About Me


"Wingko Blimbing"

Oleh: Sudono S. Madpuri

(Alumni Ponoes YTP, Kertosono dan UGM, Yogyakarta)

Harianindonesiapost.com Kalau kita naik bus dari terminal Tuban, Bojonegoro dan Lamongan pasti ditawari jajan  tradisi Wingko oleh pedagang asongan,  namanya Wingko Babat, Lamongan. Capnya yang terkenal Kelapa Muda. Wingko Babat ini bentuknya bulat kecil, cuma sebesar tutup cangkir. 
   Di samping dijual asongan di bus bus, juga dijual di kios kios yang ada di 3 terminal tersebut serta di beberapa Rumah Makan terkenal di Tuban, Bojonegoro dan Lamongan. Bahkan sudal ada di hampur seluruh terminal di Jawa dan juga di beberapa pusat  oleh oleh.
   Selain jenis Wingko Babat, Lamongan tersebut, masih ada jenis Wingko lainnya. Bentuknya bulat dan lebar, selebar piring makan besar. Rasanya manis dan maknyus. Yaitu Wingko Blimbing, Lamongan.
   Wingko Blimbing ini tudak begitu terkenal karena hanya produksi rumahan dan terbatas, itu pun, menurut ustadz Muslimin hanya berdasarkan order tetangga yang akan dibuat oleh oleh jajan tradisi ketika sonjo atau silaturrahim ke keluarga di luar kota, sebagai oleh oleh andalan. Jadi Wingko Blimbing ini kalah viral dengan Wingko Babat.
   Bagi yang ingin tahu bahan bahan Wingko Blimbing dan cara membuatnya, berikut ini bahan bahannya

Bahan utama wingko

Menurut ustadz Muslimin, warga asli Gowah, Blimbing, bagwa bahan utama Wingko Blimbing adalah Tepung Ketan, Parutan Kelapa dan Gula Pasir. 
   Untuk membuat satu Wingko ukuran jumbo, diameter 25 cm, menurut bpk Supandi, warga Dengok, yang sudah lama tinggal di Blimbing sebagai berikut:

500 g tepung ketan.

1 buah kelapa yang tidak terlalu tua (diparut halus)

350 gr gula pasir.

200 ml santan kental.

1/2 sendok teh garam halus.

20 gr margarin.

1/4 sdt vanili bubuk.

1 butir telur ayam.

Cara Membuatnya.

Semua bahan tersebut, menurut tadz Muslimin, diaduk sampai merata dengsn air hanya sekedar basah saja. 
Airnya sekarang bisa diganti dengan air kelapa biar lebih gurih, atau air seprit. 
Setelah rata diletakkan dicetakan wingko besar diameter 25 cm.  Atau cetakan kecil diameter 10 cm. 
   Lebih lanjut tadz Muslimin sampaikan, Cetakan wingko itu terlebih dahulu dipanaskan  diatas tempayan atau kemaron besar berisi pasir dengan api panas. Dulu apinya bisa gunakan bara api kayu atau batok kelapa. Setelah pasirnya panas, taruh cetakan Wingko yang sudah diisi adonan Wingko di atas pasir. Usahakan api bawah tetap membara. Kemudian diatas kemaron atau tempayan ditutup dengan blek/seng yang diberi bara api.  Jadi apinya ada dua, atas dan bawah agar tidak usah membolak balik afonan Wingko tersebut karena ukurannya besar berdiameter 25 cm. 
   Sementara untuk wingko kecil cukup diatas kompor dg api yg kecil. Pada ukuran kecil ini wingko bisa dibolak-balik  agar tidak gosong.  Untuk kecil sekali buat dalam cetakan bisa 7biji.  

Mengapa Wingko Blimbing kalah terkenal dengan Wingko Babat ?.  
"Karena Wingko Babat sudah dieksplorasi secara industri ekonomi dan konsumtif. Mengapa bukan wingko Blimbing.  Karena  produsenya Wingko Blimbing masih menggunakan alat alat tradisional,  produksinya hanya  menggantungkan dari pesanan yg amat terbatas.  Karena satu wingko besar proses masaknya bisa memakan waktu 30 menit lebih untuk bisa dikatakan benar-babar  masak.  Sehingga tahan sampai lebih satu minggu.  Coba dites dengan wingko babat,  tingkat ketahanannya cuma 3 hari." kata tadz Muslimin mengakhiri perbincangan kami.
   Info Wingko Blimbing ini akan lebih menarik pembaca (konsumen literasi), menurut ustadz Mubarrok, jika ditemukan pembuat resep awal dan orang yang pertama kali nyicipi.
   Data ini masih dilacak oleh teman teman penggiat kuliner tradisi Pantura Tuban, Lamongan dan Gresik.

Post a Comment

0 Comments