Hijrah Ke Sebuah Wilayah Angker


Oleh: Sudono Syueb

(Alumni Ponpes YTP dan Guru di Fikom-Unitomo, Surabaya)


Harianindonesiapost.com Alkisah, ada seorang musafir yang telah melalang buana dari satu daerah ke daerah lain sambil berdakwah dan berdagang. Sudah tentu banyak pengalaman yang dialami musafir tersebut. Suatu saat musafir itu tiba di suatu daerah yang penduduknya sedang konflik. Gara gara konflik itu suasana desa jadi ribut dan gaduh. Interaksi sosial antar warga jadi terganggu dan kurang harmonis serta kurang nyaman.
Musyafir itu lalu bertanya, ada apa ini bapak-ibu?
Penduduk desa itu menjawab, kami sedang konflik ini gan musafir. 
Kenapa  panjenengan pade konflik  pak bu,? tanya musafir itu menyelidik dengan lembut. 
Gini gan, sekarang ini kami sedang mengadakan pilihan kepala desa yang sekaligus jadi kepala suku kami. 
"Apakah ada persaingan antar pendukung atau tim sukses Cakades  atau Cakasu,?" tanya musafir lebih lanjut.
Bukan gan, tidak ada persaingan antar tim sukses. Di sini tidak pernah ada tim sukses Cakades atau Cakasu. Bagaimana ada tim sukses kalau Cakadesnya saja tidak pernah  ada he he he," jawab penduduk itu sambil terkekeh kekeh.
Lebih lanjut penduduk desa itu menjelaskan, kami ribut dan gaduh ini karena tidak ada satu pun penduduk desa ini yang mau jadi Calon Kepala Desa. Sebab, siapa pun kepala desanya, yang telah selesai masa jabatannya, selama 20 tahun, akan dibuang ke hutan angker yang penuh dengan ular berbisa dan binatang buas, dan dia tak bisa lagi pulang karena jadi mangsa binatang buas di sana. Sudah tentu mantan Kades itu akan  jadi  mangsa para binatang buas itu. Karena itulah tidak ada satupun penduduk sini yang mau jadi Cakades. Apakah gan musafir mau jadi Kepala Desa di sini,? tanya penduduk  pada musafir itu seraya memohon. "Ya gan musafir, mau ya jadi Cakades di sini, in syaa Allah seluruh warga desa sini akan mendukung gan musafir jadi Kades, menyediakan tempat tinggal yang layak dan mencarikan pendamping hidup untuk gan musafir".
"hemm... baik, saya mau. Tapi saya mau ini bukan karena akan dapat tempat tinggal dan pendamping hidup, tapi lebih pada keinginan untuk membantu menyelesaikan masalah penduduk sini yang berlarut larut ini," jawab musafir itu dengan bijak. 
Tidak perlu lagi ada proses pemilihan karena Cakadesnya cuma setong, secara aklamasi, musafir itu ditetapkan secara adat dan dilantik oleh para sesepuh kampung itu untuk jadi Kades definitif.
Merasa dapat dukungan mayoritas warga, setelah dilantik, kades musafir itu menyusun progran kerjanya secara sistematis dan langsung melaksanakannya. 

Tahun pertama, dia membabat hutan yang luas itu dibantu beberapa penduduk yang sudah jadi pengikutnya, siang malam sebanyak 5 kali termin: dini hari, siang, sore, surup dan malam

Tahun kedua, dia kumpulkan Ular ular berbisa itu dalam suatu akuarium kaca supaya tidak keliaran dan tidak lagi menggigit orang yang lewat daerah itu serta bisa dipakai wisata binatang melata.

Tahun ketiga, dia kumpulkan semua binatang buas sesuai jenisnya dalam kandang kandang besi, supaya tidak lagi keliaran dan memangsa orang yang lalu lalang, dan bisa juga untuk edo-wisata binatang buas.

Tahun keempat, dia uruk bekas hutan angker yang sangat luas itu supaya bisa untuk hunian baru warga desa dan atau warga desa lain yang mau.

Tahun kelima, dia bangun akses jalan masuk ke bekas hutan angker dari berbagai penjuru untuk memudahkan warga masuk ke situ.

Tahun keenam, dia mulai membangun banyak perumahan, banyak vila, pasar pasar tradisi dan mini mart untuk pengembangan ekonomi.

Tahun ketuju, dia bangun tempat tempat ibadah, masjid, musholla dll untuk beribadah kepada Allah.

Tahun kedelapan, dia bangun lembaga lembaga pendidikan baik pesantren, noarding school, fullday school maupun reguler. Mulai PAUD, TK, SD/MI, SMP, SMA dan PT.

Tahun kesembilan, dia bangun balai balai kesehatan untuk melayani keluhan sakit masyarakat dan menjaga kesehatan masyarakat.

Tahun kesepuh, dia ajak masyarakat untuk tinggal di wilayah bekas hutan angker yang sudah dia bangun itu secara gratis.

Warga desa itu merespon dengan senang hati dan banyak yang pindah ke wilayah baru yang aman dan sehat itu.
Walaupun begitu ada juga yang tidak mau hijrah ke wilayah aman, sehat dan barokah itu, mereka tetap milih tinggal di wilayah wilayah rawan penyakit, rawan gangguan dll.
Pembaca yang budiman, wilayah yang dianggap angker oleh sebagian masyarakat itu adalah Wilayah Akhirat. Sebuah wilayah yang kita semua akan memasukinya. Untuk memasuki wilayah itu, kita perlu bekal yang cukup. Dan bekal itu, menurut Allah adalah  bekal TAQWA.

Allah Ta’ala berfirman,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Bekal yang sebenarnya yang tetap mesti ada di dunia dan di akhirat adalah bekal takwa, ini adalah bekal yang mesti dibawa untuk negeri akhirat yang kekal abadi. Bekal ini dibutuhkan untuk kehidupan sempurna yang penuh kelezatan di akhirat dan negeri yang kekal abadi selamanya. Siapa saja yang meninggalkan bekal ini, perjalanannya akan terputus dan akan mendapatkan berbagai kesulitan, bahkan ia tak bisa sampai pada negeri orang yang bertakwa (yaitu surga). Inilah pujian bagi yang bertakwa.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 92)

Al-Qasimi berkata, “Persiapkanlah ketakwaan untuk hari kiamat (yaumul ma’ad). Karena sudah jadi kepastian bahwa orang yang bersafar di dunia mesti memiliki bekal. Musafir tersebut membutuhkan makan, minum dan kendaraan. Sama halnya dengan safar dunia menuju akhirat juga butuh bekal. Bekalnya adalah dengan ketakwaan pada Allah, amal taat dan menjauhi berbagai larangan Allah. Bekal ini tentu lebih utama dari bekal saat safar di dunia. Bekal dunia tadi hanya memenuhi keinginan jiwa dan nafsu syahwat. Sedangkan bekal akhirat (takwa) akan mengantarkan pada kehidupan abadi di akhirat.” (Mahasin At-Ta’wil, 3: 153. Dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 10: 125)

Post a Comment

0 Comments