About Me


Politik Rendah


Oleh: Ahmad Darojul Ali, S.H.

(Alumni Pinpes YTP, Kertosono sekarang Dosen Univ. Ibnu Chaldun, Jakarta)

Harianindonesiapost.com Kita sering bicara tentang politik Machiavellis, dengan konotasi tidak sehat, penuh muslihat.
Machiavelli tokoh kontroversi, dilihat tentang ajaran politiknya. Baginya, kekerasan, kekejaman, brutalitas adalah cara2 yang perlu diambil oleh penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya.
Pendek kata cara apapun sah untuk meraih kekuasaan ( al ghoyah tubarrir al-washilah ).
Pandangan seperti ini akan menjadi kan aktor politik jadi dingin dan tega melakukan apapun walau sering menyakiti sesama atau sahabat sekalipun.


Kedua, Machiavelli memberi gambaran bahwa, sebagai KEBIKAN PUNCAK, bila musuh2 politik ditaklukkan, di musnahkan secara total. Musuh tidak perlu dikasih kesempatan untuk bangkit, dan diperlakukan aja seperti barang, bila butuh diambil ( dibeli ) bila tidak dibuang ketempat samapah.
Politik semacam hanya berorentasi sebagai arena perebutan kekuasaan ( struggle for power ) lalu menguasai pemerintahan.


Maka menurut Machiavelli siapapun yang berkuasa harus menindas, melakukan penekanan2, ketakutan2 pada musuh politik atau rakyat itu sendiri.
Nilai2 kebersamaan dan ukhwah sesuatu yang asing menurut Machiavelli.

Ketiga, dalam menjalankan kehidupan polotik, penguasa harus tampil bagai singa yang kelaparan, yang membuat takut orang atau siapapun yang berbeda pendapat dan arus kekuasaan.


Bila sekilas ajaran politik Machiavelli ini masuk dan menggerogoti para politisi suatu negara, gak bisa kita bayangkan kehidupan negara itu.
Maka, Hukum tidak akan jadi panglima, yang jadi panglima tentu politik itu sendiri.
Aktifitas politik ala Machiavelli tentu tidak bisa senyawa dengan aktifitas dakwah.

Bahwa politik sesungguhnya bagi seorang muslim adalah bagian aktifitas dakwah.

Lalu bagaimana masa depan dakwah di indonesia dalam politik bila carak politisi kita agak menjauh dengan aktifitas politik tinggi dan agak mendekat dengan aktifitas politik kualitas rendah..

Waallahu'alam.
" Tak selamanya mendung itu kelabu "

Jakarta, 28 juni 2019.
ADA.

Post a Comment

0 Comments