About Me


Kiai Salim dan Milad 70 Tahun Pesantren Ar Roudlotul Ilmiyah/YTP, Kertosono



Laporan: Sudono S. Madpuri

Harianindonesiapost.com Sebentar lagi, Sabtu 13/7, akan diadakan Haflah Milad 70 tahun  Pondok Pesantren Ar Roudlotul Ilmiyah yang lebih dikenal pondok YTP Timur Pasar, Kertosono, Nganjuk. 
   Haflah Milad 70 tahun pondok YTP ini dikomandani oleh Dr. Amam Fahrur, SH, MH, yang sekarang menjabat Ketua Pengadilan Agama, Kota Surabaya.
   Pondok YTP ini didirikan oleh KH. Salim Akhjar pada tahun 1949. Setelah beliau meninggal tahun 1974, mudir pondok YTP dipercayakan pada KH. Mustain Kastam, dari Dengok, Paciran, Lamongan,  santrinya sendiri oleh para pengurus Yayasan Taman Pengetahuan. Dan ketika KH. Mustain meninggal, pondok YTP dipimpin oleh KH Ali Mansur Kastan, adiknya, sampai sekarang.    
   Peringatan Milad  pondok YTP ini baru yang pertama kali ketika usia pondok sudah 70 tahun.
   Di sela sela mempersiapkan Milad ini, saya teringat tulisan saya tentang Kiai Salim, pendiri pondok YTP ini, yang pernah dimuat portal berita harianmerdekapost.com judulnya: Kiai Salim Akhjar Menyayangi Santri2 Kecil, oleh Sudono Syueb (Alumni Ponpes YTP, Kertosono). Berikut ini kisahnya;
  Harianmerdekapost.com Kyai Salim Achjar, pendiri pesantren Ar Raudlatul Ilmiyah tahun 1949 itu, ternyata sangat menyintai dan akrab dengan santri putra dan putri yang masih kecil kecil. Jika Kyai Salim memanggil mereka sesuai posturnya, kalau pendek, Kyai Salim memanggilnya dengan, "Ndek, Pendek". Kalau gendut, dipanggilnya "Ndut, Gendut"
    "Saya sendiri dipanggil Pendek", cerita Ibu Khosyi', yang mulai mondok di YTP sejak kecil.
   "Karena saya santri putri yang paling kecil, maka Kyai Salim sering memanggil saya dan menyruh saya untuk beli pakan ayam", kenang Ibu Khosi' yang sejak lulus dari pesantren YTP, Kertosono, mengajar tafsir bi al ma'tsurot di komunitas ibu ibu Aisyiyah PCA Sukodono sampai sekarang. 
   "Ndek, Pendek, pakannya ayam sudah habis, tolong belikan jagung Ndek!... Begitu kyai Salim menyuruh saya sambil ngelus ngelus kepala saya", lanjut bu Khosyi yang sudah memasuki usia senja itu.
   "Saya senang jika disuruh Kyai Salim, karena kepala saya pasti dielus elus, damai rasanya kalau dielus elus Kyai, dan saya punya keyakinan itu adalah doa kyai Salim untuk saya", lanjut bu Khosi' sambil teteskan air mata.
    "Di samping Kyai Salim sering ngelus elus kepala saya, susukannya (kembaliannya) setiap beli jagung diberikan saya ", kenang bu Khosi' sambil tersenyum manis yang masih kelihatan guratan guratan kecantikannya.
   Lebih lanjut bu khosi' bercerita, "Sebetulnya saya masih ingin disuruh Kyai Salim untuk beli jagung dan kebutuhan Kyai Salim lainnya sampai kapan pun. Itung itung sebagai khidmat saya pada Kyai. Sayang sekali keinginan saya itu tidak bisa terpenuhi hanya karena Kyai Salim mendengar ada perobahan dalam suara saya. Kemudian Kyai bertanya pada saya.'Suaramu kok berubah ndek, apa kamu sudah.....?'. Ditanya Kyai seperti itu, saya malu untuk bilang apa adanya. Lalu saya pura pura tidak faham yang Kyai tanyakan. 'Sampun menopo toh Pak Kyai?'. Pak Kyai menjawab pertanyaan saya dengan tersenyum, lalu masuk kelas dan mengajar. Setelah itu, pak Kyai tidak pernah menyuruh saya lagi. Saya sedih, apa kyai marah ya sama saya. Ah ga mungkin kyai marah sama saya, yang masih tergolong anak anak, pada saat yang sama toh pak Kyai ya masih sering tanya kesehatan ortu saya, mungkin karena suara saya sudah berubah itu dan saya mulai punya "teman" yang datang berkunjung setiap bulan itu kali. lalu kyai tidak lagi mau menyuruh saya beli sesuatu di luar pondok".
   Dari penuturan bu Khosi' tersebut, ternyata Kyai Salim tidak hanya memperhatikan perkembangan wawasan santri santrinya saja tapi juga memperhatikan perkembangan psikologis dan biologisnya. Kalau ternyata ada santri putri yang sudah masuk usia baligh, Kyai Salim mulai menjaga jarak sosialnya dengan santri putri tersebut dan tidak lagi dimintai tolong beli sesuatu di luar pondok atau di pasar. Jarak pasar dengan pondok YTP hanya sekitar 100 meteran.
   Omong omong, apa sampeyan juga pernah diperhatikn kyai Salim seperti ibu Khosyi' itu ? hehehe....

Post a Comment

0 Comments