About Me


LAMONGAN PENUH CERITA


Catatan  : IHSANUDDIN 
                  Alumni YTP Kertosono
                   Nganjuk.

     Harianindonesiapost.com Lamongan merupakan salah satu kabupaten di Jawa timur yang wilayahnya cukup luas juga. Ketimur berbatasan dengan kabupaten Gresik, keselatan berbatasan dengan kabupaten Mojokerto dan Jombang, kebarat berbatasan dengan kabupaten Bojonegoro dan Tuban, sementara keutara laut.
Masyarakat Lamongan mata pencariannya beraneka ragam, mulai dari Patani, nelayan, pedagang dan lain sebagainya.
Lamongan juga mempunyai makanan khas, seperti ; Soto Lamongan, wingko babat, tahu Tek dan masih banyak lagi.

     Soal makanan khas Lamongan sepertinya sudah banyak yang membicarakan, maka disini akan saya bicarakan soal kehidupan dan mata pencarian masyarakat Bengawan njero.
Bengawan njero ini istilah yang populer bagi masyarakat yang ada di wilayah kecamatan Glagah, Karangbinangun , Turi dan sekitarnya.
Masyarakat menyebut Bengawan njero karena memang selain Bengawan solo , di Lamongan ini masih ada lagi sungai yg orang setempat menyebut Bengawan njero, atau ada juga yang mengenal dengan sebutan kali Blawi.
Wilayah ini merupakan wilayah yang sering terkena banjir, bahkan bisa dikatakan langganan banjir, dan biasanya banjir di wilayah Bengawan njero ini kalau banjir sampai bulanan. 
Meskipun tiap tahun terkena banjir berbulan-bulan, masyarakat tak pernah ada yang mengungsi.
Mayoritas penduduk disini adalah petani sawah tambak. Dikatakan petani sawah tambak, karena jika musim penghujan lahan mereka dijadikan tambak dan bila menjelang musim kemarau ditanami padi.
Dulu pada tahun 70-an, tambak di isi nener/anakan bandeng dan bader, jadilah tambak bandeng.
Pada pertengahan tahun 80-an, petambak bandeng banyak beralih pada udang windu karena harga bandeng merosot, sementara udang windu harganya sangat menggiurkan dan sangat menguntungkan petani tambak 
Hal ini terjadi pada saat pemerintahan bapak BJ. Habibi.


Namun setelah ganti pemerintahan, rupanya ada pengaruh juga pada petani tambak, harga udang windu merosot, petanipun berganti lagi mengisi tambaknya dengan udang panami , disamping harga jualnya lumayan dan rawatannya lebih mudah .

     Disisi lain mereka yang tidak memiliki lahan/sawah tambak, banyak yang buka warung kopi di luar Lamonga , di Surabaya dan sekitarnya yang terkenal dengan istilah *"Warung Giras"*.
Bahkan menurut cerita dari seseorang yang juga memiliki beberapa warung kopi di Surabaya, istilah *Giras*  itu pertama kali yang mampopulerkan adalah orang Bengawan njero, tepatnya adalah orang dari Desa SOKO , Kecamatan GLAGAH , Kab. LAMONGAN, yang bernama bapak *H. Abdul Hamid*.
Beliau sudah buka warung kopi di Surabaya sejak jaman penjajahan Jepang.
Sementara bagi masyarakat Bengawan njero yang tak punya modal atau yang tak ingin keluar dari kampung, memilih jadi nelayan lokal maupun jadi buruh memanen ikan di tambak (Tukang mirik).

Model nelayan di Bengawan njero sedah barang tentu jauh berbeda dengan nelayan yang ada di daerah pantai, seperti Paciran, Brondong, weru dan sekitarnya.
Masyarakat Bengawan njero mencari ikan dengan cara : Menjala, Prayang, Jarang, Anco , menjaring dan Rumpon.
Hasil tangkapannya pun berbeda .
Nelayan di laut bisa menangkap ikan sampai ber kuwital-kuintal, bahkan mungkin sampai berton-ton.
Sedangkan nelayan Bengawan njero paling hanya puluhan kilo saja.

Post a Comment

0 Comments