About Me


Bukhori: Pondok Pesantren Yayasan Taman Pengetahuan (YTP) Kertosono Sebagai Ponpes Urban


Oleh Sudono S. Madpuri

Harianindonesiapost.com Dalam mempetingati Milad 70 Tahun Ponpes YTP, Kertosono, Nganjuk, pada Sabtu (13/7), pukul 08.00 yang akan datang, saya coba tampilkan suara alumni YTP yang kedua dari Bukhori At Tunisi, seorang penulis buku di antaranya; Konsep Teologi Ibnu Taimiyah. Berikut suara Bukhori tentang YTP yang pernah dimuat laman kanigoro.com tgl 22 Mei 2018 dengan judul: Pondok Pesantren Yayasan Taman Pengtahuan (YTP), Kertosono;: Ponpes Urban

Secara geografis, Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Ilmiyah, yang lebih dikenal dengan Pesantren Yayasan Taman Pengetahuan (YTP), lokasinya berada di Timur Pasar Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh K.H. Salim Akhyar pada tahun 1949. Merupakan pondok pesantren muda, bila dibandingkan dengan pondok pesantren salafiyah lainnya yang berada di Jawa Timur. Namun dengan kemudaan usia, membawa nuansa baru dengan semangat “muda” dalam kancah pergulatan pemikiran modern Islam Indonesia.

KH Salim Akhjar

Pondok Pesantren YTP, memang berfaham modern (al-fikrah al-tajdidi) bukan faham tradisional (al-fikrah al-taqlidi), meskipun pendiri Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Ilmiyah ini, memiliki “sanad” keilmuan dengan silsilah keilmuan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, karena beliau adalah santri langsung dari Hadlratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dan Pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ yang beraliran “tradisionalis”.

Belajar tidak hanya cukup di Tanah Jawi, Yai Salim bak seperti Ibn Batutah, melanglang buana melalui jalur darat dan laut, mulai dari Tumasik (Singapura), Malaysia, Siam (Thailand), Burma, Bangladesh, terus ke India, Pakistan, Iran hingga ke Saudi Arabia untuk belajar di sana. Merasa masih kurang, Yai Salim mencari ilmu ke Mesir hingga ke Sudan. Yai Salim pulang, membawa gagasan baru (fikrah al-tajdidi), bukan ajaran lama (fikrah al-qadim) seperti saat belajar di Pesantren Tebuireng.

Dari Kiri; KH Salim Akhjar, KH. Mustain Kastam dan KH. Ali Manshur Kastam

Meskipun berfikrah modern, namun pembelajaran di Ponpes YTP, masih menggunakan materi pelajaran lama dalam hal “ilmu-ilmu alat” seperti Nahwu, sharaf, ushul fiqh, qawaidul fiqhiyyah, balaghah dan lainnya, tetap diajarkan sebagai ciri khas pondok pesantren. Oleh sebab itu, lulusan Pesantren YTP Kertosono, memilki skill dan lancar dalam membaca kitab kuning atau kitab gundul, buku berbahasa Arab yang tidak ada harakatnya.

Bukan sebuah kebetulan jika Yai Salim meletakkan Pondok Pesantren YTP di dalam Kota Kertosono. Berdasarkan pengalamannya yang pernah nyantri kepada kyai besar seperti Hadlratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, pergi belajar ke Arab Saudi, Irak, Mesir, Sudan dan negara Arab lainnya. Juga “rihlan ilmiyah” ke berbagai pesantren di Tanah Jawi sebelum mendirikan pesantren YTP, tentu Yai Salim sudah mempertimbangkan dan pemikiran secara matang dan mendalam dalam membuat sebuah “grand design” pesantren sebagai aktualisasi fikrah yang beliau canangkan.

Penempatan Pesantren Ar-Raudlatul Ilmiyah di tengah kota, merupakan pilihan brilian Yai Salim, sebagai al-talazumiyah (implikasi) dari pandangan modernisme Islam-nya. Yai Salim ingin menunjukkan bahwa Pesantren tidak harus diletakkan di gunung, di pedesaaan atau jauh dari riah-riuh keramaian kota, jauh dari hiruk-pikuk duniawi yang dapat “mengganggu” belajar santri. Bagi Yai Salaim, Santri tidak harus “uzlah” dari pergulatan duniawi.

Mengapa penempatan Ponpes YTP di tengah-tengah kota Kertosono sebagai Pilihan Brilian?

Bukhori At Tunisi

Pertama, Yai Salim adalah murid langsung dari KH. Hasyim Asy’ari yang mewariskan “tradisionalitas” kepesantrenan, tentu sulit bagi santri untuk “lepas” dari ajaran dan doktrin yang pernah diterima dari gurunya. Berapa banyak kaum cerdik pandai, tetapi hanya “copy paste” dari fikrah pendahulunya. Bahkan, seliberal Ulil Absar Abdallah, tidak berani lepas dari lingkaran tradisionalitas “genetis”-nya. Mudah sebenarnya untuk mendapatkan santri yang banyak dan berjubel pendaftarnya. Cukup pasang “nama besar” K.H. Hasyim Asy’ari, dengan mengaku sebagai penerima “sisilah” keilmuan yang sah dari beliau. Namun itu tidak dilakukan. Yai Salim memilih “jalan terjal” (‘aqabah) dengan menawarkan gagasan pembaharuan dalam mendirikan pondok pesantren.

Kedua, Kaum santri sering dijadikan olok-olokan oleh kaum “abangan” sebagai kaum “sarungan” yang anti modernitas. Kaum sarungan adalah sebutan peyoratif. Kaum sarungan merupakan sebuatan bagi simbol dari keluguan, kejujuran, hidup apa adanya, nrimo, pasrah pada nasib, dan hidup ndeso kesa-keso. “Kaum Sarungan” adalah “lawan” dari kaum “terdidik”, yang hidupnya maju, terencana, terprogram, teratur, rasional, praktis dan modern. Dengan simbol: Berbaju pantolan.

Ketiga, Kota (urban), identik dengan pasar. Pasar merupakan tempat berkumpulnya berbagai profesi, kultur, adat-istiadat dan beragam kepentingan. Pasar merupakan tempat orang “meng-adu” keahlian masing-masing, menunjukkan “kebolehan” dan ketrampilannya, kehebatannya ditampilkan, agar “laku” dan “dibeli” yang lain. Yang “hebat” bisa menang dan “diterima” pengaruhnya. Yang “kalah” tersisih dan “hilang” pengaruhnya. Yai Salim ingin mendidik santrinya, agar kompetitif dalam kosmopolitanisme kebudayaan nusantara dan dunia, bukan berada di pinggiran (pariferal) budaya kosmopolitan. Santri YTP harus ada di “core” peradaban dengan ciri khas sebagai santri yang “menang”, modern dan unggul. Menggapai peradaban, bukan lari dari pergumulan peradaban.

Ke-kota-an itu, bukan hanya meletakkan Ponpes YTP berada di tengah Pasar Kertosono, namun ke-kota-an itu memang disengaja untuk membentuk generasi yang berfikiran modern, progresif dan kosmopolitan.

Keempat, Mendidik santri untuk tidak kehilangan jati diri santri di tengah pergumulan peradaban kota. Tidak larut dalam arus kosmopolitanisme tapi menjadi kampiun yang berada di depan. Ada beda antara santri dengan yang bukan santri dalam pergumulan peradaban, bukan sama saja (podo ae). Harus ada distingsi (al-fashl) antara yang terdidik secara islami dan yang terdidik secara sekular.

Santri hebat bukan saat berada di tengah-tengah komunitas santri. Santri hebat manakala berada di komunitas umum, bisa memberi warna dan rasa keadaban. Orang baik berteriak kebajikan di tengah orang saleh, biasa. Santri hebat manakala berani berteriak di tengah komunitas orang-orang yang bermaslah (fi’l al-munkarat).

Yai Salim ingin mengajarkan pada santrinya, bahwa kehidupan duniawi (sekular) tidak perlu dijauhi (‘uzlah). Santri YTP tidak perlu lari dari percaturan sosial, pergumulan masyarakat. Yai Salim ingin mengatakan: “Hadapi semua yang ada di hadapan kalian, jangan lari dan menjadi orang kalah!!!”

Dengan berjibaku dengan dunia nyata, bergaul dengan kaum abangan, kelompok Islam modernis, tradisionalis, bahkan alladiniyyah (atheis), santri YTP siap menghadapi, tidak mundur, apalagi alergi dan memusuhi. Tidak.

Pondasi pesantren “kota” itu telah diletakkan oleh Yai Salim dengan elok dan benar. Santri yang punya hadlarah dan keilmuan yang mantap. Dengan khas yang bercirikan santri yang islami par excellence.

Yai Salim sudah memulai dan berbuat, bahwa melawan sufisme menyimpang (askepisme), sekularisme, liberalisme dan sejenisnya, tidak harus berteriak kafir. Tetapi hadapi dengan akal sehat, hati jernih, perilaku humanis dan visioner. Kata al-Qur’an:

ادع الى سبيل ربك بالحكمة و الموعظة الحسنة وجادلهم باللتي هي احسن, ان ربك هو اعلم بمن ضل عن سبيله وهو اعلم بالمهتدين

(Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasehat yang baik, juga bermujadalah dengan cara yang terbaik dengan mereka. Sungguh Tuhanmu Maha Mengetahui tentang orang yang sesat dari jalan-Nya, Dia juga Maha Tahu dengan orang-orang yang mendapatkan petunjuk).

Bila mau disejajarkan, metode Yai Salim ini, mirip Metode “al-Ma’un”-nya Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Bukan hanya bicara, tapi berbuat nyata.

Post a Comment

0 Comments