About Me


Tidurnya Orang Berpuasa Belum Tentu Bernilai Ibadah

Oleh: Sudono Syueb

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan Pengajar di Fikom Unitomo, Surabaya)

Harianindonesiapost.com Selana ini banyak kita ketahui ada saudara saudara kita yang sedang berpuasa dalam bulan ramadhan tidur berjam jam di siang hari. Mungkin karena lelah dan cape, atau itu suatu cara untuk tidak merasakan lapar dan haus. 
    Kalau tidurnya itu dilakukan habis bekerja memang tidak apa apa. Akan tetapi jika dilakukan untuk menghindari bekerja ini yang perlu dipertanyakan, apalagi punya keyakinan bahwa tidurnya orang yang sedang berpuasa itu bernilai ibadah berdasarkan hadis berikut ini,

 نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.”

Padahal hadis tersebut dhaif.

Dilansir dari laman muslim.or.id. bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1437).

Hadits ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696).

   Imam Baihaqi, seperti dilansir dari dream.co.id., memang mencantumkan hadis tersebut dalam kitabnya Syu'abul Iman. 
Walaupun lmam Baihaqi mencantumkan dalam kitabnya Syu'abul lman tetapi beliau menyatakan terdapat rawi (periwayat) hadis tersebut yang lemah. Contohnya, Ma'ruf bin Hisan dan Sulaiman bin Amr An Nakha'i.
Imam Suyuti dalam Al Jami' Al Shaghir juga mendhaifkan hadis tersebut.

Tidak sedikit ulama yang menyatakan Sulaiman merupakan perawi lemah. Sampai Imam bin Hambal dan Yahya bin Ma'in menyatakan Sulaiman sebagai pemalsu hadis.

Demikian pula dengan Imam Bukhari. Dia menyatakan hadis yang diriwayatkan dari Sulaiman bersifat matruk atau mendekati palsu.

Mungkin ada kaidah yang menyatakan hadis dhoif boleh diamalkan selama tidak berkaitan dengan akidah maupun halal-haram. Tetapi, As Suyuthi menyatakan hadis tentang tidurnya orang puasa tidak boleh dijadikan rujukan, apalagi sampai diamalkan.
   Sementara itu muslim.or.id. menyatakan, terdapat juga riwayat yang lain:

الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه

“Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadits ini juga dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (653).

Yang benar, tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual ibadah. Maka, sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya, seseorang tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya, atau tidur untuk mengistirahatkan tubuh agar kuat dalam beribadah.

Sebaliknya, tidak setiap tidur orang berpuasa itu bernilai ibadah. Sebagai contoh, tidur karena malas, atau tidur karena kekenyangan setelah sahur. Keduanya, tentu tidak bernilai ibadah, bahkan bisa dinilai sebagai tidur yang tercela. Maka, hendaknya seseorang menjadikan bulan ramadhan sebagai kesempatan baik untuk memperbanyak amal kebaikan, bukan bermalas-malasan

Post a Comment

0 Comments