Socialize

Catatan budaya: Manfaat Pewayangan


Oleh: Didik Akhmadi

(Pengamat Budaya & Politik)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Lakon lakon yang ada dalam kisah pewayangan baik yang sesuai pakem dan yang carangan hanyalah produk pemikiran dan kreasi manusia saja. Kumpulan cerita lakon itu bukan dan sangat jauh dari "ahsanal qoshoshi" dalam standar qur'ani.

Meski pun demikian, dalam batas batas sebagai pemikiran manusia, lakon lakon pewayangan sangat kaya dengan cerita cerita perilaku masing masing tokoh paraga wayang pada lingkup dan level kerajaan. Apa yang ditawarkan dari lakon pewayangan itu adalah metaphor metaphor yang bisa digunakan sebagai simbolisasi sebuah gerakan. Misalnya, lakon Pendawa Kumpul, Wisanggeni Gugat, Ranjaban Abimanyu, Kresna Tanding, Jumenengan Parikesit masing masingnya melambangkan pergerakan tersendiri.

Al-Qur'an jelas memuat kisah para Nabi dan Rosul serta kisah kisah para pejuang dakwah. Kisah kisah tersebut baik secara lengkapnya mau pada masing masing episodenya juga menyediakan metaphor metaphor sebuah pergerakan dakwah.

Lalu, bagaimana menyambungkan kedua sumber tersebut dalam perumusan dan penyusunan metaphor gerakan? 

Boleh boleh saja jika kisah kisah para Nabi dan Rosul tersebut menjadi sebuah metaphor. Hanya saja ketika metaphor gerakan yang diturunkan dari kisah para Nabi dan Rosul itu merupakan  sebuah pemikiran kemanusiaan atau pun sebentuk ijtihad maka pengambilan metaphor itu bisa mengandung kelemahan atau pun kesalahan. Bahwa metaphor yang diambil dari kisah para Nabi dan Rosul itu bisa dijadikan sebagai sumber semangat sangat bisa difahami. 

Kita bisa membaca dan menguraikan sejarah para Nabi dan Rosul bisa tuntas  dalam sehari semalam. Namun jika diterapkan sebagai jalan pergerakan maka perjalanan pergerakan  itu sendiri perlu ditempuh melalui perjalanan yang sangat panjang dalam ukuran waktu kemanusiaan.

Lakon lakon cerita pewayangan bisa dianggap sebagai informasi yang terekam lewat indera kita. Bila telah terekam, kita perlu lakukan proses seleksi dan evaluasi. Jika lakon wayang itu cukup baik untuk dijadikan sebagai sebuah metaphor pergerakan, ambillah. Wayastami'unal qoula fayattabi'una ahsanah.

Intinya, lakon lakon wayang bisa menjadi suplemen dalam perumusan metaphor gerakan. Eeh, sering kita temui sebuah pertanyaan: kalau kita sekarang ini berada dalam era oposisi, kira kira apa lakon wayang yang menggambarkan posisi tersebut?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel