Socialize

*Kunti: Berteman Wartawan* *(5)*


Oleh: Choirul Aminuddin

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Suasana masih sunyi, kecuali kerik jangkrik untuk merayu betinanya agar mau kawin. Sementara itu, Sarjan sibuk membersihkan duri ilalang yang menancap di celana casualnya. Selanjutnya, Sarjan mengusap darah segar yang mengalir dari pelipis kiri akibat terbentur batu kali saat terjerembab.

Kunti pun tak bersuara, dia hanya mengamati Sarjan yang mengeluh kepalanya kliyengan karena benturan dengan batu kali. Beberapa menit kemudian, dari jarak sekitar lima meter di tempat Sarjan duduk, Kunti buang suara, “Mas Sarjan baik-baik saja?”

“Oh iya, Alhamdulillah. Aku tidak apa-apa, tenang saja. Kamu tidak usah khawatir, soal beginian mah kecil.”

“Tapi, kenapa Mas Sarjan mengerang, seperti orang kesakitan?”

“Hanya suara iseng saja, aku tidak sakit, aku baik-baik saja. _Everything is alright_.....”

“Syukurlah Mas, bila tidak apa-apa.”

“Kalau ada apa-apa memangnya kamu mau merawatku, mengelus pipiku, atau membaringkanku di kasur empuk?

“Engga Mas.”

“Mas Sarjan, tadi pagi saya baca tulisan di buku harian yang tergeletak tak jauh dari tempat sampah. Sampul buku itu merah maron, milik Bolu beralamat di dekat Pasar Kemis. Mas Sarjan kenal sama pemiliknya?”

“Kenal dong. Dia tetanggaku, bekerja di salah satu perusahaan media massa. Kalau tidak salah bekerja di harian _Triji_. Apa yang kamu baca, apakah ada yang rahasia?”

“Sepertinya tidak ada yang rahasia, Mas. Dia hanya menulis singkat mengenai unjuk rasa buruh pabrik sepatu di halaman gedung DPR. Pada aksi tersebut, Bolu mengecam pemerintah karena menyetujui sistem buruh kontrak. Saya tidak baca semua, tapi saya suka dengan tulisannya.”

“Ah biasa saja. Masa tulisan begitu kamu sukai. Apa yang istimewa?

“Mungkin buat Mas Sarjan biasa-biasa saja, tidak istimewa, tapi buat saya menarik. Cara menulisnya yang saya suka, tidak seperti tulisan kebanyakan orang yang selama ini beredar di berbagai media.”

“Aku juga suka menulis, jauh lebih bagus daripada tulisan Bolu. Kenapa kamu tidak menyanjungku? Kau ini payah, masa tulisan kekasih tidak pernah diindahkan. Kamu tahu ga, Bolu itu wartawan gadungan. Dia suka menulis berita palsu, _hoax_, tidak berimbang dan penuh fitnah. Kamu jangan membaca tulisannya di media apapun, termasuk di media sosial.”

“Mas Sarjan tidak perlu marah dengan Bolu.”

“Kok membela dia.”

“Saya tidak membelanya, toh selama ini saya tidak pernah membaca tulisannya kecuali buku hariannya yang kebetulan jatuh di dekat tempat sampah. Saya cuma heran, kenapa Mas Sarjan sepertinya tidak suka dengan Bolu. Pasti pernah bersaing berebut cewe?”

“Masa bersaing dengan Bolu. Dia tidak ada apa-apanya denganku, ga level. Pesanku satu, jangan berteman dengan wartawan!”

“Memang ada apa dengan wartawan, Mas. Apakah dia makhluk menakutkan?”

“Bukan begitu. Orang semacam Bolu itu bikin negeri ini rusuh karena suka menyebar gosip, menulis peristiwa yang sesungguhnya tidak ada tapi dibikin seolah-olah ada. Itu namanya berita bohong, fitnah berat. Menyebar kebohongan itu dosa besar. Salah satu pelakunya bernama Bolu. Ingat itu!”

“Mas Sarjan sering kena tipu dia ya?”

“Bukan hanya aku saja yang tertipu dengan berita yang ditulis Bolu, tapi jutaan rakyat telah kena sihir tulisan Bolu. Pahamkah?

"Menurut informasi yang aku dapat, Bolu suka memeras sumber berita termasuk para Direksi perusahaan BUMN. Itu perbuatan tercela. Bolu itu jurnalis WTS, wartawan tanpa surat kabar.”

“Tapi dia ganteng kan Mas?”

_berlanjut_

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel