Ziarah Pamungkas Relawan Kurma dan RHAN: Ziarah Politik Sebagai Aktivitas Menemukan Jati Diri Bangsa


Laporan: Sudono & Ahmad Subagya

Harianindonesiapost.com Minggu (3-6/2019) ziarah politik yang dilakukan oleh Relawan Kurma (Koordinator Untuk Relawan Makruf Amin) dan RHAN (Relawan Hebat Aliansi Nusantara)  di makam Syech Maulana Malik Ibrahim adalah sebuah rangkaian ziarah politik yang dilakukan di bulan ramadhan pasca pengumuman KPU tentang siapa pemenang Pilpres 2019. Guna mendoakan kepada bangsa ini bahwa keputusan KPU adalah keputusan kejujuran dan kerja kerasnya atas penyelenggaraan pemilu 2019 ini. 
Peristiwa pasca pengumuman yang dikenal dengan peristiwa 21-22 menjadi bukti bahwa pengumuman yang dilakukan oleh KPU, belum diterima oleh pihak yang dikalahkan. Karena itu sebagai bangsa yang berkebudayaan wajib berupaya berusaha mencari jalan keluar kebangsaan, dan yang dilakukan oleh Kurma dan RHAN menjadi kunci persatuan persatuan bangsa untuk membangun bersama republik ini.
"Ziarah harus ditranformasikan sebagai upaya untuk menjalin  keakraban dengan masa lalu untuk mengambil langkah bagi kepentingan masa depan. Dengan demikian semua upaya perubahan yg dilakukan oleh Jokowi sesungguhnya untuk mrmbuat Indonesia menjadi semakin indonesiawi." Kata Aris, sekjen Kurma ketika diminta konfirmasinya.


'Tujuan ziarah kita perluas disesuaikan dengan persoalan yg kita hadapi sekarang. Orang indonesia sedang bersengketa antara Islam yg arab vs Nusantara. Ketakutan kita akan dijajah Cina atau menjadi komunis menjadi pemicu keterbelahan pemahaman pembangunan bangsa." Katanya.
'Anggap saja kita sdg menghadapi srngketa soal identitas kebangsaan," tandas Aris Munandar.
   Sementara itu ketua RHAN, Zaenal, memberi jawaban atas pelaksanaan kegiatan ziarah itu,  bahwa penggalian makna ziarah sebagai upaya untuk mempererat hubungan dengan masalalu guna memperkuat jatidiri bangsa."

"Tapi yang terpenting gema efek politiknya, yaitu siapa yang bisa menciptakan kedamaian berbangsa dan bernegara ini untuk mengikis polarisasi yang semakin melebar," kata Gus Rosikh.

"Ini adalah upaya Mengadu pada yg sudah tidak punya hasrat untuk menolak! Mengadukan masalah dg mereka yang mampu memahami apa yang tidak tersampaikan karena keterbatasan bahasa," pungkas Aris.

Post a Comment

0 Comments