H. Amin Suharto, Bapak Ratusan Anak-anak Yatim dan Dhuafa'a itu Telah Tiada


Laporan: Tom Mas'udi & Sudono Syueb


Harianindonesiapost.com Duka menyelimuti Keluarga Besar PII dan Panti Asuhan Ulul Albab, Tenggilis Mejoyo Surabaya. Pendirinya, Amin Suharto (56 tahun), berpulang ke Rahmatullah Ahad kemarin (14/7).
"Abi sempat jatuh terduduk ketika pulang dari shalat berjamaah di masjid dekat rumah. Beliau tidak bisa berjalan karenanya, lalu menjalani perawatan  operasi syaraf tulang belakang. Sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Selama sekitar dua pekan Abi hanya berbaring di tempat tidur, masih belum mampu berjalan. Sabtu kemarin Beliau pingsan dan kembali dirawat di ICU RS Soepraun Malang, dan berpulang ke Rahmatullah hari Ahad", kata putra pertama almarhum, Fadlur Rahman.

Almarhum Amin Suharto dikenal sebagai pegiat penyantun anak-anak yatim, dhuafa' serta janda tidak mampu sejak dia masih lajang. Belasan Panti Asuhan didirikannya, di Surabaya, Sidoarjo, Malang dan Jember. "Sejak menjadi Sekretaris Wilayah Pengurus Pelajar Islam Indonesia (PW PII Jatim) tahun 1985-1987, waktu itu saya sebagai Ketua, Cak Amin sudah mulai concern dengan penyantunan anak-anak yatim. Dia pekerja keras dan tangguh. Lima tahun kami tinggal bersama  beberapa aktivis lain di sekretariat PW PII di Kupang Panjaan. Tidur beralas tikar dan makan seadanya", kenang Ainur Rofiq Sophiaan , dosen Ilmu Komunikasi UPN Surabaya.


"Cita-cita beliau mendirikan 1000 panti asuhan, juga masjid. Jika ada rizki  , beliau sisihkan sebagian untuk pembangunan masjid dan untuk panti. Dan itu yang dipesankan ke kami", ujar Fadlur Rahman yang biasa dipanggil Ruli.

"Karema komitmennya yg luar biasa terhadap anak yatim dan dhuafa', beliau diamanahi memimpin Badan Kerja Sama Panti Asuhan Islam Surabaya (BKS-PAIS) selama dua periode, tahun 1996-2006", ujar Abdus Sami', ketua pelaksana Panti Asuhan Arif Rahman Hakim, Deles-Sukolilo Surabaya, salah satu diantara belasan panti asuhan yang didirikan Amin Suharto. 
"Masing-masing panti membina sekitar 50 anak", ujar Abdus Sami'.

Sudah tak terhitung anak yatim dan dhuafa' yang sudah mandiri setelah lepas dari panti binaan almarhum. Salah satunya adalah  Syaiin Qadir. Anak yatim asli Pantenan, Panceng, Gresik kelahiran tahun 1983 ini  mulai diasuh Amin Suharto di panti asuhannya sejak tahun 1994.
" Sejak masih kecil hingga SMA saya diasuh Beliau. Beliau memperlakukan kami seperti anak sendiri . Jika ketemu teman beliau selalu bilang " iki anakku" (ini anak saya, red.). Saya selalu dimotivasi agar tetap semangat dan yakin bahwa jika kita menolong orang lain, Allah akan menolong kita", kata Syaiin yang saat ini diberi amanah mengelola panti Asuhan Ulul Albab.

Di mata anak-anaknya almarhum dikenal tegas dan disiplin, apalagi menyangkut syariat dan utamanya shalat lima waktu. "Seringkali saya dan adik saya Syarifah, diguyur air jika tidak segera bangun untuk shalat shubuh. Tapi selalu beliau tanya dengan sayang apakah airnya tidak masuk telinga. Sambil mengelus kami. Oya, Abi juga seringkali mengingatkan bahwa dunia itu sementara, akhirat abadi selamanya",  pungkas Fadlur Rahman.

Almarhum meninggalkan lima orang anak, seorang cucu serta tiga orang isteri ( Ibu Devi ( Malang), Ibu Ifa ( Pasuruan), dan Ibu Lilik (Pasuruan). Isteri pertama almarhum, Ibu Ida Ayu Nilawati, wafat tahun 2013 lalu.


Di antara mereka yang bertakziah terlihat anak-anak yang setia mengikuti prosesi hingga mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir di makam Islam Tenggilis Mejoyo pada pukul 21.00. Mereka adalah Glen Fian (kelas 5 SD) serta Muhammad Alfa (kelas 3). Keduanya termasuk anak-anak yang disantuni panti asuhan Ulul Albab.

Selamat Jalan Cak Amin Suharto. Jannatun Na'im menantimu.

Post a Comment

0 Comments