LIDI BERBICARA


By        : IHSANUDDIN



Harianindonesiapost.com Aku dulu ketika masih nyantri pernah jadi anggota Sat PP. Sat PP disini bukan Satpol-PP loh.., Sat PP yang aku maksud adalah Satuan Petugas Pengamanan di YTP.
Seingatku ,saat itu Sat PP0l dikomandani ustadz Madkun Allahu yarhamhu dari Weru.
Lurahnya aku lupa, apa sudah Yai Dono apa belum ya......?
Kami sudah barang tentu harus bertanggungjawab tentang ketertiban dan keamanan di lingkungan pesantren.

     Pesantren YTP , untuk asrama putra ada di dua lokasi.
1. Di komplek YTP. Timur pasar Kertosono dan
2. Di Jl. Supriyadi , yaitu bekas sekolahan China .

     Di Kertosono pada saat itu masih ada tempat-tempat hiburan.
Ada dua gedung bioskop, satu gedung kesenian. Jadi tak heran kalau ada film bagus kadang- kadang ada santri yang secara sembunyi-sembunyi nonton bioskop. Tapi jika  ketahuan Sat PP pesti menerima sangsi.
Santri yang ketahuan nonton bioskop, maka kena hukuman Rambut kepalanya dicukur plontos, dan bila terulang, maka hukum terberatnya adalah Dipulangkan ke orang tuanya.

     Di suatu hari  ada seorang santri yang melapor bahwa dirinya telah kehilangan jam tangan/ arloji merek Casio. 
Dengan adanya laporan itu, kami dari Sat PP langsung berkoordinasi sama komandan, dan berangkat kepasar untuk menyelidiki barangkali di hari itu ada anak pesantren yang jual arloji, rapi hasilnya nihil .
Langkah berikutnya kami meronda di setiap kamar santri nihil juga.
Langkah ketiga kami intrograsi setiap santri secara bergantian, namun juga tidak menemukan titik terang. 
Aku berfikir, "Kalau masalah yang satu ini kami tidak dapat menyelesaikan secara tuntas,  maka untuk selanjutnya hal seperti ini pasti akan terulang dan terulang lagi karena si pelaku merasa aman.

     Di saat mengajar di kelas aku menemukan ide, maka aku coba ide ini.  Ku ambil seikat sapu lidi , ku ambil beberapa batang lalu ku potong-potong sepannjang 10cm  dengan jumlah yang cukup.
Potongan-potongan lidi ku ikat jadi satu , semuanya sama, kecuali satu batang yang ada ditangan lebih panjang kira-kira 3cm. 

      Menjelang istirahat aku masuk kelas , dan ku sampaikan pada semua siswa, serta ku tunjukkan lidi yang aku potong-potong tadi, bahwa semuanya sama, kecuali satu batang yang agak panjang.
Semua siswa memperhatikan. Maka saya katakan pada mereka kalau lidi ini mengandung magnet.
Saya panggil salah seorang siswa maju kedepan untuk membuktikan kalau lidi ini mengandung magnet.
Anak tersebut saya suruh menekan lidi yang lebih panjang agar menjadi sama dengan yang lain, anak itupun menekannya sehingga menjadi sama. Tapi begitu tekanannya di lepas, lidi itupun  memanjang kembali melebihi lidi yang lain.
Selanjutnya dihadapan anak-anak, lidi itu saya tekan kembali agar sama dengan yang lain.
Anak-anak jadi heran , dan mengira kalau saya lagi main sulap.
Akan tetapi suwasananya menjadi lain setelah saya sampaikan kalau dengan menggunakan lidi ini, insyaallah anak yang mengambil arloji akan ditemukan,  spontan kelas jadi hening, anak-anak hanya saling berpandangan satu sama lain.
Dalam keheningan itu saya sampaikan pada mereka : "Kalian maju satu persatu, ambil lidi ini satu batang, masukkan dalam saku baju kalian, maka insyaallah dengan ijinNya,  lidi ini akan memanjang bila  masuk dalam saku baju anak yang tangannya buat mengambil arloji.
Untuk itu , nanti saat istirahat kalian serahkan lidi itu pada saya satu-persatu di musholla".@
Setelah  semua mengambil lidi satu-persatu dan memasukkan kedalam saku bajunya, di situ saya lihat ada anak yang tampak paling gelisah dan salah tingkah. Tapi semua itu cuma terbatas pada pengamatan saya. Demi menjaga agar tidak timbul curiga mencurigai .

     Pada jam istirahat anak-anak langsung menuju musholla untuk menyerahkan lidi pada saya secara bergantian, dan tampaknya berjalan dengan lancar, bahkan  3/4 lebih dari jumlah   lidi yang saya bagikan sudah di serahkan pada saya dan tidak ada masalah. Tapi si*Fulan* yang di kelas tadi salah tingkah kok belum tampak menyerahkan lidinya.......
Apa memang sengaja ambil antrian belakangan .....???
Ternyata benar juga, si*Fulan* ambil antrian paling akhir.
Sementara teman-temannya sudah pada bermain di luar.

     Si Fulan tampak gugup dan gemetar sambil mengulurkan lidi pada saya.
Karena dia ambil antrian paling akhir, dan tampaknya bermasalah juga,  maka Fulan pun saya dudukkan untuk sementara.
"Mengapa kamu gemetar...?".tanyaku.
Fulan tidak menjawab, hanya menunduk.
"Kamu sakit...?" tanyaku.
Fulan geleng kepala.
"Coba kamu jawab yang jujur pertanyaanku ; "Mengapa lidi kamu jadi pendek  ?"

+Fulan : "Anu.....anu... Saya potong pak.."

-"Lho, kenapa kamu potong..?!" Tanyaku.

+"Takut jadi panjang pak.....", Jawabnya sambil menundukkan kepala.

-"Memangnya kenapa kalau jadi panjang...?!" tanyaku .

+"Saya tidak mencuri pak...., saya cuma menemukan.., saya menemukan di kamar mandi...", jawab Fulan .

-"Kenapa tidak kamu serahkan ke-pengurus....? tanyaku.
Fulan tidak segera menjawab....., Selanjutnya ; "Saya kepingin punya arloji pak...,". jawabnya lirih ..

-"Kamu mau di pulangkan gara-gara ini ....??? tanyaku.

+"Tidak pak, saya mau sekolah dan mengaji.." , jawabnya memelas.

-"Sekarang kamu simpan di mana arloji itu ..? tanyaku.

+"Saya bungkus plastik , dan  saya tanam di samping tembok sumur pondok timur pak.." , jawab Fulan.

-"Baik, kalau gitu nanti saya yang ambil, tapi ingat.... Kalau kamu bohong, mungkin kamu akan dipulangkan..."  kataku.

-"Jangan pak, saya mohon jangan di pulangkan....saya tidak bohong pak...".

+"Ya sudah, kamu boleh bermain di luar......

Fulan pun menyalami saya dan cepat-cepat ia keluar dari mushollah.

     Saat itu pula kami bersama rekan-rekan pengurus mengadakan rapat singkat, dan dengan berbagai pertimbangan, maka memutuskan tidak menjatuhkan hukuman berupa memulangkan siFulan.

    Saya pribadi merasa puas dengan apa yang di putusakan oleh teman-teman pengurus, mengingat siFulan anaknya sederhana  dan pintar, disamping itu sepertinya memang tidak ada niatan mencuri, meskipun ada keinginan memiliki arloji..
Tapi masa depan anak harus jadi prioritas ...

Beginilah akhirnya kalau lidi ikut bicara..........

Post a Comment

0 Comments