About Me


Milad 70 Thn Ponpes YTP: 2. Peran KH Dja'far Jasa' Dalam Kesunyian

KH Dja'far Jasa'

Oleh: Sudono S. Madpuri

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan UGM, Yogyakarta)

Harianindonesiapost.com Sebentar lagi, Sabtu 13/7, akan diadakan Haflah Milad 70 tahun  Pondok Pesantren Ar Roudlotul Ilmiyah yang lebih dikenal pondok YTP Timur Pasar, Kertosono, Nganjuk. 
   Haflah Milad 70 tahun pondok YTP ini akan di hadiri tokoh nasional Prof. Dr. Jimly Asshidiqie, Ketua MK 2003-2008.    
   Milad ini dikomandani oleh Dr. Amam Fahrur, SH, MH, yang sekarang menjabat Ketua Pengadilan Agama, Kota Surabaya, denga tema, "MERAWAT BANGSA MELALUI PENDIDIKAN PESANTREN"
   Pondok YTP ini didirikan oleh KH. Salim Akhjar pada tahun 1949. Setelah beliau meninggal tahun 1974, mudir pondok YTP dipercayakan pada KH. Mustain Kastam, dari Dengok, Paciran, Lamongan,  santrinya sendiri oleh para pengurus Yayasan Taman Pengetahuan. Dan ketika KH. Mustain meninggal, 1994, pondok YTP dipimpin oleh KH Ali Mansur Kastam, adiknya, sampai sekarang.    
   Peringatan Milad  70 thn pondok YTP ini yang kedua  kali ketika usia pondok sudah 70 tahun, sedang peringatan pertama ketika usia YTP 50 thn.

KH Salim Akhjar (Pendiri YTP)

   Di sela sela mempersiapkan Milad 70 Thn YTP ini, saya teringat salah satu kyai YTP yang keberadaannya saat itu dan sekarang sangat menentukan keberlangsungan pondok YTP, yaitu KH Dja'far Jasa'.    
   Ketika KH Mustain Kastam meninggal, Pengurus Yayasan Taman Pengetahuan bergerak cepat untuk mencari pengganti Pak Yai Tain (Panggilan akrab KH Mustain Kastam semasa hidup). Dalam rapat yang dipimpin KH Sun'an Karwalib memutuskan secara aklamasi bahwa pengganti KH Mustain Kastam adalah Kyai Ali Manshur dibantu oleh Kyai Ali Hamdi Mudaim dan Kyai "Ali" Dja'far Jasa'. Di kemudian hari, tiga Pengasuh utama ponpes YTP itu lebih dikenal dengan Trio Kyai Ali yang nemiliki peran dan tupoksi masing masing. Kyai Ali Manshur bertugas dan bertanggung jawab secara umum baik keluar maupun kedalam, Kyai Ali Hamdi Mudaim bertugas menjaga kurikulum YTP agar sesuai dengan Sistem dan Paradigma Keilmuan Pesantren yang telah dirintis, dibangun dan dikembangkan oleh KH Salim Akhjar dan diteruskan serta dijaga oleh KH Mustain Kastam, sedang Kyai "Ali" Dja'far bertugas dan bertanggung jawag administrasi santri dan santriwati baik ke dalam maupun keluar, utamanya berkaitan dengan ujian persamaan M.Ts/Wustho YTP dan MA YTP, saat itu. 

KH Salim Akhyar, KH Mustain Kastam & KH Ali Manshur

   KH Dja'far Jasa', teman sekelas saya  ketika sekolah PGAM Paciran, lalu jadi teman lagi ketika nyantri di Ponpes YTP, Kertosono. Ketika saya lulus dari YTP lalu melanjutkan ke UGM, Yogyakarta.  Sementara Kyai Dja'far tetap tinggal di YTP membantu Pak Yai Tain mengasuh santri YTP. Orangnya rajin, tekun dan bekerja diam diam. Menurut Bukhori, dia mengabdi dalam sunyi. 
   Berikut ini catatan Bukhori tentang KH. Dja'far, yang saya nukilkan dari tulisannya berjudul:

Mentadabbur Perjalanan Mujahadah K.H. Ja’far Yasa’ YTP)
(bagian1a)

Oleh: Bukhori at-Tunisi
(Alumni Ponpes YTP, Kertosono; dan 
UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

2. Mengajar di YTP.

Yai Ja’far muda, mulai mengajar di Pondok Pesantren al-Raudlatul Ilmiyah, pada tahun 1980. Beliau mengajar di marhalah al-Wustha, setingkat Madrasah Tsanawiyah. Dengan mata pelajaran Ilmu Faraid (Ilmu Waris) dan Nahwul Wadlih. Sedang pada tahun 1981, mulai mengajar di Madrasah al-Wustha dan Madrasah al-Nihaiyah. Mata pelajaran yang diampu antara lain: Nahwu al-Wadlih, Ilm al-Mushthalah al-Hadits dan ‘Ilm al-Balaghah.

Guru Ilmu Balaghah.

Ilmu Balaghah, Ilmu Retorika. Terkadang orang menyebutnya dengan stilistika (stylistic): Ilmu yang membahas gaya (style) bahasa. Ilmu Balaghah, tak satu pun pesantren yang tidak mengajarkan pelajaran ini. Apalagi pesantren tradisonal, karena banyak syair-syair dilantunkan dengan syahdu dan suara merdu, tidak akan mampu memahami apa yang dimaksud ungkapan yang penuh dengan tamsilan, tanpa Ilmu Balaghah. Misalnya syair yang sangat terkenal:

طلع البدر علينا # من ثنية الوداع
وجب الشكر علينا # ما دعا لله داع
ايها المبعوث فينا # جئت بالامر مطاع
....
انت شمس انت بدر
انت نور فوق نور

Sang Purnama datang kepada kami
Dari  Lembah Wada’
Kami wajib bersyukur
[datangnya] sang penyeru kepada Allah
Duhai orang yang diutus dari kalangan kami
Engkau datang membawa seruan yang harus ditaati.


Engaku matahari
Engkau rembulan
Engkau cahaya di atas cahaya.

Tidak mungkin syair di atas difahami secara tekstual, karena mustahil bulan purnama terbit dari daerah utara, yaitu Lembah Wada’, sebab lembah tersebut berada di daerah Negeri Syam. Sedang Negeri Syam ada di utara Madinah. Qarinah tersebut menjadi petanda bagi pengalihan makna yang sebenarna (ma’na al-haqiqi) ke makna yang tidak sebenarnya (ma’na al-majazi). Makna asal, yaitu bulan, kemudian diartikan kepada makna yang tak sebenarnya, yaitu Nabi Muhammad. Pengalihan makna tersebut dilakukan agar dapat difahami maksud yang sebenarnya dari syair di atas. Karena syair di atas, memang ditujukan untuk menyambut kedatangan Nabi Muhammad dan pasukannya dari Perang Tabuk, di daerah Syam.

 Masyarakat Madinah, para Sahabat Nabi yang mencintai Rasulnya. Merasa gembira atas kepulangan Sang al-Qaid al-A’zham, Nabi Muhammad saw., dari ekspedisi militernya di daerah Utara Negara Madinah. Mereka “menyamakan” (tasybih) Rasulnya dengan “bulan purnama”. Penyamaan tersebut, sebagai petanda dari rasa rindu, kangen, cinta, kagum dan bangga masyarakat Madinah kepada Rasul tercintanya, hingga mereka mentasybihkan Rasul tercintanya dengan Bulan Purnama (al-badr) yang menerangi gelapnya malam. Kalimat majaz (metafora) yang digunakan, merupakan suatu untaian kalimat indah (badi’) yang tak ternilai dari sekedar sebuah simbol bahasa. Bahasa hanyalah wakil dari sebuah ungkapan perasaan yang terpendam di dalam hati terdalam dan fikiran yang membahana.

Dalam bahasa dan budaya Indonesia, banyak menggunakan istilah ideomatik seperti ayam kampus, kupu-kupu malam, ringan tangan, hidung belang, meja hijau, pinjaman luar negeri, diamankan, rakyat, pancasilais dan seterusnya. Semua istilah tersebut, manakala diartikan dengan makna yang sebenarnya (leterlek), tidak akan dimengerti dan akan salah faham. Sehingga harus diartikan dengan makna majazi (makna yang tidak sebenarnya).

Ungkapan Anta badrun merupakan kalimat tasybih yang dibuang adat tasybih dan wajhu shabbahnya sehinga tergolong tasybih baligh. Penyerupaan yang mengandung pengertian yang sangat dalam (‘amiq). Semakin tidak disebutkan tujuan penyerupaan (wajhu syabbah), maka ungkapan tersebut semakin memuat apa saja (istighraq) yang bisa masuk di dalam tujuan yang tercakup di dalamnya.

Dalam istilah Ushul Fiqih, hadzf al-ma’mul yufidul ‘umum (membuang obyek, berfungsi umum). Jadi semua yang tergolong dalam kategori yang disebutkan, semuanya masuk kategori tersebut.

Makna-makna (al-ma’ani) itulah yang diinginkan orang yang menyampaikan (mutakallim, mukhathib) agar terdengar indah (badi’) di telinga orang yang mendengarkan hingga menyentuh qalbu dan fikirannya (balaghah) Kefashahahan ungkapan, sangat menentukan pengaruh (atsar) pemahaman terhadap pesan yang disampaikan. Diksi yang dipilih, mulai dari huruf, kata, kalimat hingga frasa, menentukan sampainya pesan yang diinginkan seseorang. 

Ilmu Balaghah mengarahkan agar dalam menyampaikan pesan, gagasan, fikiran dalam bentuk kata, kalimat, puisi, prosa atau pun maqalah, terhindar dari salah qaidah gramatika (nahwiyyah), morfologi (sharfiyyah), tidak kontekstual (haliyyah), mengandung tanafur al-huruf  (penggunaan 2 huruf atau lebih dalam satu relasi antar kata yang sulit diucapkan) sehingga sulit dimengerti oleh orang lain. Contoh ungkapan dalam bahasa Indonesia yang sering diucapkan pemain Ludruk (seni drama panggung asli Jawa Timur):

Jupuen mur lore rel sepur

Kalimat di atas, sulit diucapkan karena dekatnya makhraj huruf “r” dengan huruf “l” yang diulang-ulang. Hal yang sama, dalam ungkapan syair Arab di bawah ini, karena menggunakan kata-kata yang berdekatan artikulasinya (makhraj huruf), sehingga sulit diucapkan:

وقبر حرب بمكان قفر # وليس قرب قبر حرب 
(wa qabru harbin bi makanin qafrun
Wa laisa qurba qabri harbin qabrun)

(Kubur musuh ada di suatu tempat yang sunyi
Dan tidak ada kubur lain di tempat kubur itu)

Bandingkan dengan pengulangan kata-kata yang ada di dalam al-Qur’an, namun tetap mudah diucapkan dan maknanya pun dalam juga:

وفعلت فعلتك التي فعلت و انت من الكافرين

(wa fa’alta fa’lataka ‘llati fa’alta wa anta mina ‘lkafirin)

(Dan [Musa], kamu telah melakukan [kesalahan] dari  perbuatan yang telah kamu lakukan. Kamu termasuk orang-orang tidak tahu berterimakasih)
[QS. Al-Syu’ara’ [26]: 19.

Dalam hidup tak mungkin melepas sedikit pun menggunakan ungkapan yang dapat menarik perhatian dan simpati orang lain melalui ungkapan yang disampaikan.

Dalam Ilmu Balaghah, diajarkan menggunakan ungkapan yang sesuai dengan  muqtadlal hal (situasi dan kondisi), agar tidak sia-sia. Qalla wa qila (sedikit ungkapan, namun mengena). Menggunakan kalimat yang pendek (ijaz) namun menusuk jantung persoalan. tetapi tidak semua mustami’ suka seperti itu, terkadang harus menggunakan kalimat yang panjang (ithnab), berputar dan berulang, agar yang disasar kena. 

Bukhori At Tunisi

Ada juga orang yang tidak senang dengan ungkapan panjang (ithnab), berputar-putar dan diulang-ulang, sehingga harus menggunakan kalimat yang singkat (ijaz) dan jelas (sharih); namun, juga tidak semua orang senang menggunakan kalimat ijaz, karena terkesan “pelit”, sehingga perlu ngalor-ngidul agar mengena (balaghah) pada sasaran.

Contoh ungkapan lain, yang menggunakan kalimat tamanni dalam mengungkapkan angan-anganya yang lagi asyiq-masyuq (rindu)2 sejoli yang lagi kasmaran: 

يا ليل طل #  يا نوم زل
يا صبح قف # لا تطلع
الا ايها الليل # الا انجلي بصبح
وما الاصباح منك بامثل 

Wahai malam, panjanglah!
Wahai tidur,menyingkirlah!
Wahai subuh, berhentilah!
Jangan tampakkan[ dirimu]!

Wahai malam yang panjang!
Jangan [serahkan dirimu] pada siang!
Indahnya subuh,
 tak sebanding dengan yang sekarang.

Ungkapan yang sangat mengasikkan dari sebuah aduan rindu kasih yang terlampiaskan dari 2 sejoli, meskipun angan-angan itu tak sampai (tamanni) dalam kenyataan. Kesan yang didapat, betapa berat rindu yang dipendam selama ini kepada sang kekasih, hingga pada saat “berjumpa”, tak mau kehilangan sedetik waktu pun, hingga malam “disuruh” berlama-lama dan panjang. Subuh pun dilarang terbit karena rindu belum terbalaskan.

Saat menceritakah muatan kisah dari syair di atas, Yai Ja’far muda, tersenyum simpul, malu. Karena waktu itu masih bujang. Sedang para santri tertawa: geerrrrrr. Karena “tahu” apa yang dimaksud isi syair tersebut.

Itulah diantara cuilan ilmu yang diwariskan guru dan kyai-ku, Ust. K.H. Ja’far Yasa’, guru Ilmu Bu balaghah dan Ilmu Faraidl.(Sudono Syueb/ed)

Post a Comment

0 Comments