About Me


Muhammad Ain: Di Kamar Seperti Orang Gila, Di Atas Podium Seperti Singa


0leh: Sudono S. Madpuri

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dam UGM, Yogyakarta)

Harianindonesiapost.com Sebentar lagi,
Sabtu 13/7, akan diadakan Haflah Milad 70 tahun  Pondok Pesantren Ar Roudlotul Ilmiyah yang lebih dikenal pondok YTP Timur Pasar, Kertosono, Nganjuk. 
   Haflah Milad 70 tahun pondok YTP ini dikomandani oleh Dr. Amam Fahrur, SH, MH.
   Pondok YTP ini didirikan oleh KH. Salim Akhjar pada tahun 1949. Setelah beliau meninggal tahun 1974, mudir pondok YTP dipercayakan pada KH. Mustain Kastam, dari Dengok, Paciran, Lamongan,  santrinya sendiri oleh para pengurus Yayasan Taman Pengetahuan. Dan ketika KH. Mustain meninggal, pondok YTP dipimpin oleh KH Ali Mansur Kastan, adiknya, sampai sekarang.    
   Peringatan Milad  pondok YTP ini baru yang pertama kali ketika usia pondok sudah 70 tahun.
   Di sela sela mempersiapkan Milad ini, saya teringat tulisan ust. Muhammad Ain, S.Pd.I, M.Pd.l, alumni ponpes YTP, ,Kertosono, yang pernah dimuat media OL tahun 2018 dengan judu: Di Kamar Seperti Orang Gila, Di Atas Podium Seperti Singa.

"Saudara saudara kaum muslimin, rohimakumulloh... ", suara lantang meniru gaya dan intonasi khas da'i sejuta ummat K.H. Zainuddin MZ (alm) ini terdengar sangat jelas dari kamar targhib. Kamar yang berada tepat di sebelah timur kamarku, kamar al-irsyad. Kamar sejuta kenangan yang menjadi saksi dan merekam dengan rapi setiap peristiwa yang kualami selama tiga tahun nyantri di YTP. 
Sebagai salah satu penghuni baru yang masih polos, lugu, dan belum banyak tau tentang agenda kegiatan serta kebiasaan para santri, saya pun merasa penasaran dengan suara lantang di siang bolong itu, mengingat di kamarku sendiri sepi tidak ada kegiatan apapun. Dengan langkah ragu agak malu saya keluar dari kamar bermaksud untuk mengintip kamar sebelah. 

Muhammad Ain dan Keluarganya

Subhanallah, Betapa kaget sekaligus keheranan saya menyaksikan seorang santri sedang berpidato lantang dengan gaya tangan diacung acungkan dan tentunya dengan intonasi suara meniru sang dai sejuta ummat yang sangat populer dan banyak menjadi idola di saat itu. Lemari kecil setinggi dada ia jadikan sebagai mimbar terbuka. Dengan penuh semangat ia bacakan kutipan ayat demi ayat, hadits demi haidts, dan tak ketinggalan pula qoidah qoidah ushul fiqh yang saat itu masih sangat asing buat saya, seolah ribuan hadirin menyimak khidmat pidatonya. Padahal, tak kulihat seorang santripun di kamar itu yang menyaksikan atau mendengarkan pidato yang begitu menggelegar dan menggebu gebu itu. Para santri lain nampak asyik dengan kesibukan mereka masing masing. Ada yang sedang membaca, berlatih tarjamah perkata,  menulis, merapikan barang barang di lemari, ada yang santai ngobrol, bahkan ada yang tertidur lelap. Secara umum suasana di kamar ini tidak jauh beda dengan suasana di kamarku al-irsyad maupun kamar kamar lainnya. 
Ya, memang saat itu adalah jam istirahat yang dimanfaatkan oleh salah seorang santri untuk berlatih pidato karena malamnya ia akan tampil menyampaikan materi yang telah dipersiapkannya saat mumarosah. 

KH Salim Akhjar

Bagi para santri senior latihan semacam ini mungkin hal yang biasa, makanya mereka pun nampak cuek saat ada temannya bersuara lantang menyampaikan taushiyah. Namun bagi saya yang masih baru tentu hal ini sangat mengagumkan dan luar biasa. Terlebih lagi saya termasuk anak yang mengalami syndrom/demam panggung. Setiap kali disebut nama saya untuk naik ke mimbar saat muhadhoroh di Tsanawiyah dulu, seketika itu lututku bergetar, jantung berdebar debar,  konsentrasi buyar, bicarapun jadi "ngglambyar". 
Namun tidak demikian dengan apa yang saya saksikan pada sosok santri tetangga kamarku ini. Ia begitu berani dan percaya diri meski nampak seperti orang gila yang teriak teriak ngomong sendiri dengan jari diacung acungkan berkali kali. 
"Benar benar sudah hilang rasa malunya santri ini, masak dia ngomong sendiri, teriak teriak sendiri, padahal bukan waktunya muhadhoroh dan tidak ada seorang pun yang memperhatikan atau mendengarkannya. Kok gak malu dia.? Luar biasa santri ini." Gumam kagum saya dalam hati. 

Dari Kiri; KH Salim Akhjar, KH. Mustain Kastam dan KH. Ali Manshur Kastam

Begitulah salah satu keunikan dari para santri YTP yang sangat berkesan dan membuat saya terkagum di hari hari awal nyantri. Itu baru proses latihannya, maka jangan ditanya lagi bagaimana performa mereka ketika tampil sungguhan di atas mimbar. Suara mereka lantang laksana auman singa yang menggetarkan rimba belantara. Intonasi dan gaya mereka tak kalah hebat dengan gaya orasinya bung Karno sang proklamator Indonesia. 
Belum lagi ketika tiba saatnya munaqosah. Tumpukan kitab di samping mimbar telah siap sedia. Dengan sengitnya para santri beradu argumen dan hujjah. Dinukilkan ayat ayat maupun hadits hadits yang telah teruji keshohihannya. Disertai dengan analisa qoidah ushul fiqih, manthiq, balaghah, maupun tata bahasa. 
Ah, benar benar mereka ini sungguh luar biasa..!! 
Dari mereka inilah saya banyak belajar,  banyak termotivasi, dan bertekad untuk memberanikan diri. Sebagian gaya mereka saya amati, saya duplikasi, dan terkadang sedikit saya improvisasi, hingga akhirnya saya benar benar berani unjuk diri meski selalu saja diawali dengan debaran jantung dan rasa grogi. 

Terima kasih senior... 
Terima kasih teman-teman..  
terima kasih YTP... 
untuk semua pelajaran dan pengalaman berharga ini.(Sudono Syueb/ed)

Post a Comment

0 Comments