Kunti: Mbah Kalap 7


Oleh: Choirul Aminuddin

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Kecipak air di Kali Dawa berlangsung hanya lima menit menghibur hati Sarjan, sisanya gunda gulana membekap dirinya. Sarjan terbawa kembali pada sebuah cerita masa kecil mengenai Mbah Kalap, makhluk lain yang menjadi penjaga sungai selain Buto ijo. 

Kunti yang dinanti di tepi kali tak kunjung menampakkan diri. “Tunjukkan senyummu, darling. Aku ingin berbagi cerita tentang Kali Dawa, bila kau tak berkehendak atas ungkapan cintaku.”

Belahan kasihnya itu tak merespon. Biasanya Kunti menyukai cerita apapun yang disampaikan Sarjan, termasuk cerita konyol yang membuatnya tertawa keras, ngikik seperti suara kuntilanak gentayangan di gelap malam. 

 “Kunti, coba kau dengar ceritaku mengenai kehebatan Mbah Kalap ketika membantu menemukan Jamal, adik bungsu sahabatku yang hanyut ditelan Kali Dawa.”

“Mbah Kalap itu pahlawan bagi keluarga Jamal. Tapi sebagian orang menyebutnya sebagai musuh anak kecil yang suka bermain di  kali,” kata Sarjan tanpa menyadari kehadiran Kunti yang menyimak dari semak ilalang di sebelahnya.

Bahkan nyamuk sawah yang menggerayangi hampir seluruh wajahnya tak dihiraukan. Sarjan bersemangat menyusun mozaik cerita Mbah Kalap yang dikutip dari berbagai sumber,  termasuk ensiklopedia mistis di perpusatakaan, buku kumpulan cerita horor,  dan ahli ilmu gaib. Semua itu dilakukan lelaki yang mengklaim bergelar MA dari universitas di Austalia tersebut demi memperkaya ceritanya.  

Sarjan menjelaskan, Mbah Kalap itu tidak serta merta distreotipkan sebagai musuh yang suka menggondol anak bandel di tepi sungai. Menurut referensi yang dia peroleh, Mbah Kalap justru bertindak sebaliknya bila dibandingkan dengan perilaku Buto Ijo. 

Mbah Kalap, menurut  eksiklopedia mistis yang dibaca Sarjan, suka menolong siapapun yang mendapatkan kesusahan di kali. Bahkan tak jarang Mbah Kalap membantu menemukan kutang nenek-nenek yang jatuh ke sungai ketika dicuci.
“Kiiikkk….kiiiikkkk……,” suara Kunti tiba-tiba meledak.

“Kunti jangan seperti itu, aku ngeri mendengar tertawamu. Ini malam Jumat kliwon. Tahu engga, suaramu seperti kuntilanak di kuburan.”

“Engga apa-apa Mas. Saya cuma geli saja mendengar cerita Mas Sarjan. Masa Mbah Kalap bisa menemukan kutang nenek-nenek yang jatuh di kali.”

“Jangan-jangan Mbak Kalap memang kolektor kutang nenek, kiiikkk….kiiiikkkkk.”

“Huuuus jangan begitu Kunti. Nanti Mbah Kalap murka dituding seperti itu. Dia pahlawan sungai lhooo….”

“Ya….engga apa-apa sih kalau Mas Sarjan menyakini Mbah Kalap itu hero bagi nenek pemilik kutang hitam.”

“Bukan saja pahlawan untuk nenek itu, melainkan juga dianggap makhluk luar biasa oleh keluarga Jamal.”

Menurut keterangan Sarwi, kakak sulung Jamal, kepada warga desa, nyawa Jamal berhasil diselamatkan Mbah Kalap ketika bocah yang akan disunat itu terapung-apung di hilir Kali Dawa. “Beruntung Jamal tidak diseret buaya muara untuk dimangsa bersama buaya ganas lainnya.”

“Tapi karena kehebatan Mbah Kalap, nyawa Jamal bisa diselamatkan. Seluruh buaya yang siap mencabik-cabik tubuh Jamal digebuk, sebagian dibanting ke darat oleh pahlawan sungai itu.”

“Keluarga Jamal mungkin tidak bisa membayangkan bila saat itu ada Buto Ijo. Barangkali nyawa Jamal bakal terbang ke nirwana. Si Buto akan bekerja sama dengan buaya muara untuk meremuk redamkan tubuh adik sahabatku itu.”

Kunti tak bersuara. Barangkali dia terbawa arus cerita Sarjan yang disampaikan penuh gairah. Ilalang yang biasanya meliuk-liuk karena semburan nafas Kunti berhenti bergerak. Tikus got yang suka berlarian di tengah ilalang menghentikan langkahnya, gemerlap kunang-kunang mendadak redup. berlanjut

Post a Comment

0 Comments