About Me


Qurban Kambing: Patungan (dari teks, ke teks)


By Bukhori at Tunisi

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan UIN SUKA, Yogyakarta)

Editir: Sudono

Harianindonesiapost.com Ajakan Ust. Akhyar, agar alumni YTP Kertosono melakukan patungan untuk penyembelihan Qurban di Ma'had YTP, Kertosono, mengingatkan kembali memori pesantren yang berlokasi di Timur Pasar Kertosono ini. Doeloe, saat masih sederhana, terutama tahun 1980-an, Ponpes YTP, jarang ada hewan Qurban, kecuali ada pemberian hewan Qurban dari aghniya', misalnya dari keluarga kaya, toko Pakistan, penjual pakaian.

Doeloe, gaji para guru dan kyai Ma'had al-Raudlotul Ilmiyah, bisa dikalkulasi jumlah antaranya. Sulit untuk disebutkan, karena jika disebut, akan menyesakkan dada dan buat pilu. Karena itu benar, kata mantan "Lurah" Ponpes YTP, bahwa keikhlasanlah yang membuat para guru dan kyai YTP, rela mengabdi, walau "ujrah" (salary) tak seberapa. Jangan dibandingkan dengan gaji PNS, untuk disebutkan saja, hanya air mata, itu mungkin yang keluar. atau laba seperti yang diperoleh para pedagang sehingga mampu untuk membeli kendaraan bermotor. Jangan bayangkan kyai YTP Kertosono hidupnya enak seperti itu.
Bayarannya, cuma beras sekedar untuk bayar listrik, pada zaman Yai Salim. Pada zaman Yai Tain, pada tahun 90-an, bayar SPP atau "Syahriyah" di kisaran Rp. 3.000 (tiga ribu rupiah).
Lalu hidup cukup dari mana? Nalar tak sampai untuk menjangkau limitnya.


Lalu ber-qurban dari mana? Pertanyaan ini yang tak sanggup dijawab. Karena Ponpes YTP, tidak sama dengan pondok pesantren tradisional, yang banyak menerima 'bisyarah' (amplop) dari apa saja yang 'diproduk' oleh pesantren. Termasuk jasa do'a, nyuwu' dan kondangan lainnya. Apalagi mau dekat dengan Penguasa, pasti akan lebih banyak "hasil"-nya. Tetapi Pesantren YTP tidak seperti itu, anti tahlilan, kondangan kematian, suwu', dan perbuatan bid'ah, khurafat, takhayyul, serta syirik; sehingga "pendapatan" para guru dan kyai YTP, dari 'ala kadarnya dari santri, atau dari jama'ah saat mengisi pengajian di luar.

 '"Qurban, wajib bagi yang mampu," itu pendapat Hasbi Asshiddiqie, penggagas Fiqih Indonesia. Dia mendasarkan pada firman Allah, 
فصل لربك وانحر
(Maka shalatlah karena Tuhanmu! Dan berqurbanlah!)
Kata Hasbi, Perintah qurban, disandingkan (muqaran) dengan perintah shalat, itu menunjukkan pentingnya qurban dan juga menunjuk pada kesamaan hukum perintah yang ada pada ayat tersebut.


Nabi pun dalam sabdanya juga mengatakan, 
من كان له سعة ولم يضح، فلا يقربن مصلىنا
(Barangsiapa memiliki keluasan rezeki, namun tidak menyembelih qurban, maka tidak usah dekat-dekat tempat shalat kami).
 Shalat hukumnya wajib, maka penyertaan perintah qurban dengan menggunakan "wawu 'athaf", menunjuk pada hukum yang sama, yaitu wajib. Karena huruf athaf "wawu" menunjuk pada makna "li al muthlaw al jam'i" (menunjuk makna bersama secara mutlak).
Hukum wajib tersebut, diperkuat dengan sabda Nabi di atas. Oleh sebab itu menurut Hasbi, tidak ada alasan untuk menurunkan derajat qurban kepada hukum "mandub" atau "sunnah", meskipun ditambah "muakkadah".

Bagaimana yang tidak mampu? Bila tidak mampu, maka tidak ada hukum 'taklif' [paksaan] bagi yang tidak mampu. Hukum taklif (wajib, nadb, karahah, haram, ibahah) hanya bagi yang mampu (istitha'ah), baik secara fisik, akli, dan ruhi. Secara fisik, materi, mampu, namun akli dan ruhi (kesadaran dan keyakinan) belum muncul, maka perlu edukasi, tadrib dan riyadlah. Ada latihan dan pembiasaan. Ada juga yang tidak mampu atau kurang mampu dari tiga aspek tersebut, maka perlu contoh dan qudwah dari pemuka, kyai, guru atau Ustadz.

Di pedalaman Kalimantan, di daerah transmigrasi, seumur-umur yang qurban hanya orang yang kaya--dan cuma sekali, itu pun disembelih di rumah yang berqurban. Hampir tidak pernah di masjid wa ma haulahu, karena takut habis diambil dan dibuat keroyokan dagingnya.
Jama'ah Muhammadiyah harus mempelopori qurban, biar tumbuh kesadaran ber-qurban, baik qurban untuk Idul Adlha, atau ber-kurban pada aspek lainnya.

Permasalahan muncul. Qurban sendirian tidak mampu, qurban 'patungan', kelompok, jam'iy, juga tidak dapat 1 ekor sapi. Karena iuran jama'ah kisaran Rp. 50.000,- hingga Rp. 300.000,-

Sebelum pelaksanaan, jama'ah dan non jama'ah, mencibir dan meremehkan. Bahkan ada yang mengatakan, "Tidak sah." Ada juga yang mengatakan, "Jare ngaji Qur'an dan Hadits? Dalil ndi seng digawe, qurban patungan kok lebih dari 7 orang?" Banyak omongan lain yang dikemukakan. Intinya, patungan qurban tersebut tidak syar'iy
"Dalil mana yang membolehkan patungan lebih dari 7 orang? Tidak ada." Saya jawab. Lalu saya tanya, "Dalil mana yang menganjurkan orang untuk tidak qurban?" Orang jawab, "Tidak ada."


Meneruskan logika ini (al talazumiyah), berapa batas limit bawah dan atasnya? Shabat atas taqrir Nabi, pernah qurban kambing kecil, nabi pernah qurban 2 ekor kambing. Lalu limit yang atas, tidak ada contoh. Jika ada perorangan atau holding company ber-qurban 100 ekor sapi, tidak sah, karena tidak ada dalil qath'i-nya. Hhhhh

Sebagai alumni pesantren, malu jika "cekak" akal pikirannya. Bukankah di pesantren sudah diajari ilmu manthiq, ilmu yang mempelajari untuk membuat natijah yang shahih dan haq. Bukankah di pesantren juga telah diajarkan Ushul Fiqh yang mempelajari tentang prinsip-prinsip untuk membuat instinbath hukum yang benar. Ilmu yang lain, Asbabun Nuzul, Asbabul Wurud, tafsir dan ilmu tafsir juga diajarkan, bahwa latarbelakang bisa mempengaruhi hukum. Teks lahir karena konteks. Teks, nash tak boleh tercerabut dari konteks, situasi dan kondisi yang melahirkan teks, nash, wahyu, atau sunnah Nabi,
Bukankah kata Al-Qur'an, "La yukallifullahu nafsan illa wus'aha", hukum taklif itu berlaku sesuai dengan kemampuan mukallaf. Bukankah Al-Qur'an juga mengatakan, " ...Yuridullahu bikum al-yusra, wa la yuridu bikum al-'usr", Allah mengingkan kemudahan bukan kesulitan buat manusia; bukan sebaliknya.
Bukankah kata Ushul Fiqh,
ما لا يدرك كله لا يترك كله
"Sesuatu yang tidak dapat dicapai secara keseluruhan, maka tidak boleh ditanggalkan keseluruhannya"

Jadi melakukan sesuatu itu menggunakan prinsip "tadarruj", tahapan, tidak sekaligus (munajjaman).
Dari sedikit menjadi bukit.
Apalagi ada kesulitan, maka akan membuka jalan untuk memperoleh kemudahan. Kata ahli Ushul fiqh,
الامر اذا ضاق اتسع
"Suatu perkara, manakala menemukan kesempitan, maka bisa menjadi luas"
Maksudnya, jika suatu perintah atau larangan dari Agama, sulit untuk dikerjakan, maka menjadi mudah untuk dikerjakan karena diperlonggar sarat dan rukunnya. Haji Ifrad, munkin berat, maka diberi kelonggaran haji qiran atau haji tamattu'. 
Puasa Ramadlan, bagi yang sakit atau musafir, boleh 'mokel', namun diqadla' pada waktu berikutnya. Bagi yang tidak mampu, boleh membayar fidyah.

Infaq dianjurkan oleh Islam. Berapa jumlahnya? Tidak ada ketentuan tertulisnya. Namun Nabi memberi contoh dan menganjurkan,
تصدق ولو بشق تمرة
"Bersedekahlah! Walau separuh biji kurma."

Oleh sebab itu, ahli Ushul fiqh sangat bijak,
ما لا يدرك بعضه، لا يترك كله
"Sesuatu yang tidak dapat digapai sebagian-nya, maka jangan ditanggalkan keseluruhannya."
Jadi dari sebagian yang dapat dikerjakan, dimulai dari situ. 

Inilah yang membedakan metode dakwah Nabi Muhammad dengan Nabi Nuh, Nabi berdo'a, "Ya Allah, berilah petunjuk kaumku, karena mereka belum mengerti!"
Sedang do'a Nabi Nuh, "Ya Allah, jangan kau sisakan orang kafir di atas bumi, karena mereka tidak akan beranak-pinak kecuali orang kafir..."

Cemoohan dilawan dengan kesabaran. Saat itu, saya ketawa dalam hati. Walau diserang kanan kiri, dari jama'ah Muhàmmadiyah sendiri dan non Muhàmmadiyah.
Saya tak bergeming, karena ini proyek Jangka Panjang. Bukan 1 atau 2 tahun, tapi selamanya. Yaitu menamkan kesadaran untuk "BERBAGI" melalui ibadah QURBAN. Penyembelihan binatang qurban itu wasilah saja untuk menumbuhkan kesadaran, bahwa makan, mimum, kesenangan, ketenangan, kebaikan, kebenaran jangaan "didaku", tetapi "dibagi". Jangan rakus hanya dimiliki 1 orang, egois, ananiyah, menange dewe, gak ngreken liyane, tak peduli yang lain. Namun beragama, asasnya adalah "ma'iyyah" (معية), kebersamaan. Dari akar kata "ma'a" (bersama-sama), bukan 'ana" (saya), individual, egoistis.

Agama adalah berbagi. Bukankah setelah rezeki dianugerahkan Allah, rezeki apa saja, jasmani, ruhani, materi, immateri, dst., harus dibagikan, bukan ditimbun untuk dirinya sendiri. Karena dengan berbagi, kebajikan akan diperoleh baik secara individu maupun kelompok, dan kebahagiaan akan bisa diwujudkan. Bukankah dengan taqwa, kebahagiaan itu dapat digapai? Kata Allah:
واتقوا الله لعلكم تفلحون
 "Bertakwalah kepada Allah, maka kamu akan mendapatkan kebahagiaan."

Pada tahun pertama patungan Qurban, dapat menyembelih 3 ekor kambing. Bagaimana perasaan jama'ah? Alhamdulillah, mereka merasakan "enak"-nya sate kambing, karena sebagian dagingnya, dimasak bersama-bersama. Ternyata, makan bersama, menimbulkan keinginan rasa enak yang bertambah. Asa terbangun. Tahun berikutnya, insyaallah lebih banyak.

Sedekah, melapangkan dada. Memberi, membuat dada menjadi 'luas' dan menghilangkan rasa iri, dengki, benci, apatis, permusuhan dan lainnya.
Orang yang tidak pernah berbagi, tak kan pernah merasakan kebahagiaan.
Orang yang egoistis, tak kan pernah aman dan nyaman jiwanya. Orang individualis, tak kan pernah merasakan lezatnya kebersamaan.

Ternyata, berqurban membuka jalan untuk bekerja keras dan keinginan untuk berbagi kebahagiaan kepada sesama.

Tahun berikutnya, iuran diperbesar, sehingga dapat 2 ekor sapi dan 3 ekor wedus. Tahun ke tiga, menjadi 3 ekor sapi 2 kambing.

Jama'ah semakin bangga, karena ngaji ada fungsinya. Bukan hanya dikata, tapi di amal nyata.
Mereka bangga, karena hanya jama'ah Muhàmmadiyah yang qurban-nya banyak, sementara yang lain tidak pasti. Karena bila sudah berqurban, tahun-tahun berikutnya tidak wajib Qurban.

Memang dalam pengajian 1 pekan sekali sering didoktrinkan: Qurban hukumnya wajib tiap tahun. Karena tidak ada nash yang sharih, bahwa Qurban cukup sekali sehidup-semati.

Warga Muhammadiyah, wajib Qurban tiap tahun! Biar ada gunanya ngaji Qur'an dan Hadits, bukan hanya ngaji untuk pantas-pantasan, tetapi ngaji adalah untuk diamalkan, dilaksanakan dan dipraktikkan.
Orang menjadi malu bila tidak beramal. Orang menjadi malu bila tidak berqurban. Tak mengapa, malu bila meninggalkan amar Allah dan Rasul-Nya, merupakan kebajikan. Sebaliknya, malu bila tidak berbuat maksiat adalah kemunkaran. Maka betul omongan bijak, "al haya'u min al iman" (malu bagian dari iman). Malu bila tidak berbuat kebaikan dan malu bila berbuat keburukan.

Orang Muhàmmadiyah pun malu bila tidak berqurban, karena sudah ngaji tiap hari, minggu, dan bulan, namun tidak dikerjakan. Yang ngaji saja tidak mengerjakan apa yang dikaji, apalagi yang sekedar baca, nyimak, atau bahkan tidak mengaji sama sekali, tentu lebih tidak punya rasa malu.

Kebaikan akan punya dampak baik, dan buruk akan berdampak keburukan. Sunnatullah itu berlaku, doeloe mencibir dan mencaci, now setelah menjadi kenyataan yang baik dan bermanfaat, bukan hanya didukung oleh jama'ah MU, jama'ah NU pun, ada yang ikut dalam kelompok 1 sapi 7 orang. Di masjid yang dikelola orang NU pun sudah mulai ada yang menggunakan sistem "urunan" apa adanya; dan ada juga yang 1 ekor sapi 7 orang.

Berbuat kebaikan, ternyata tidak harus dari yang besar dahulu, tetapi dimulai dari yang kecil. 
Dari yang kecil, remeh, ecek-ecek, ternyata melahirkan gerakan yang lebih besar.

Muhammadiyah besar, berawal dari kesadaran membangun keberagamaan yang lebih maju dan modern. Dari gerakan ngaji di mushalla, rumah, dst., Menjadi gerakan dahsyat yang melampaui batas negara dan kebangsaan.

Dalam ibadah pun, Nabi menganjurkan dari yang kecil dan ringan dahulu. Nabi menyuruh Tahajjud, namun bila tidak bisa dipenuhi, cukup witir: 1 atau 3 raka'at. Dari 1 menjadi kebiasaan, akan meningkat menjadi 2, 4, hingga 13 raka'at.

Inilah makna penting"pembacaan" atas nash, teks, ayat, atau hadits Nabi. Jangan dibaca apa adanya, lepas dari konteks, karena akan keluar dari maksud yang dituju.

Orang menuduh, urunan Qurban kambing tidak syar'iy, namun tidak berkata apa-apa, ketika ada orang yang punya kekayaan, tidak berqurban.

Orang mengajarkan untuk lancar membaca teks, tapi tidak bermujahadah untuk melancarkan orang Islam, lancar mengamalkan ajaran agamanya.

Orang sibuk menilai skripturalnya, namun abai menilai dari aspek substansiasi moral agama.

Orang jangan sibuk bicara teks, tetapi lupa pada kontekstualisasi. Akhirnya agama hanya jadi wacana, tak pernah membuana, bahkan menjadi pemicu bencana ikhtilaf yang berkepanjangan tanpa ujung. Bukan tidak perlu adanya wacana, diskursus, dan muthala'ah, namun niat dan maqashid dari wacana harus ditata untuk kemaslahatan, bukan untuk membangun kubu, kepentingan kelompok dan keuntungan sesaat.
Wacana, diskursus, harus benar-benar ilmiah, saintifik, dan benar. Bila seperti itu, maka akan mendapatkan manfaat yang banyak (khairan katsiran), sehingga maqashid al syari'ah bisa dicapai.

Terkadang kita butuh "lari" dari teks, namun "kembali" ke teks, agar maqashid al syari'ah tercapai. Umar ibn Khattab telah memulai. Kita generasi yang belakangan, tak harus takut untuk berbuat yang sama.

Post a Comment

0 Comments