*Kunti: Kali Dawa* *(6)*


Oleh: Choirul Aminuddin

(Mantan Jurnalis Tempo)

Editor: Sudono Syueb


Harianindonesiapost.com Sarjan tidak berkomentar mmgenai pujian Kunti terhadap Bolu. Dia membiarkan pujian itu disambar angin malam. Selanjutnya, dia melangkah menuju pinggir Kali Dawa, sungai yang membelah tiga desa. Di pinggir kali itu, Sarjan membasuh muka dan tangannya dengan air kecoklatan. 

Ketika masih bocah, Sarjan suka menghabiskan waktu bermainnya di Kali Dawa bersama teman-teman seumurannya termasuk dengan Bolu yang kini menjadi seorang jurnalis di kota besar. Sembari duduk di pinggir kali, Sarjan seperti diingatkan kembali masa kecilnya. 

Dia teringat betul ketika belum bisa berenang, jiwanya nyaris lenyap karena timbul tenggelam terseret arus. Beruntung Bolu yang terampil berenang bisa membawanya ke pinggir kali. Jika tidak, mungkin Sarjan bakal kebawa aliran sungai menuju laut. Sebab Kali Dawa, saat itu, berarus deras akibat guyuran hujan dan gelontoran air dari pegunungan Bukit Deret.

Menurut cerita turun menurun yang pernah dia dengar, Kali Dawa ini sesungguhnya angker. Anak kecil yang belum sunat, sebagaimana cerita kakeknya, tidak boleh berenang di tempat ini kecuali ditemani orang tua. Bila tidak, dia akan dilahap Buto Ijo, mahkluk raksasa bermata tunggal penyuka anak laki yang belum sunat.

Sarjan sangat yakin bahwa dia menjadi mangsa Buto Ijo saat terbawa arus sungai Kali Dawa. Ketika peristiwa itu terjadi, Sarjan belum disunat meskipun sudah duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Sementara teman-teman sebayanya sudah disunat semua, bahkan Bolu disunat semasa berusia beberapa jam usai dilahirkan.

Kendati begitu, Sarjan tidak kapok bermain di sungai termasuk berenang di Kali Dawa. Sebab Sarjan sebenarnya tidak terlalu percaya dengan keberadaan Buto Ijo yang menjadi penguasa sungai berjarak 50 meter dari rumah kakeknya. 

Mempercayai cerita keberadaan Buto Ijo, bagi Sarjan sama dengan musrik alias menyekutukan Tuhan seperti yang diajarkan guru ngajinya di Musala Panggung.

“Kalian tidak boleh percaya terhadap hal-hal yang tak dibenarkan dalam agama, termasuk mempercayai Buto Ijo yang diyakini sebagian makhluk penjaga Kali Dawa. Jika kalian percaya, maka hukumannya adalah neraka jahanam karena musrik atau menyekutukan Tuhan,” kata Wak Benda, guru ngaji Sarjan.

Kalimat yang disampaikan Wak Benda itu,  hingga sekarang, terngiang terus di kuping Sarjan. Cerita Buto Ijo telah menjadi bagian teror mental bagi anak-anak yang tinggal di pinggir kali. Sarjan dihadapkan pada masalah dilematis, bila dipercaya ancamannya neraka yang bahan bakarnya terdiri dari para pendosa. Sementara itu, jika mengubur kisah makhluk yang belum pernah dilihat tersebut, dia akan melawan tata nilai dan kearifan lokal yang dianut warga Dusun Saradan, tempat dia dibesarkan.

Sarjan memainkan kedua tangannya di atas permukaan air Kali Dawa sehinggga ada kecipak. Suara air sungai yang dimainkan Sarjan itu seperti tetabuhan alat musik yang muncul di tengah sunyi malam. Bahkan mereduksi ketegangannya. Namun, beberapa menit kemudian, ketika rasa galau belum pudar, ingatan Sarjan dihantam oleh kisah yang tak kalah mistis lainnya, sang penguasa sungai.

_berlanjut_

Post a Comment

0 Comments