About Me


Ketika Senjata Kita Yang Tersisa Tinggal Menangis

Oleh: Sudono S. Matpuri

(Alumni Ponoes YTP, Kertosono dan UGM, Yogyakarta)

   Harianindonesiapost.com Ketika semua keinginan telah diputuskan, segala ikhtiar sudah dilakukan, segenap doa telah dilantunkan, tapi Allah belum mengabulkan, bahkan realitas sosual politik ekonomi dan budaya seolah olah tidak berpihak pada kita, maka senjata terakhir kita adalah menangis se tangis tangisnya di haribaan Yang Menciptakan air mata.
   Alkisah, ada satu negara kecil yang seluruh pemimpin dan rakyatnya beriman dab bertaqwa l kepada Allah dan Rasulullah hidup tentram, damai dan sejahtra.
   Suatu saat negara lslam ini diserang oleh negara besar yang dhalim dan serakah secara biadab. Seluruh kekuatan negara kecil dengan dibantu seluruh ulama dan rakyat telah dikerahkan untuk melawan dan mengusir agresor tersebut. Tapi karena kekuatan tidak seimbang, maka pertahanan negara kecil itu bisa diobrak abrik oleh musuh hingga kacau balau.
   Melihat kondisi yang kritis seperti  itu maka seluruh kekuatan negara kecil itu ditarik mundur sampai ke garis belakang, lalu semua akses masuk ditutup.   
   Berhari hari negara kecil itu dikepung musuh, kondisi semakin parah karena suplai makan dan minuman rakyat diblokade musuh.
Walaupun begitu mereka tetap bertahan demi menyelamatkan aqidah shohihah mereka, aqidah tauhid rububiyah, ilahiyah dan asma' wa sifat kepada Allah.
   Dalam kondisi terjepit seoerti itu, maka tampillah seorang ulama sepuh untuk memompa semangat umatnya. 
"Saudara saudaraku seiman selslam, jangan putus asa, secara nateri kita memang sudah tidak punya apa apa lagi, tapi secara ruhani, kita masih punya Allah Yang Maha Kaya dan Perkasa, mari kita minta pertolilongan Allah dengan cera menangis bersama sama dengan betul betul menangis, mari mulai... Huuu... huuu... huuu... 
   Suara tangisan rakyat yang terkepung itu keras membahana, bergemuruh memekakkan dan memecahian telingan musuh. 
   Tak lama kemudian terdengar suara pasukan infantri dan berkuda berlari tunggang kanggang, menjauhi negara itu,  ditimpali suara munduuuur.... Munduuuuur.....
Lalu senyap... sepi.... tak ada aktivitas pasukan musuh. Rakyat negara kecil itu heran karenan suasan sepi mamri, kemudian ulana tadi mengintip keluar, tak ada siapa siapa di luar, yang ada hanya ligistik musuh berupa makanan dan peralatan perang saja. Tak lana pintu gerbang negara kecil iti dibuka...
"Alhamdu lillaah... Allah telah menolong kita, mari kita sujud syukur.... ", seru ulama khariskatik itu.
   Semua rakyat lalu sujud syukur atas pertolongan Allah ini....
   Setelah itu rakyat menikmati makanan peninggalan musuh sebagai ghonimah, setelah berhari hari tidak makan.
   Mari kita biasakan karena Allah dan Rasulullah. Di dalam Al Quran, menangis itu disebutkan cukup banyak, bahkan bila dibandingkan dengan mata sendiri, menangis itu lebih banyak disebutkan. Kata-katanya dituliskan dengan gamblang, menangis karena mengingat Allah, karena bahwa kita di dunia ini sedang diberikan ujian, ujian untuk bisa pulang ke kampung halaman kita dengan selamat.

Pulang kampung adalah sesuatu yang sangat dirindukan, maka perlu kita persiapkan dengan baik.

Rasulullah SAW mengatakan, jika kita dibukakan lembaran layar kita di masa lalu kita, maka kita akan menangis tanpa disuruh dan tanpa dipaksa.

Kita diperintahkan untuk menangis, secara halus melalui Rasulullah SAW, melalui Nabi-NabiNya.

Dalam Q.S Al Maidah : 83 menyebutkan orang orang beriman selalu nenangis jika mendengar bacaan ayat ayat al Qur'an

“Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al Quran) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata, “Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran atas kebenaran Al Quran an kenabian Muhammad).”

Ada hadist riwayat Ibnu abbas ra, yang mengabarkan bahwa ada mata yang tak tersentuh api neraka karena menangis karena Allah : “Ada dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka. Yaitu mata yang menangis di pertengahan malam karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga di jalan Allah”. (HR. Tirmidzi)

Jadi ada syarat dan ketentuannya mata yang tidak akan tersentuh api neraka ini : yang pertama menangis di pertengahan malam, dan kenapa menangis? Karena takut kepada Allah, bukan karena banyak tunggakan hutang atau karena alasana lain, tapi karena takut kepada Allah.

 Abu hurairah ra juga meriwayatkan bahwa menangis karena takut pada Allah tidak akan masuk neraka : “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut pada Allah, sampai air susu kembali ke putingnya dan tidak akan bisa berkumpul debu dijalan Allah dengan asapnya neraka jahanam”

Hadist ini menyatakan jaminan Allah, bahwa ketika sudah ada tangisan kita, karena konsekuensi-konsekuensi ataupun komitmen-komitmen yang tidak bisa kita lakukan. Ini adalah gambaran definisi menangis karena untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan definisi menangis karena lemah ataupun cengeng.

Sehingga Ini adalah sebagai sarana komunikasi, semua yang ada didalam tubuh kita merupakan hasil komunikasi. Jasmani kita dilengkapi dengan alat komunikasi : mulut.

Ketika tubuh kita digigit serangga, maka tubuh kita akan bentol, ini merupakan hasil komunikasi tubuh kita merespon terhadap racun serangga. Tubuh kita diciptakan berupa jasadiyah dan ruhiyah, lalu bagaimana ruhiyyah kita  berkomunikasi melalui jasaddiyah kita?

Jawabnya  adalah melalui  Air mata 

Tekanan psikologis yang kuat , akan mendesak kelenjar air mata membengkak dan mendesak untuk mengeluarkan air mata, sehingga keluarlah air mata.

Dan tidak tahu air mata ini keluar untuk siapa?

Supaya air mata ini punya arah, kita tujukan agar air mata ini keluar sebagai sarana komunikasi untuk mendekatkan hati pada Allah pada malam hari saat Qiyamul lail .Kenapa harus malam hari? Karena air mata secara fisiologis keluar pada malam hari, kalau siang hari keluar air mata itu karena efek patologis, karena efek kita kurang tidur. Jadi ini sejalan dengan konsep kesehatan. Menangis adalah menyehatkan, merupakan ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tangisan para Nabi terdahulu

Nabi Adam a.s: selalu mengenang kesedihan selama hidupnya

Nabi Nuh a.s : tangisannya berubah menjadi topan yang menenggelamkan bumi

Rasulullah SAW: lebih banyak menangis, sedikit tertawa. Ketika seseorang menangis karena melihat mayat yang terbujur kaku,

Rasulullah SAW berkata  “Kalau kita lebih tau/melihat diri kita sendiri maka kita akan jauh lebih menangis daripada ketika kita menangis karena melihat mayat yang terbujur tersebut“.

Rasulullulah juga menangis, karena sedih melihat kondisi umatnya.

Doa Rasulullah dalam Q. S Al Maidah : 118

“Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa Mahabijaksana.”

Tangisan Rasulullah direspin Allah, seperti hadis berikut ini:

“Wahai jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakanlah kepadanya sesunguhnya kami akan meridhai umatmu dan kami tidaklah akan berbuat buruk“.  (HR. Shahih Muslim)

 "Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (At Taubah : 82).

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata (menangis) disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-rang yang menjadi saksi atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad.” (  Al Maa’idah : 83)

“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mener­tawakan dan tidak menangis. Sedangkan kamu melalaikannya? Maka bersujud lah kepada Alloh dan sembahlah (Dia).” (QS. an-Najm 1531: 59-62)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, ketika menafsirkan ayat 59-62 ini berkata :

“Ayat ini ditujukan kepada para pendusta Ro­sululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam.Pertanyaan pada ayat ini menun­jukkan ingkar dan heran, mengapa mereka mendustakan Rosululloh          , yang membawa ayat dan bukti yang benar. Bukankah Rosu­lulloh Shallallahu ‘alaihi wasallam, pemberi peringatan seperti para utusan sebelumnya. Mengapa mereka tidak khawatir disiksa se­perti disiksanya pendusta risalah para utusan sebelumnya. Oleh sebab itu Alloh Ta’ala berkata : “Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini wahai pendusta Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam? Sehingga kamu menertawakan pemberi­taan berupa al-Qur’an ini ?

Kamu menertawakan hukum-hukumnya, me­nertawakan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam, menertawakan ibadahnya dan menghinanya. Kalian merasa heran dan menertawakan dia Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mengapa kamu tidak menangis ketika mende­ngar al-Qur’an karena rasa takut kepada Alloh Ta’ala dan tidak mau kembali kepada yang haq ? Akan tetapi hatimu bertambah keras? – maka kami berlindung kepada. Alloh Ta’ala dari hati yang keras ini- dan mengapa kamu menjadi orang yang melupakan al-Qur’an dengan sen­da guraumu dan nyanyianmu? Sebagian kamu bila mendengar ayat Alloh, kamu menyanyi, bukankah itu sifat orang kafir, Alloh ‘Azza wa jalla berfirman : “Dan orang-orang yang kafir berkata : “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.” (QS. Fushshilat 1411: 26)

Post a Comment

0 Comments