About Me


Gamblek


By: Bukhori at Tunisi

(Alumni Pnpes YTP, Kertosono & UIN SUKA, Yogyakarta)

Harianindonesiapost.com Gamblek, istilah yang sangat populer di Jawa. Popular, karena kata tersebut sering digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Gamblek adalah sebutan bagi orang atau kelompok yang mengikuti orang atau kelompok tertentu untuk dikasih sesuatu yang dimiliki oleh yang diikuti. Gamblek tujuannya jelas, tidak samar, juga tidak remang-remang. Gamblek adalah pilihan sikap untuk berpihak pada sesuatu dengan tujuan memperoleh sesuatu.

 Gamblek pada orang kaya, tujuannya agar diberi pekerjaan atau dapat pemberian uang, kekayaan. Gamblek pada penguasa, tujuannya agar diberi jabatan. Gamblek pada gankster, agar dianggap bagiannya, sehingga tidak diganggu.

Gamblek, digunakan untuk segala perbuatan atau sikap negatif,
namun gamblek tidak digunakan untuk hal-hal yang baik.

Orang yang mendekati Kyai, ahli Agama, tidak disebut gamblek, tetapi disebut "ngangsu kaweruh" jika belajar; atau "ngabdi" bila bekerja untuk sang kyai. Orang yang dekat dengan kyài tidak ada yang disebut gamblek, karena gamblek itu nuansanya pejoratif, saru, buruk.

Jejaka mendekati gadis, tidak disebut gamblek, tetapi "pedekate", karena nuansanya pendekatan rasa dan cinta.

Anak mendekati orang tuanya, bukan gamblek; karena sang anak lagi minta "perhatian" dan "kasih sayang". Mendekat kepada orang tua bagian dari akhlak mulia, karena itu tidak dikatakan gamblek

Gamblek adalah perilaku buruk karena berlindung kepada kekuasaan yang lain. Gamblek adalah perilaku buruk, karena membatasi diri, seolah-olah rezeki hanya berasal dari orang tertentu. Ia memperlemah ikhtiar untuk mencari rezeki Allah. Gamblek juga melahirkan sikap korup, seolah-olah suatu keberhasilan adalah karena perantara orang lain.

Penjajah Barat, mulai dari Portugis hingga Belanda, betah menjajah di kepulauan Nusantara ini, karena banyak yang GAMBLEK kepada penjajah. Gamblek kepada pribumi melahirkan kemiskinan. Bersanding dengan pribumi, tidak membanggakan, karena fashion-nya tidak stylist. Performanya kampungan, dekil dan lusuh.

Gamblek dengan penjajah, ditakuti masyarakat. Dekat rakyat hanya dapat penghormatan.

Gamblek dengan Penguasa, ada peluang dapat jabatan. Dekat dengan demonstran, terbuka peluang dipenjara

Gamblek menguntungkan bagi oportunis. Tapi tidak bagi akademisi, intelektual, pemikir, filosof, dan pejuang kebenaran untuk melacurkan prinsip kebenaran dengan jabatan dan kekuasaan.
Karena bagi pejuang kebenaran, gamblek kekuàsaan yang korup, bagian dari pelacuran intelektual dan penghinaan martabat keilmuan.

Post a Comment

0 Comments