About Me


"PEK ARENG 2"


Oleh: Sudono Syueb

   Harianindonesiapost.com Bermula dari postingannya ust. Muhammad Ain yang sedang menemani anak anak kesayangannya main main di pantai Dalegan, Gresik, "Nemeni anak anak bermain ombak#daleganBeach". Diskusi tentang istilah "Pek Areng" bermula.
   Setelah ust. Ain posting itu, lalu us. Khotimah, yang juga alumni YTP, menawari tadz Ain mampir rumahnya. "Mampir pak itu dekat rumah saya , sekitar 1 km ke barat"
  Mungkin tadz Ain belum tahu persis rumah us. Khotimah, lalu bertanya, "Camplung nggih..??"
   Us. Khotimah lalu menyambung, sebela utara campurjo desa Waru lor pak.
   Selanjutnya tadz Ain memberi tahu, ini rencana mau lanjut pek areng tangsi, bu hehe....
"Dekat tangsi berarti," tanya us. Khotimah.
" Sebelum tangsi', jawab tadz Ain
   Ketika tadz Ain bilang, "ini rencana mau lanjut pek areng tangsi." Saya penasaran dengan diksi 'pek areng" karena seumur umur saya baru tahu sekarang ini. Saya bertanya tanya, dari mana diksi itu? Karena belum tahu artinya dan dari mana asalnya, lalu saya komen, "Pek areng ki coro ndi lan opo artine? (Pek areng ini bahasa dari mana dan apa artinya?) Menarik istilah istilah lokal ini..."
  Dengan cepat us. Khotimah menjawab, "Coro weru komplek istilahnya/maksudnya mau datang"
  "Coro/bahasa Weru Komplek? Bukankah Weru Komplek itu dekat dengan Dengok، kampungku, kenapa saya baru tahu sekarang? Weru Komplek itu terdiri dari 4 desa, yaitu Waru Lor, Sidokumpul, Weru dan Paloh, masuk kecamatan Paciran, Lamongan, satu kecamatan dengan saya. 
Dan lagi artinya Pek Areng itu Mau Sampek, menurut us. Khotimah, atau "Mau Ke" menurut ustadz Mubarrok, yang juga alumni YTP, yang sekarang ikut membesarkan DDII di wilayah Pantura Lamongan dan Gresik serta Bojonegoro.   
   Menarik istilah ini, pasti istilah ini ada sejarahnya. Apa Pek itu penggalan dari kata sampek? Kayaknya tidak. Karena sampek itu artinya Teko/Tumeko. Padahal Pek artinya Mau"
Istilah Pek selama ini, di desaku, saya fahami sebagai juku'/ambil/milik. Misalnya dalam kalimat, tak pek e yo buku ini. Saya ambilnya ya buku ini. Yo wis pek pek en.(Ya sudah ambil saja.)
  Seperti biasa, tadz Ain suka nggoda saya, maka ketika saya menanyakan arti kata 'Pek Areng", tadz Ain nyeletuk, "Pagon pae yai dono iki..?? Suka memancing mancing untuk bermain literasi hehehe"
   Nah kata "pagon" itu saya sudah lama tahu, artinya "Pancet" atau "Tetap saja". Maka cletukannya tadz Ain langsung saya jawab, "Pancen riang durung ngerti je tadz Ain! Hehehe..."(Memang saya belum ngerti lho tadz Ain hehehe)
  Kalau istilah riang sudah banyak yang tahu, hampir masyarakat se Jatim tahu, karena istilah ini juga dipopulerkan oleh tokoh   Sarip Tambak Oso dalam cerita rakyat (floklore) dan sering dipakai lakon Ludruk/Ketoprak. Misalnya kata Sarip, riang gak trimo nek bongsoku dijajah Walondo (Saya tidak terima kalau bangsaku dijajah Belanda). 
   Jadi saya memang baru tahu ini istilah Pek Areng dan artinya. Maka itu saya sampaikan Suwun pada us. Khotimah dan juga ustadz Mubarrok yang telah memberi  tahu artinya.
   Ada memang istilah Areng yang menunjuk pada benda, yaitu bahan bakar tempo dulu yang trdiri dari kayu yang dibakar, warnanya hitam. Biasanya untuk bahan bakarnya Anglo. Konon masakan/minuman  yang dimasak pakai Areng ini rasanya lebih mantul dari pada pake kompor minyak atau kayu.
  Ada juga istilah yang hampir mirip dengan Areng, yaitu Arang-arang, berbentuk kata majmuk, artinya Jarang jarang, tidak selalu ada atau ketemu. Misalnya, jarang jarang buah itu ada, kalau tidak musin kemarau. Istilah ini pun sudah banyak yang tahu. Tapi istilah Pek Areng kayaknya bahasa khas dan bersifat lokalistik di Weru Komplek, sebuah wilayah  yang ada di tepi pantai Lamongan, perbatasan dengan kab. Gresik. 
   Wilayah Weru Komplek memang memiliki dialek bahasa dan istilah istilah khas, yang tidak ada di tempat lain. Termasuk pola mata pencahariannya juga khas. 
   Mata pencaharian masyarakat Weru Komplek ini mayoritas penangkap ikan perairan dengan menggunakan alat tangkap BRANJANG, sejenis rumah ikan semi permanen yang terbuat dari bambu di tengah laut. Di tempat lain sekitar Pantura Lamongan, Tuban dan Gresik tidak ada. 
   Pola jual beli hasil tangkapan pun khas. Para nelayan itu tidak menjual ikannya di darat tapi di tengah laut. Ada pembeli yang mendatangi Branjang Branjang mereka untuk melakukan transaksi jual beli ikan. Setelah terjadi transaksi baru dibawa ke darat oleh tengkulaknya dan dijual ke konsumen.

Post a Comment

0 Comments