Menjadi Orang Tua Yang Dialogis Seperti Nabi Ibrahim AS


Sudono Syueb 

(Dosen FIKOM-UNITOMO, Surabaya)

   Harianindonesiapost.com Sebagai orang tua, sebaiknya kita selalu dialog dengan keluarga kita baik istri/suami maupun kepada anak anak kita agar terjadi komunikasi dua arah. Dalam komunikasi, hal itu disebuat dengan komunikasi interpersonal humanis atau  Komunikasi dialogis.

 Komunikasi yang menjadi dasar dari perasaan, pikiran dan sikap demokratis. Dan komunikasi inperpesonal seperti inilah yang telah diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS kepada kita umat lslam selama ini. 
   Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr H Moh. Sulthon Amien MM  menyatakan, ada pelajaran mendidik anak yang bisa dipetik dari kisah Nabi Ibrahim AS mendambahkan anak hingga turunnya perintah dari Allah SWT mengurbankan Ismail, putranya.
“Nabi Ibrahim sebagai orangtua mampu mendidik putranya Ismail menjadi anak shaleh,” ujarnya dalam Khutbah Jumat di Masjid Al Badar Kertomenanggal IV/1 Surabaya (9/8/19) seperti dilansir PWMU.CO. 10/8 2019

Lebih lanjut Sulthon menerangkan, pelajaran yang pertama adalah Nabi Ibrahim AS senantiasa mendoakan putranya Ismail supaya menjadi anak shaleh. Adapun doa Nabi Ibrahim untuk putranya itu sebagaimana terekam dalam Alquran surat Assaffat ayat 100.

“Nabi Ibrahim berdoa: Rabi habli minas shalihin. Nah, doa itu benar-benar dikabulkan oleh Allah SWT,” paprnya. Arti doa tersebut adalah: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

Lalu, apakah orangtua yang sudah mempunyai cucu juga masih diharuskan mendoakan anak-anaknya demikian? “Jawabannya adalah ya,” tegasnya.

Maka, ia mengajak para orangtua bisa setiap saat mendoakan anak-anaknya sebagaimana Nabi Ibrahim karena dalam doa itu ada harapan dan impian. “Ketika kita berdoa coba dengan membayangan anak-anak kita. Insyaallah, anak kita jadi anak shaleh,” jelasnya.

Sulthon melanjutkan, pelajaran yang kedua adalah ketika Nabi Ibrahim bermimpi menerima perintah dari Allah untuk mengorbankan (menyembelih) Ismail.

“Setelah menerima mimpi itu Nabi Ibrahim mengajak putranya Ismail untuk berdialog terkait dengan turunnya perintah Allah SWT untuk mengorbankannya. Dan, Ismail taat menerima perintah Allah SWT itu dengan ikhlas,” terangnya.

Maka, ia menyerukan, agar setiap orangtua untuk bisa menyempatkan mengajak anak berdialog atau berdiskusi. “Jangan kita hanya memberikan nasehat saja. Ajaklah anak-anak kita berdialog,” tuturnya.

Sayangnya, Sulthon mengungkapkan, sekarang ini banyak anak seolah menjadi yatim, meski masih memiliki orangtua, yakni ayah maupun ibu.

“Kadang fungsi dari kedua orantua itu seolah tidak ada. Sebab ayah dan ibunya sibuk kerja. Anak dititipkan ke pembantu. Orangtua datang dan berangkat kerja ketika anak sedang terlelap. Tidak ada dialog sedikit pun antara orang dan anak. Jadinya banyak anak yang kehilangan figur orangtuanya,” urainya.

Lalu, bagaima kalau orangtua datang saat anak tertidur? Sulthon menyarankan, supaya orangtua minimal mengusap kepala anak dan memberi salam. “Sampaikan permohonan maaf kita. Ajak anak kita berdialog meski mereka terlelap,” serunya.

Sulthon mengungkapkan, Nabi Ibrahim tidak pernah memberi apresiasi kepada Ismail. Tapi apa yang dikatakan Nabi Ibrahim didengar. “Itu karena ada dialog yang baik antara Nabi Ibrahim dengan Ismail. Jadinya apa yang dikatakan Ibrahim didengar oleh Ismail,” terangnya.

Ia mengingatkan para orangtua untuk bisa menjadi teman curhat anak-anaknya. “Kalau anak-anak tidak mempunyai teman curhat di rumah. Maka, anak-anak curhatnya ke teman-temannya. Jadi jangan sampai di antara kita yang melalaikan hubungan antara orangtua dan anak,” tandsnya.

Post a Comment

0 Comments