Al Ghozali Ingin Jadi Qadhi Negara

Oleh: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Teman baik saya bilang, ada wang disit. Mungkin yang dimaksud ada orang  dapat pelayanan lebih dulu (disit) karena memberi uang pada petugasnya. Sementara yang tidak memberi wang diakhirkan pelayanannya, bahkan disuruh kembali besok dan besok.

Barangkali di lembaga pendidkan juga pernah ada tradisi seperti itu, dulu. Ada wang murid disayang...
Ga ada wang murid ditendan/diusir. 
Hal seperti itu yang pernah dialami Al Ghozli kecil, diusir Syaikhnya dari Dayah tempat dia menuntut ilmu agama, karena bekalnya habis...

Ada yg Pernah baca biografi Al Ghozali kecil diusir dari Dayah karena bekal habis?
Temanku jauh di Batu licin, Kalsel, yang juga Ghozalian nyaut, belum.
Baik, saya lanjutlan ceritanya, 
Al Ghozali diusur gurunya itulah yg jadi titik balik niat Al Ghozali  mencari ilmu ikhlas semata karena Allah  berubah jadi prakmatis...
Dia merintih, kenapa orang miskin tidak boleh mondok dan pinter.
Untuk jadi pinter, berarti harus kaya. Lalu dia ingin jd org kaya
 Caranya? Dia harus belajar fiqh/hukum lslam supaya bisa jadi hakim/qodhi negara yang gajinya besar. Saat itu memang jadi ahli fiqh merupakan cita cita banyak remaja agar bisa jadi hakim/qadhi. 
Ghozali lalu mencari guru ahli fiqh. Dapat. Bisa mondok, bayarnya setelah lulus dan sudah bekerja.
Beberap tahun dia belajar fiqh dengan tekun. Berhasil. Tujuan dia trcapai, dia jadi ahli fiqh/hukum n di kemudian hari dia jadi Qadhi negara dengan gaji besar. Dia jadi kaya raya dan sangat terkenal.
Di puncak kejayaannya, dia tidak bisa merasaksn nikmatnya jabatan n harta melimpah, jiwanya gersang, dia ngalami kegoncangan batin. Ini titik balik dia ke 2
 Dia tinggalkan jabatan Qadhi yang dia impikan sejak muda dan hartanya juga ditinggalkan. Dia hidup miskin n menderita. Dari titik balik ke 2 ini, dia kemudian tahannus di menara masjid di kotanya, hingga lahirlah karya karya masterpeace nya. Di antaranya, Ihya 'Ulumuddin
Demikian...

Lantas apakah kita harus mengalami pristiwa hidup seperti Ghozali untuk bisa mengGhozali?
Menurut saya tidak harus...
Sedari kecil kaya juga bisa mengGhozali...
Punya jabatan tinggi dan kaya raya juga bisa, tanpa hrs pensiun dini n memiskinkan diri serta menderita.
 Maka jangan seperti teman saya di Yogya dulu. Dia pengagum Ghozali n kepingin menggozali. Lalu dia tinggalkn  bangku kuliah dan pergi menuju  pondok. Terakhir saya dapat kabar, dia gagal jadi ustadz n tidak bisa kembali lagi ke bangku kuliah untuk menyelesaikan kuliahnya.

Post a Comment

0 Comments