Catatan Budaya: Gondomono Luweng


Oleh: Didik Akhmadi

(Penganat Budaya & Pilitik)

Harianindonesiapost.com Kisah kelicikan Sengkuni itu salah satunya terungkap pada lakon "Gondomono Luweng". Ambisinya menjadi patih kerajaan Ngastino ditempuh dengan cara licik, dan menjadikan patih Gondomono sebagai korbannya. Tak hanya itu, setelah diangkat jadi  patih Ngastino, Sengkuni pun merenggut kehormatan keluarga Patih Gondomono yang berujung kematian istri Gondomono. Betapa marahnya Gondomono kepada Sengkuni. 

Dalam konteks sanggit lakon wayang, lakon "Gondomono Luweng" ini setidaknya ada dua pengisahan lakon. Kasus "Gondomono Luweng" terjadi saat Prabu Arimbo yang diutus ayahandanya mengirim surat ke Prabu Pandu Dewonoto, yang aslinya untuk menjalin silaturahim. Tapi, diubah Sengkuni isi suratnya sebagai tantangan perang. Atau, dengan penceritaan yang lain. Gondomono Luweng terjadi pada saat Gondomono mau membantu Bima pada saat Bima lakukan pembangunan atau babad alas Wonomerto.

Penceritaan dengan konteks yang berbeda ini bisa bisa saja terjadi. Karena seorang dalang punya kewenangan mengolah sanggit sendiri.

Pituturipun: 

kekarepan golek pangkat lan kamulyan yo oleh oleh wae. Ning aja nganti nggawe tuna marang liyan. Apa maneh karo sedulur dhewe

Pelajarannya:
Punya keinginan untuk kenaikan pangkat jabatan atau kemuliaan bole boleh saja. Asal tidak merugikan pihak lain. Apalagi merugikan sahabat atau saudara sendiri.

Post a Comment

0 Comments