Cerpen WARUNG NASI PECEL PAK ABDULLAH, TIPE SSSS


Oleh      : Ihsanuddin Alumni YTP
                Kertosono.

Editor: Sudono Syueb

     Harianindonesiapost.com Di sudut sebuah kota kecil, berdiri bangunan sederhana berbentuk terasan, itulah warung nasi pecel milik pak Abdullah.
Pak Abdullah orangnya penyabar dan juga humoris, maka sudah tak heran kalau warung pak Abdullah selalu ramai pengunjung.

   Pak Abdullah sebenarnya adalah seorang veteran dalam perang kemerdekaan, yang dulunya tergabung pada lasykar Hizbullah,  hanya saja pak Abdullah tidak tercatat  sebagai veteran dalam catatan pemerintah, memang beliau tidak mau ribet-ribet mengurusnya , karena beliau ingin benar-benar merdeka, katanya.
Pak Abdullah juga sering bercerita dimasa perang menghadapi tentara sekutu yang diboncengi NICA, terutama serdadu Gurkha.
Menurut cerita pak Abdullah, serdadu Gurkha kalau berhadapan dengan lasykar Hizbullah, mereka tidak berani menyerang, mereka malah mengarahkan tembakannya keudara, karena lasykar Hizbullah selalu bertakbir saat menghadapi musuh, malah serdadu Gurkha ikut bertakbir pula .
Pak Abdullah samasekali tidak punya keinginan untuk diakui sebagai veteran, walaupun saat ikut mempertahankan kemerdekaan dulu beliau harus mengorbankan salah satu kakinya yang di amputasi karena terkena pecahan mortir.
Pak Abdullah meskipun tidak tercatat sebagai veteran, namun beliau cukup bangga bisa ikut berjuang demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan beliau pun sangat bersyukur meski harus pakai kaki palsu beliau masih bisa berkarya.
Pak Abdullah sudah merasa bahagia dengan kehidupan yang beliau jalani saat ini, walaupun hanya mengandalkan warung nasi.
Cuma harapannya "warungnya jangan sampai kena gusur*.

WARUNG NASI PECEL TIPE SSSS

     Ketika di tanya' kok warung nasi pecelnya pake tipe segala...?

Pak Abdullah pun menjawab dengan enteng " Lho ... Kan harus sesuai to..? , saya beri tipe SSSS, karena pecel saya memang Sungguh Sangat Sederhana Sekali, yaitu nasi pecel yang hanya di temani tempe dan peyek saja, tak ada ayam goreng, apalagi empal..........." he he he he...

   Pagi itu warung pak Abdullah sungguh ramai, walaupun pecel jualanya benar-benar sangat sederhana, namun bagi orang sekitar, rasa dan kepuasan adalah urusan lidah.
Dari sekian banyak orang yang lagi sarapan di warung pak Abdullah, rupanya ada seorang yang agak beda dengan dengan yang lain .
Orang tersebut sepertinya baru kali ini makan di warung pak Abdullah.
Mula-mula orang itu menanyakan 
-" Pecelnya ikan apa pak..? "

+" Cuma peyek dan tempe saja"  jawab pak Abdullah.

-" Pecel kok gak ada ikannya" sela orang tersebut agak kethus .

+" Memang itu adanya, bagaimana jadi sarapan...?" kata pak Abdullah.

Orang tersebut tidak segera menjawab , tapi akhirnya...
-" Baik... Buatkan sepiring dan pecelnya agak banyak". kata orang tersebut.
Pak Abdullah segera melayaninya.

-"Es teh....." pinta orang tersebut singkat.   Dan di saat pak Abdullah membikinkan es teh, orang tersebut sudah menyodorkan piringnya "Nih nambah...!". katanya acuh tak acuh.
Pak Abdullah memberikan es teh  sambil meraih piring orang tersebut lalu meracikkan nasi pecel lagi.
Di saat pak Abdullah mengulurkan nasi pecel itu tiba-tiba orang tersebut melotot sambil berkata : -"piringnya kok tidak diganti...?!!!"

+"Lho, bukannya ini juga piring bekas sampean yang sampean sodorkan...?" kata pak Abdullah.

Mendengar jawaban pak Abdullah, orang tersebut wajahnya tampak memerah seraya berkata -" Sudah buatkan lagi dipiring yang lain..!".
Pak Abdullah pun segera meracikkan lagi di piring yang baru, sambil mengulurkan tangan memberikan pesanan itu , pak Abdullah bertanya : +"Lalu buat siapa yang sepiring itu ...?".

-"Terserah...! Jawab orang tersebut singkat .

Pak Abdullah belum sempat berfikir,  orang tersebut sudah menyodorkan gelasnya -" esnya tambah .." katanya singkat.

+" Gelas baru....?!" tanya pak Abdullah agak gemes.

-" Ya pikir aja sendiri " katanya

Orang-orang yang sama-sama makan di warung itu hanya memperhatikan meskipun tampak lkut gemes ......

Beberapa saat setelah orang itu habis makan dan mulai menyalakan sebatang rokok, pak Abdullah bertanya pada orang tersebut : +"Mas, maaf... trus yang sepiring ini untuk siapa...?"

-"Ya terserah bapak..." jawabnya singkat.

+"Lhoh... kok gitu....???!" kata pak Abdullah .

-"Lhoh kok gitu bagaimana... Pembeli kan raja ...?! katanya .

Pak Abdullah geleng-geleng kepala seraya berkata +"Maaf mas, sampean raja negeri apa dan dimana , serta siapa yang mengangkatnya...???". Setahu saya disini tidak ada kerajaan" lanjut pak Abdullah.
Orang tersebut tampak merah padam mendengar ucapan pak Abdullah. Sementara orang-orang yang ada di warung hanya pada bengong.

Sudah kepalang basah, pak Abdullah pun melanjutkan bicaranya: +"Maaf semuanya, bapak terpaksa bicara, karena dengan istilah PEMBELI ADALAH RAJA itulah VOC bisa menguasai Nusantara ini selama 350 tahun " dan ucapan itu yang paling bapak benci".  Bapak dan para pendahulu kita berjuang untuk mencapai kemerdekaan, bukan untuk menciptakan penjajahan baru dengan model apapun.
Ingat itu.........."

Suasana warung jadi berubah hening, semua yang ada di warung hanya diam dan saling berpandangan .     Sementara orang yang satu tadi tertunduk dan mulutnya seakan terkunci.

Setelah beberapa saat suasana hening, meski agak berat orang yang tadi sok jadi raja tampak menarik nafas panjang, dan bicara sedikit gemetar minta maaf pada pak Abdullah.
Dan kebekuan pun menjadi  normal setelah pak Abdullah melucu sambil menunjukkan bahwa kakinya yang sebelah kiri adalah kaki palsu.

     Beberapa tahun sudah berlalu, pak Abdullah mengais rezeki di warung itu ,kini pak Abdullah harus merelakan warungnya dirobohkan oleh satpol PP, karena Bangli dan Pedagang Kaki Lima harus di bersihkan dari dalam kota , demi keindahan dan penegakan perda .

Pak Abdullah hanya bisa menerima nasib.
Tersirat dalam fikiran pak Abdullah;
Inilah kemerdekaan, keindahan kota, tegakkan Perda. Soal rakyat kecil bisa makan atau tidak ya.......

Jawab sendirilah........???!!!

17 Agustus 2029.

Post a Comment

0 Comments