Socialize

Catatan budaya: Banjaran Abiyoso


Oleh: Didik Akhmadi

(Pengamat Budaya Jawa & Politik)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Lokus cerita lakon "Banjaran Abiyoso" ini berada pada kisah mbah buyut (Begawan Palasara) dan mbah-nya (Begawan Abiyasa) para Kurawa dan Pandawa.  Kebanyakan tampilan lakon wayang itu ada pada lakon Pendawa versus Kurawa. Lakon "Banjaran Abiyoso" menjadi sangat menarik karena menampilkan sebuah cerita lakon wayang yang bisa mengungkapkan akar sejarah trah Pandawa dan Kurawa. Pandawa dan Kurawa sesungguhnya berada masih satu keluarga, menyatu pada kakek, tetapi berbeda neneknya. 

Lakon wayang "Banjaran Abiyoso" penuh muatan falsafah pewayangan, bagaimana tokoh tokoh wayang tertentu menyikapi sebuah kekuasaan. 

Ada Durgandini yang terpaksa berpisah dengan suami (Begawan Palasara) dan anak bayinya (Abiyoso) demi menjaga keutuhan kerajaan. Sebagai putri kerajaan Wiratha, dia menanggung beban  bersedia menerima lamaran Sentanu Raja Astina. Meski sudah bersuami dan beranak. Tentu, pilihan itu sangat berat. Baru sikap itu ditetapkan oleh dirinya, setelah dia mendapatkan nasihat dan saran dari suaminya.

Dewa Brata, anak Sentanu, punya sikap untuk tidak mau menerima kekuasaan sebagai raja dan tidak menikah demi menjaga keutuhan kerajaan dari Astina. Sikap itu terucap dalam sebuah sumpah, demi memudahkan ayahandanya bisa menikahi Durgandini. Dia pun dengan susah payah mencari penyebab kenapa Durgandini tak begitu saja menerima lamaran Sentanu. Durgandini bersedia menjadi istri Santanu bila Santanu berjanji bahwa  anak dari keturunannya lah yang menjadi penerus kerajaan. Dewa Brata lebih baik mengalah dari pada  ayahnya mengalami kegalauan jiwa saat mau melamar Durgandini.

Suasana menjadi pelik ketika Astina kesulitan mencari pengganti Santanu. Santanu meninggal, sementara dua anak penerus kerajaannya (Citranggada dan Citrawirya) juga meninggal,  kemudian yang tersisa tinggal Dewa Brata dan Abiyasa.

Durgandini galau siapa penerus kerajaan Astina. Saat ditawarkan untuk menjadi raja, Dewa Brata menolak. Saat ditawarkan agar dia punya keturunan lewat tawaran pernikahan dengan Amba dan Ambalika, Dewa Brata juga menolak. Dia tidak mau melanggar sumpahnya.

Abiyasa yang sudah menampilkan diri sebagai begawan tidak juga mau menerima limpahan kekuasaan. Apa dikata jika kekuasaan yang dia terima hanyalah sebuah pelimpahan, bukan karena perjuangan. Dia bersedia menerima untuk dinikahkan dengan Amba dan Ambalika hanya demi memenuhi permintaan ibunya agar kerajaan punya calon pelanjut raja. Pernikahan pun Abiyasa menjadi hambar tak disertai landasan perasaan cinta. Demikian juga, penerimaan Amba dan Ambalika dikawinkan dengan Abiyasa. Keduanya  terpaksa menerima tawaran Durgandini demi melanjutkan trah kerajaan.  Keduanya juga menerima tanpa landasan cinta. Bahkan cinta yang sesungguhnya dari Amba itu ditujukan untuk Dewa Brata. Sementara, Dewa Brata menolak cinta Amba karena menjaga sumpahnya.

Cinta, kuasa, jiwa jiwa kepahlawanan terangkai dalam sebuah lakon cerita yang menarik.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel