertemu Kunti setelah dewasa, bagaimana caramu berkomunikasi dengan dia?”

“Saya memang tidak pernah melihat wajahnya, wujud dia memang tidak nyata, kecuali hanya suaranya saja yang saya dengar. Saya berkomunikasi dengan Kunti biasa saja, berbicara sebagaimana dilakukan oleh semua orang. Namun hanya kami berdua yang paham, orang lain tak mengerti bahasa kami.”

“Baiklah, sekarang aku mengerti persoalan yang membelitmu termasuk penilaian warga desa atas dirimu. Sarjan, perempuan yang kau panggil Kunti itu sesunguhnya kuntilanak. Mulai saat ini, kamu tidak boleh lagi jatuh cinta dengan dia. Sebab kamu telah terjerumus ke dalam godaan setan. Kamu harus bertobat. _Wala tatbi'uunihutuwatissaitaan_. Sesungguhnya setan itu adalah musuh paling nyata bagimu_, (QS 2: 168). Camkan itu!”

“Iya Datuk.”

*TAMAT*

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel