JELANG PERINGATAN G-30-S/PKI PW PII, JAWA TIMUR KELUARKAN INSTRUKSI REGIONAL


Laporan: Sudono Syuen

Harianindonesiapost.com Dalam suratnya Nomor : CD/SEK/115/1X/1441-2019 PW PII Jatim mengeluarkan INSTRUKSI REGIONAL MENGENANG PERISTIWA G-30 S/PKI yang ditujukan kepada seluruh Kader dan Pengurus Derah PII se Jatim.
Instruksi regional ini diawalai dengan narasi keterlibatan PII dalam mata rantai perjuangan Umat Islam Indonesia, 
"Pelajar Islam Indonesia (PII) merupakan bagian dari setetes darah perjuangan yang 
pernah tumpah untuk Indonesia pasca kemerdekaan. Kerja keras kader PII semenjak 
bangkit pada tahun 1947, tentu menemui banyak tantangan dalam setiap momen 
hingga saat ini. Semangat yang diusung oleh teman-teman PII adalah dakwah 
memperkuat Aqidah Islamiyah dan mencerdaskan intelektual, serta menjadikan setiap 
kadernya sebagai orang yang terpelajar. PII juga berusaha untuk menginsyafkan rakyat
Indonesia agar berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam dan menjauhi ajaran-ajaran 
menyimpang yang dilarang oleh Allah SWT."
Lebih lanjut, instruksi ini menyatakan,  Namun dalam catatan sejarah, semangat 
para kader PII tentu tidak disukai oleh musuh-musuh Islam terutama komunis.
Pergesekan selalu terjadi antara komunis dengan Islam. Partai Komunis Indonesia atau 
biasa kita sebut PKI, berusaha memanfaatkan sisi emosi psikologis para kaum buruh 
dan tani yang marah kepada elit politik saat itu. Hal ini dikarenakan mereka berada di
bawah garis kemiskinan. Sehingga PKI pun akhirnya memberikan iming-iming 
kesejahteraan dan sebidang tanah kepada mereka. Namun, kemarahan itu justru sering 
disalahgunakan oleh PKI untuk menyerang Ummat Islam dengan berbagai macam 
fitnah. PII yang merupakan organisasi pelajar Islam pun, menjadi sasaran empuk 
untuk dimusnahkan oleh PKI. Bahkan banyak ditemukan juga dalam penemuan 
kumpulan surat milik PKI, tentang daftar orang yang harus dibunuh, banyak 
diantaranya adalah kader PII.
Tahun 1948, PII pernah berhadapan dengan massa PKI pimpinan Muso. Dalam 
peristiwa pemberontakan di Madiun, Muso yang saat itu ingin mendirikan Negara 
Republik Soviet Indonesia berusaha memaksa agar masyarakat mengakui hasrat PKI. 
Muso juga berusaha menyingkirkan siapapun yang tidak sepakat dengan gagasannya. 
PII yang mempunyai komitmen kuat akan ke-Indonesiaan pun melawan hal tersebut. 
Kala itu, Komandan Brigade PII yakni Soerjo Soegito, yang masih duduk di sekolah 
menengah akhirnya harus gugur. Tidak berhenti disitu, pada tahun 1965 PII harus 
berhadapan lagi dengan kaum kiri di bawah kepemimpinan D.N Aidit. Peristiwa 
“muka lawan muka” dengan massa pendukung PKI terjadi di Desa Kanigoro, 
Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Saat itu kader PII yang sedang 
mengadakan Mental Training, mereka akhirnya diserbu oleh PKI dan orang komunis 
itupun menginjak-nginjak Al-Qur’an. Peristiwa ini disebut sebagai peristiwa Subuh di Kanigoro
Karena kekejaman PKI atas banyaknya pemberontakan kepada negara dan memusuhi 
Ummat Islam, akhirnya pada tanggal 12 Maret 1966 PKI resmi dibubarkan 
berdasarkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (TAP MPRS)
nomor 25 tahun 1966 tentang “PEMBUBARAN PARTAI KOMUNIS INDONESIA, 
PERNYATAAN SEBAGAI ORGANISASI TERLARANG DI SELURUH 
WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAGI PARTAI KOMUNIS 
INDONESIA DAN LARANGAN SETIAP KEGIATAN UNTUK MENYEBARKAN 
ATAU MENGEMBANGKAN FAHAM ATAU AJARAN KOMUNIS/MARXISME-
LENINISME.”
Kebiadaban PKI terhadap Ummat Islam dan beberapa elemen masyarakat lain,
sungguh menciderai bangsa Indonesia yang begitu heterogen. Namun ancaman 
munculnya komunis akhir-akhir ini kembali mencuat. Mengingat ada sekumpulan
orang yang diduga mantan PKI, maupun anak-anak mereka yang masih memegang 
teguh perjuangan PKI, tentu berusaha menghidupkan gerakan neo-komunis. Bahkan 
mereka melalui Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) 
1965/1966 pimpinan Bedjo Untung berusaha memutarbalikan fakta. Mereka mengaku 
sebagai korban dalam kasus 1965. Tahap pertama yang mereka lakukan adalah
pengakuan secara verbal dan tertulis dari Komnas Hak Asasi Manusia (HAM) bahwa 
mereka adalah korban dan tahapan ini berhasil mereka lakukan. Tahap selanjutnya 
adalah masuk parlemen. Diakui atau tidak, parlemen kita disusupi oleh orang yang 
menganggap PKI benar. Tidak heran jika ada yang bangga dalam mendukung PKI. 
Lalu dilanjutkan dengan tuntutan pemberian ganti rugi bagi setiap eks-PKI yang masih 
hidup dengan besaran antara 900 juta-2,5 Miliar oleh pemerintah. Namun yang 
terpenting bagi mereka adalah bagaimana caranya agar Presiden Republik Indonesia 
meminta maaf kepada mereka dan TAP MPRS nomor 25 tahun 1966 dicabut,
sehingga mereka dapat hidup kembali di Indonesia. 

Selanjutnya PW PII Jawa Timur mengeluarkan Instruksi Regional seperti berikut ini:
Mengingat akan kekejaman PKI pada masa lalu serta mengenang sejarah berdarah G-
30 S/PKI, maka Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Jawa Timur 
menginstruksikan kepada seluruh kader PII Jawa Timur untuk :
1. Mendoakan korban Ummat Islam yang meninggal diakibatkan oleh 
pemberontakan G-30 S/PKI.
2. Mengadakan kegiatan nonton bareng film G-30 S/PKI di daerah masing-masing
dalam rangka mengenang peristiwa kelam tersebut.
3. Waktu pelaksanaan pemutaran film dapat dilaksanakan mulai hari Senin, 30 
September - Ahad, 06 Oktober 2019.
4. Diharap untuk Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) agar membantu 
teman-teman kader PII aktif untuk mensukseskan kegiatan ini.
Demikian surat instruksi ini kami buat. Semoga Allah selalu menerima seluruh amalan
dan ibadah kita, serta mengampuni dan meneguhkan kedudukan kita. Aamiin.
Billahittaufiq wal hidayah
Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Surat Instruksi ini di keluarkan di Surabaya, 27 Muharram 1441 H
 27 September 2019 M oleh PENGURUS WILAYAH
PELAJAR ISLAM INDONESIA
(PW PII) JAWA TIMUR
PERIODE 2018-2020
Ditanda tangani oleh
ACHMAD HARTONO ADI P selaku Ketua umum dan AULIA RINI FITRIATUL KH selaku Sekretaris

Post a Comment

0 Comments