Fondasi Ilmu Adalah Adab


Oleh: Sudono Syueb 

Kalau sebuah bangunan bertingkat tingkat kekuatan utamanya  terletak pada fondasinya, maka kekuatan ilmu ( knowledge) juga terletak pada fondasinya. Jika ilmu itu tidak ada fondasinya, maka ilmu itu jadi liar, sombong dan bersifat merusak. 
Oleh karena itu, ilmu itu butuh fondasi yang kokoh, dan fondasi ilmu adalah ADAB atau AKHLAK.

Adab adalah norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama, terutama Agama Islam. Norma tentang adab ini digunakan dalam pergaulan antarmanusia, antartetangga, dan antarkaum. Sebutan orang beradab sesungguhnya berarti bahwa orang itu mengetahui aturan tentang adab atau sopan santun yang ditentukan dalam agama Islam.
Adab menurut bahasa Arab adalah kesopanan, tingkah laku yang baik, kehalusan budi dan tata susila. Ada juga berarti pengajaran dan pendidikan yang baik sebagaimana sabda Rasulullah "Sesungguhmya Allah telah mendidik daku dengan adab yang luhur dan jadilah pendidikan adabku istimewa"
Islam tak hanya menekankan pentingnya ilmu, Adab atau akhlak mulia juga sangat penting, bahkan lebih penting dari ilmu itu sendiri.

Adab ( etika ) dan Akhlak ( budi pekerti ) adalah dua hal yang paling penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan dua hal ini. Tidak heran jika para ulama dahulu menasehati kepada para penutut ilmu untuk belajar adab sebelum belajar yang lain. Seorang muslim selalu memegang adab dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia dengan senang hati. Adab dan akhlak ini menjadi tolak ukur kebaikan seseorang. Seperti di dalam hadis Nabi Muhammad SAW: "Sesungguhnya diantara yang terbaik dari kalian adalah yang paling mulia akhlaknya."(HR. Bukhari no. 3559 dan Muslim no. 2321).

Memperbaiki akhlak manusia adalah menjadi satu misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW. Sesuai dengan hadis Rasulullah,"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia." (HR. Ahmad / 318, dishahihkan Albani).

Sabda Rasulullah menegaskan hal itu, "sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia." Imam Malik bin Anas adalah salah satu ulama besar. Beliau adalah guru dari Imam Syafi`i dan sahabat berdiskusi Imam Abu Hanifa. Semua kejeniusan Imam Malik tidak lepas dari peran ibunya. Ibunya ingin agar Imam Malik menjadi seorang ulama, maka ia mengirimnya untuk belajar di rumah seorang ulama besar bernama Rabi`ah biin Abdurrahman.

Sebelum berangkat ibunya berpesan "pelajarilah adab Syaikh Rabi`ah sebelum belajar ilmu darinya." Adab memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam menuntut ilmu , terlihat dari kisah Abdurrahman bin Al-Qasim, salah satu murid Imam Malik. Ia bercerita bahwa "aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun, 2 tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab. seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk mempelajari adab (tentu aku lakukan)."

Post a Comment

0 Comments