Socialize

Kopi sore: Sebuah kenangan


Catatan    : Ihsanuddin

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono)

Editor: Sudono Syueb


Harianindonesiapost.com Saat ku duduk sendiri, 
Jadi teringat dimasa kecil dulu.
Tiap sore mandi trus berangkat mengaji di sebuah langgar /musholla yang jaraknya agak jauh dengan rumahku .
Jika pulang , kami bersama teman-teman mesti berlari, maklum pada saat itu jalan di desa kami masih gelap karena memang belum ada penerangan listrik , disamping itu dari teman-teman selalu ada saja yang menakut-nakuti dengan adanya hantu atau setan .
Meskipun begitu kami tak pernah kapok, dan selalu berangkat ke langgar tiap sore kecuali malam Jum'at.

Di malam Jum'at inilah aku bisa kumpul dengan keluargaku.
Ada kakak , adik dan ibu serta nenekku. 
Kami sekeluarga selalu ceria meskipun sebenarnya dalam hal ekonomi sangat memprihatinkan.
Tiap malam Jum'at, nenek selalu menyediakan ubi rebus buat kami sekeluarga.
Di kala kumpul seperti itu, kami sering main tebak-tebakan, siapa yang dapat menebak teka-teki, meka dia akan mendapat hadiah pijitan dari saudara yang lain.
Suasana disaat kami berkumpul, rumah kami sangat ramai sekali oleh gelak dan tawa kami bersaudara.
Saat itu tiba-tiba nenek menyuruh kami bersaudara untuk diam, lalu nenek berkata ;  " Wes podo meneng disik, Mbah nduwe cangkriman,  sopo sing biso nebak mengko tak pijeti sak turune.." , kami bersaudara pun diam semua .
Nenek lalu melantunkan sebuah tembang *Pucung*.

     Bapak Pucung
     Dudu watu dudu gunung
     Asalmu soko plembang
     Titihane Sri Bupati
      Yen lumampah 
      Si Pucung labehan grono.

Setelah nenek melagukan tembang itu, kami bersaudara diam dan berfikir , apa ya kira-kira tebakannya?
Kami bergantian menebak, tapi belum juga ada yang benar, kemudian saya bertanya pada nenek : "grono iku opo Mbah..?"
Nenekpun menjawab : "grono iku irung (hidung) ".
Dengan jawaban nenek ini  akupun cepat berfikir, yang hidungnya buat lembehan gak ada lain kecuali *gajah*, maka aku pun segera menebaknya : "iku gajah....!"
Sementara saudara-saudara ku pada bengong karena kalah cepat dengan tebakanku, dan akulah yang mendapat pijitan dari nenek hingga aku tertidur pulas.

Cangkriman/ tebakan seperti itu di saat kecilku selalu ada di tiap malam Jum'at karena libur mengaji di langgar.
Dan tembang Pucung itu sebenarnya banyak, tapi yang aku ingat hanya beberapa tembang saja.
Diantaranya ;

Bapak Pucung
Dudu Mego dudu mendung 
Dowo koyo ulo
Ancik-ancik Wesi miring
Yen lumampah si Pucung ninggal suworo.

Bapak Pucung
Lambemu marep menduwur
Sabamu ing sendang
Pencokamu lambung kiring
Prapten wismo si Pucung muntah kuwoyo.

Itulah kenangan-kenangan manis yang tak mudah terlupakan.

Surabaya 15 Agustus 2019.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel