About Me


Kokohnya Negara Berbasis Keluarga

Laporan:  Sudono S. Madpuri dan Nur Hasanah

   Harianindonesiapost.com Sebelum masuk ke inti masalah, ustadz Miftahul Jinnang, MAg. ketika memberi tausiah ba'da subuh di masjid Baitu Mahmud, Griya Bhayangkara, Ahad (23/6) tadi pagi, terlebih dahulu memberi ilustrasi tentang sepasang Kakek Nenek yang ingin saling memberi hadiah.
   Nenek melihat bahwa sepeda kakek itu sadelnya sudah lama rusak. Nenek kepingin membelikan sadel baru, berhubung tidak punya uang, Nenek jual anting antingnya yang tinggal satu itu untuk beli sadel baru buat sepeda Kakek.
   Pada saat bersamaan, Kakek menjual sepeda bututnya yang sadelnya rusak itu untuk beli satu anting anting untuk Nenek biar anting anting Nenek lengkap kanan kiri. 
   Beberapa hari kemudian Nenek dan Kakek itu mau buat kejutan dengan saling berikan hadiah. Kata Nenek, ini Kek ada hadiah untuk kakek". Dengan gembira Kakek menerima hadiah dari Nenek, istrinya tersayang, sambil mencium pipi Nenek, Kakek bilang, "Terimakasih sayangku, kamu sejak dulu sangat perhatian sama aku"
   Sebelum Kakek buka hadiah dari Nenek, Kakek juga mau kasih sesuatu pada Nenek. "Ini ada hadiah dari Kakek untuk Nenek", kata Kakek itu mesra. Sambari menerima hadiah, Nenek itu bilang, terimakasih jagoanku, kamu memang kereeen...
   Sejurus kemudian Kakek-Nenek itu membuka bungkusan hadiah itu bersamaan. Setelah terbuka dan tahu isinya, Kakek Nenek itu saling pandang, penuh kemasgulan. Tak lama kemudian mereka ketawa 😃😃😃.
   Niat Kakek Nenek sangat baik dan mulya, tapi karena tidak ada komunikasi antar keduanya maka saling memberi  hadiah itu jadi sia sia. Untuk apa sadel, lha wong seoedanya sudah dijual murah oleh Kakek. Begitu juga, untuk anting anting sebelah, kalau anting anting Nenek sebelah juga sudah dijual.
   Komunikasi interpersonal di antara anggota keluarga, bapak ibu dan anak itu penting supaya tidak terjadi misunderstanding di antara anggota keluarga. Sebab komunikasi dan hubungan antara anggota keluarga itu menimbulkan keharmonisan dan kebersamaan serta kekohan keluarga. 
   Jika keluarga harmonis dan kokoh maka bangunan masyarakat juga jadi kokok. 
   Ketika keluarga dan masyarakat kokoh maka negara pun akan ikut kokoh. Jadi membangun negara supaya  kokoh maka basisnya harus diperkokoh terlebih dahulu yaitu keluarga dan atau rumah tangga.
   Maka itu, sambung Jinan, yang juga seorang motivator, Bapak dan  lbu harus kompak maka  anak anak juga akn kompak.
Jika  ada anak anak  dari keluarga yang kompak ini berdoa, Yaa  Allah ampunilah  aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua menyayangi daku di waktu kecil.
(Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira)
   Dalam doa ini, 
ada klimat sebagaimana ( kama), ini kalimat perantara, berarti bapak ibu harus kompak mendidik anak, jika bapak ibunya tidak pernah mendidik dan membimbing ank anak, bagaimana bisa sampai kepada orang tuanya.
Sebab adanya distribusi doa anak itu harus  ada kontribusi bimbingan orang tua, baik bapak maupun anak..
   Selanjutnya ust. Miftahul Jinan tekankan bahwa  mendidik anak anak itu  bapak dan ibu harus kompak, anak anak jangan sampaikan kehilangan figur bapak atau ibu dan atau kehilangan keduanya karena bapak dan ibunya sibuk bekerja, anak anak dititipkan kakek neneknya, atau pada pembantunya, atau pada lembaga penitipan anak anak.
   Dibagian lain ustadz Jinan sampaikan periodesasi pengasuhan anak anak anak.
Anak umur O-2 tahun dibawah pengasuhan ibunya. Umur 3-6 tahun dibawah pengasuhan  bapak dan ibu dengan kerjasama. Sedang umur 6-12 anak laki laki harus dapat  sentuhan bapaknya dan  sebaliknya anak perempuan lebih banyak disentuh ibunya. Namun pada umut 12-17 tahun anak perempuhan perlu dapat  sentuhan dan dukungan dari bapaknya dan sebaliknya anak laki laki perlu dapat sentuhan dan peneguhan dari ibunya.

Fakta fakta kehilangn figur ayah untuk anak laki laki. 
1. Anak laki laki kurang berani ambil resiko dalam kehidupan ini. 
2. Kehidupan Sosial anak laki laki terbatas.
Anak laki terlalu domestik karena dekat ibu, padahal bapak adalah jembatan emas rumah ke masyarakat.
3. Anak laki laki cendrung kurang  leadershipnya
4. Lebih sering gunakan perasaan
5.kurang termotifasi utk berprestasi.

Fakta fakta anak perempuan kehilangn figur ayah.
1. Menggebu gebu mecintai lawan jenisnya/kecendrungan dekat lawan jenisnya lebih cepat.
2. Jika menciintai seorang laki laki membabi buta ( resikonya bisa fatal karena diapa apakan mau)
3. Kurang menhgunakan logika dalam pergaulan.

Post a Comment

0 Comments