About Me


ANTARA GABLOK dan GABLOK: Nama Bisa Sama, Bahan Beda


Oleh: Sudono S. Madpuri

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan UGM, Yogyakarta)

Harianindonesiapost.com Berawal dapat kiriman tulisan dari ustadz Muhammad Ain tentang makanan tradisi yang namanya GABLOK, saya jadi penasaran. Ini nama makanan kok "misuh" gimana tho?. Setelah saya baca ulang, eh ternyata bukan misuh GOBLOK, karaker hidup pertama ternyata bukan O tapi A, GABLOK. Karena menarik, tulisan ust. Ain saya terbitkan lewat portal harianindonesiapost.com (1/7)
   Benar kata ust. Ain, Mendengar kata "gablok" mungkin sebagian orang tidak menyangka kalau itu adalah nama makanan tradisonal. Ya, gablok adalah salah satu jenis olahan makanan tradisional yang bahan dasarnya adalah singkong/menyok. Saya yakin di kampung lain juga ada makanan tradisional jenis ini, hanya saja mungkin berbeda nama dan mungkin beda pula penyajiannya.

Cara pembuatan gablok ini, menurut tadz Ain cukup sederhana. "Mula-mula singkong/menyok dikupas dan dicuci bersih lalu dipasrah. Pasrah itu sendiri alatnya mirip sebuah parut namun tidak bergigi kawat melainkan berlubang-lubang kecil dan jika dipakai masrah hasilnya adalah serabut/serawut.
Serabut/serawut menyok ini kemudian dikukus/didang sampai matang kemudian ditaruh di tampah atau talam lalu dipadatkan dengan cara dipukul-pukul pakai parut (parutan kelapa) yang terbuat dari kayu hingga nemadat hampir mirip dengan tetel/gemblong, hanya saja gablok tidak sepadat tetel/gemblong.
Mungkin karena cara memadatkannya dengan dipukul-pukul (digabloki) pake parut, hingga kemudian di kampung kami Pantenan Panceng Gresik makanan ini diberi nama "gablok". 
Untuk menyajikan jajanan tradisional berbahan menyok ini adalah dengan dipotong-potong kecil seperti halnya memotong tetel/gemblong kemudian diurap dengan parutan kelapa. Untuk rasa yang lebih gurih biasanya parutan kelapa dicampur dengan sedikit garam. 

Kini, lanjut tadz Ain, seiring arus modernisasi dan globalisasi jajanan gablok ini makin langkah dan sudah jarang dijumpai di kampung kami. Jangankan gablok dan aneka olahan menyok lainnya, sekedar menyok rebus saja sudah jarang ada. Kalaupun ada kebanyakan dari hasil membeli padahal dulu hampir semua warga kampung menanam sendiri.
   Dari paparan tadz Ain ini kita tahu bahwa makanan tradisi asal desa Pantenan, Panceng, Gresik ini yang bernama GABLOK ini berasal dari SINGKONG/KASPE/MENYOK.
   Di daera lain juga ada makan tradisi namanya GABLOK, tapi beda bahan. Di Salatiga, misalnya, juga ada makanan tradisi Gablok tapi bahannya dari jagung. Bambang priantono, seorang multiplyer, dan saat ini mengajar bahasa Inggris disebuah lembaga pendidikan satu tahun yg berpusat di Malang, tapi  ditempatkan di Semarang, Jawa Tengah, bercerita dalam artikelnya berjudul: Gablok, bukan Goblok

   Gablok, bukan goblok Saya langsung ngempet ngguyu (menahan tertawa) saat ibu penjual nasi jagung depan RSUD Salatiga menawari saya. Selepas bertemu teman yang ko-as disana. "Monggo Mas, tumbas gablokipun, mirah...kalih ewu sakbungkus (Mari Mas, beli gabloknya, murah kok, 2500 sebungkus) Ngempet ngguyu gimana coba? kedengarannya wagu, soalnya gablok kedengaran seperti goblok. Bentuknya kayak kue ketan, putih-putih dengan beberapa bintik kuning dan kayaknya juga menggoda. "Menika gurih kok Mas, kula damel saking jagung, klapa kaliyan sarem" (Ini gurih lho Mas, saya buat dari jagung, kelapa dan garam). Wah, ini yang bikin saya pengen makan. Tapi berhubung saya sudah pesan nasi jagung lengkap dengan daun pepaya, daun kuti, kubis dan sambel trancamnya, ya sudah saya bawa pulang saja. Saya juga ngobrol-ngobrol dengan pengunjung RS yang ikut makan disitu. Gablok dibungkus dalam plastik dengan kemasan isi 4 dan 5. Per bijinya 500 perak, jadi total jenderalnya kalau isi 4 harganya 2000, kalau isi 5 ya 2500. "Bu, menika saget tahan ngantos kapan?" (Bu, ini bisa tahan sampai kapan)? Tanya saya dan juga seorang ibu sebelah saya. "Oh, sakmenika saget tahan ngantos mangke ndhalu Mas"(Oh, bisa tahan sampai nanti malam mas) Kata si ibu penjual yang ramah banget. Ndilalah, orang ini satu angkot dengan saya saat berangkat dari Klero menuju Salatiga. Hwahahahahahahaa...jebule. Menurut si ibu, biar agak tahan lama, kelapanya dikukus terlebih dahulu baru dicampurkan ke jagung yang sudah ditumbuk halus dan garam. Rasanya? Memang gurih dan asin. Paduan kelapa dan garam, plus bikin kenyang karena jagung lumayan berat dan sumber karbohidrat yang setara dengan nasi. Sayangnya disini sulit sekali cari gablok, dipasar2 juga agak susah mencari makanan satu ini. Saya sendiri cuma habis dua, karena dua saja sudah kenyang banget. Malah saya punya inspirasi kalau bawa gablok lagi akan dipadu dengan macam-macam lauk, apa enak ya? Semoga saja..hehehee. Sedikit cerita dari Salatiga, semoga jadi tambah wawasan.
Sumber: http://bambangpriantono.multiply.com/journal/item/3043/

   Sementara itu makanan tradisi GABLOK di kecanatan Tawangmangu kab. Karanganyar adalah berasal dari BERAS yang ditanak GURIH. Jadi Gablok di Tawangmangu adalah NASI GURIH. Kalau di Jakarta dan tempat lain mungkin namanya NASI UDUK. Sedang di Lamongan namanya SEGO GUREH. 
   Vanda Chacha dari FiestA Radio mengidahkan
Sego Gablok ala Tawangmangu berikut ini:

Hai Intelektual Muda! Pernah dengar gak makanan bernama “sego gablok”? Eits, jangan salah baca ya. Hehe. Yup, sego gablok adalah makanan ndeso yang banyak di temukan di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Sego gablok merupakan nasi gurih yang dihidangkan dengan bothok mlandhing dan lauk gadhon (daging ayam/sapi dengan bumbu areh) yang dibungkus dengan daun pisang secara terpisah. Tak lupa rempeyek dan ikan asin yang turut melengkapi kenikmatan sego gablok hmm, uenak tenan!

Penyajiannya yang begitu tradisional menjadi ciri khas tersendiri, apalagi rasanya yang gurih bisa menggugah lidah. Cita rasa tradisional benar-benar melekat pada sego gablok. Karena ke-khas-annya, banyak restoran ala javanesse/traditional di Kabupaten Karanganyar yang menyajikan menu sego gablok yang tentunya dipatok dengan harga sekitar Rp10.000-an. Tapi ada juga loo harga yang lebih murah, Intelektual Muda. Kalau kamu main ke Tawangmangu, coba deh mampir di dekat pasar Tawangmangu. Di situ banyak sego gablok yang dijual di pinggiran jalan mulai dari harga Rp1000 saja. Murah banget kan?

Meski sego gablok adalah makanan ndeso, tapi gak kalah nikmat dengan makanan kota lainya kok. Penasaran? Yuk coba dan rasakan nikmatnya! 

Sumber; http://fiestaradio.fisip.uns.ac.id/sego-gablok-bukan-sego-biasa/https://i1.wp.com/fiestaradio.fisip.uns.ac.id/wp-content/uploads/2018/02/gablok2.jpg?fit=500%2C667https://i1.wp.com/fiestaradio.fisip.uns.ac.id/wp-content/uploads/2018/02/gablok2.jpg?resize=300%2C3002018-02-09T19:57:19+07:00FiestA RadioCulinaryReview

    Sedang Gablok dari desa LEREP, Semarang berasal dari LONTONG/GENDAR.
   Eunike Yayuk, srorang blogger menulis tentang makanana tradisi GANLOK dengan judul: Lezatnya Makan Gablok Pecel dan Makanan Khas Desa Lerep Lainnya

Yayukbmengawali tulisannya dengan, Ini dia makanan yang khas di Desa Lerep dan banyak diminati oleh masyarakat baik dari Desa Lerep maupun dari luar kota. Gablok Pecel, pasti sudah tak asing lagi dengan makanan ini. Gablok pecel makanan yang terbuat dari lontong atau gendar, dilengkapi dengan sayuran pecel (bayam, kacang panjang, kenci, atau lainnya), kemudian diberi sambal kacang dan gorengan mendoan atau bakwan menurut selera masing-masing. Di Dusun Lerep ada beberapa penjual gablok pecel tiap hari, biasanya mereka juga menjual gorengan dan sayuran serta lauk - pauk lainnya untuk sarapan. Di dekat rumah saya, ada dua penjual gablok pecel yang terkenal, biasanya kita memanggilnya Mak Kas, penjual gablok atau gendar pecel dan aneka gorengan. Yang satu lagi rumahnya agak jauh dari rumah saya, dekat masjid Dusun Lerep.

Gablok pecel menjadi ciri khas jajanan di Desa Lerep. Saya jadi ingat sewaktu sepupu saya dari Bogor berkunjung ke rumah saya, dia selalu menanyakan makanan yang satu ini. Dia selalu membeli gablok pecel untuk sarapan karena mungkin di kota jarang yang jual kali ya. Selain rasanya yang lezat dan mengenyangkan, gablok pecel dijual dengan harga yang terjangkau. Biasanya untuk 1 porsi lontong/gendar, pecel, mie goreng, dan 1 bakwan cukup membayar Rp 3.500 sudah kenyang sebagai pengganti sarapan atau makan siang. Kalau gorengan harganya hanya Rp 2.000 dapat 3 buah. Murah kan?
padahal kalau di Semarang dekat tempat kerja saya, harga gorengan sudah Rp 1.000 - Rp 1.500 per buah. Ini hanya Rp 700 per buah, sangat murah kan?
Kalau dibandingkan harga gablok pecel di Lerep dengan di Semarang kota, di sini harganya jauh lebih terjangkau. Di dekat kantor saya biasanya 1 porsi pecel dan nasi aja harganya Rp 8.000, dua kali lipat dibanding harga gablok pecel di Desa Lerep.

Sambal kacang yang rasanya pas di lidah dan gendar yang kenyal atau kalau tidak suka gendar bisa diganti dengan lontong nasi. Pokoknya ga bakal kecewa kalau membeli makanan kuliner di Desa Lerep. Selain harganya yang terjangkau, rasanya pun tak kalah lezat dibanding yang dijual di kota.

Sumber: http;//eunikeyayuk.blogspot.com/2017/10/lezatnya-makan-gablok-pecel-dan-makanan.html?m=1

Post a Comment

0 Comments