Socialize

*Kunti: Kawan Selandia Baru* (8)


Oleh: Choirul Aminuddin

(Mantan Jurnalis Tempo)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Sarjan menyandarkan punggungnya ke sebuah batu setinggi tubuhnya yang tertancap di pinggir kali. Dia tampak kelelahan, dahinya berkernyit-kernyit, sementara matanya melek meram menahan kantuk. Bayangan Kunti yang diidamkan sirna oleh lelah yang menyergap. 

Di tengah kondisi antara tidur dan terjaga, Sarjan terbawa ke suasana saat bersama teman-teman kuliahnya di Selandia Baru.

Di negeri yang jumlah sapinya lebih banyak dari penduduk itu, Sarjan menamatkan pendidikan pascasarjana selama kurang lebih lima tahun. Sembari kuliah, Sarjan bekerja paruh waktu di perkebunan angggur milik warga keturunan Jepang. Jika akhir pekan, dia menghabiskan waktunya naik gunung atau main ke peternakan sapi punya teman kuliahnya.   

Di antara gunung favorit di Selandia Baru yang suka didaki Sarjan adalah Mount Ruapehu, satu dari tiga kerucut gunung api yang menjulang di dalam taman nasional Tongariro National Park. Bagi Sarjan, kawasan ini tak mungkin dilupakan selama hidupnya. 

Mengapa begitu.? Jika naik ke gunung ini, Sarjan takjub dengan gundukan salju yang menjadi selimut puncak gunung, sekaligus tempat bermukimnya masyarakat Maori, suku bangsa asli Selandia Baru. Mungkin inilah yang menjadi salah satu alasan Mount Ruapehu mendapatkan status Warisan Dunia dari UNESCO, sebuah lembaga budaya dunia di bawah naungan PBB.

Sarjan kerap memuji kebesaran Sang Pencipta tatkala berada di puncak gunung ini. Dia tak sanggup membayangkan proses terciptanya bentangan gundukan es persis di bawah kaki langit itu, putih bersih tanpa ada noda. Kata “Subhanallah” sering diucapkan Sarjan saat menjejakkan kakinya di ujung ketingggian gunung.

Kenangan di gunung itu, boleh dibilang, membetot hampir sepertiga perhatiannya bila dibandingkan dengan gadis-gadis yang pernah dikenalnya. Keelokan pemandangannya, pendek kata, terhujam mulai dari ubun-ubun hingga ke ujung jari kaki.

Memori indah lain yang tak kalah seru terutama saat Sarjan dalam perjalanan menuju puncak. Ketika itu, menjelang beberapa puluh meter dari puncak gunung, betis kaki kiri dan kanan Sarjan mengalami kram keras sehingga sulit melangkah.

Sarjan harus rebahan di track gunung berbatu cadas lantaran kakinya tak bisa untuk melangkah. Beruntung, Robert dan Marlyn, sahabatnya di kampus sekaligus sesama pecinta gunung membantunya dengan cekatan. Kedua rekan kuliah Sarjan itu berlatar belakang aktivis kemanusiaan dari palang merah internasional sehingga tidak terlalu sulit membantu Sarjan mengatasi kram kaki. Dia terbiasa membantu orang mengalami masalah ketika berada di ketingggian gunung.

“Sarjan beban bawaanmu terlalu berat. Inilah penyebab kakimu kram,” ujar Marlyn sambil menggosok-gosok kulit kaki Sarjan yang berbulu hitam dengan minyak massage.

“Seharusnya seluruh bawaanmu termasuk carrier di punggungmu diserahkan ke porter, mereka ahli membawa perbekalan naik gunung,” imbuh gadis berambut seperti warna jagung itu.

“Iya, aku ngerti. Tapi di dalamnya ada kamera beserta perlengkapannya. Aku takut kesulitan bila memotret momen penting di atas gunung.”

“Kalau soal itu gampang. Kamu kan bisa bawa tas khusus kamera waterproof. Jika tidak punya aku bisa pinjemin, kenapa tidak bilang sebelum kita berangkat.”

“Sudah terlanjur Lyn, kapan-kapan aja. Aduuuuhhh….jangan keras-keras mijitnya,” Sarjan mengerang.

“Ah, masa sakit sih. Aku pegang sehalus ini.”

Robert yang menyaksikan adegan itu dari jarak semeter hanya bisa nyengir. Dia paham benar perilaku Sarjan bila berdekatan dengan gadis yang dipuja, suka berpura-pura untuk mengambil simpati. Marlyn pun sangat kenal dengan watak Sarjan yang diakrabi sejak lima tahun lalu ketika sama-sama menjadi mahasiswa di negerinya. _berlanjut_.....

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel