About Me


KEMANDAH (ANAK NELAYAN BELAH TOMPO 2)


Oleh Murib Ilham

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan UINSA, Surabaya)

Harianindonesiapost.com Pada umumnya area penangkapan ikan wilayah Brondong, Blimbing dan sekitarnya berada jauh di perairan laut jawa hampir mendekati pulau Bawean. Di area ini masing-masing perahu nelayan memasang"TENDAK" yang diberi tanda tertentu agar mudah dikenali pemiliknya, di daerah lain  tendak dikenal dengan sebutan rumpon, tendak terbuat dari BLARAK (daun kelapa) basah yang masih ada pelepahnya diikat pada tampar panjang, tali pengikatnya menggunakan MANCUNG yaitu pambungkus mayang kelapa setelah mayang mekar dan menjadi buah kelapa pembukusnya mengering menjadi macung, macung tersebut dijadikan tali pengikat karena tahan air laut.
Pemasangan tendak dimaksud untuk rumah ikan layang yang nenjadi tangkapan para nelayan, jenis ikan layang ini kaberadaanya musiman saat nelayan awal melaut ikan layang masih kecil disebut ikan "BLENYIK" beberapa bulan kemudian ukuranya sedang disebut ikan "LAYANG" dan setelah besar disebut ikan "BENGGOL"  di Probolinggo dan Madura jenis ikan ini disebut ikan 'SALEM"
Pada musim ikan layang, ratusan ton jenis ikan ini setiap hari dihasilkan oleh ratusan perahu nelayan, karena itu masyarakat Brondong dan sekitarnya menamakan "MUSIM PELAYANG", karena musim ikan layang.
Saat musim pelayang Brondong sebagai kota kecamatan menjadi kota hidup, ramai, perekonomian menggeliyat, masyarakat pendapatanya meningkat, daya belinya kuat sehingga mengundang para pedagang dari berbagai daerah datang, mulai dari pedagang perhiasan, emas-emasan,  pakaian, bolopecah peralatan rumah tangga hingga pedagang makanan, transaksi jual beli ikan di TPI terjadi sepanjang malam, karena perahu-perahu nelayan berlabuh menurunkan ikan mulai sore hari hingga menjelang pagi, transportasi ada sempai malam hari yang tidak kita temukan di luar musim pelayang.

Biasanya perahu-perahu nelayan berangkat melaut menjelang maghrib karena di malam hari terjadi angin DOYO, angin  yang bertiup dari arah selatan keutara sehingga bisa  mempercepat laju perahu menuju utara, pada perahu tradisional yang hanya digerakkan oleh layar dari tiupan angin, sampai di lokasi penangkapan tempat tendak dibentangkan memakan waktu semalam suntuk.
Para belah (awak) perahu hanya sekali bekerja dalam sehari semalam, hanya pada menjelang fajar selebihnya waktu digunakan untuk istirahat, tidur yang punya hobby dan keahlian mancing digunakan untuk mancing seperti bapak, maka rata-rata orang miyangan fisiknya dempal gemuk kebanyakan tidur dan makan apalagi asupan gizinya memadai, mengkonsumsi ikan segar yang banyak mengandung protiin, pada waktu menjelang fajar para belah baru "TAWUR" bukan tawuran seperti anak sekolah, tawuran antar sekolah atau tawuran antar kampung yang sering terjadi ahir-ahir ini, tetapi TAWUR, yang artinya bekerja menarik pukat yang semalaman ditebar di bawah tendak tempat ikan-ikan berkumpul, memang kadang-kadang terjadi adu mulut karena menarik pukat tidak serentak, sebab harus cepat dan cekatan agar ikan-ikan tidak keburu melompat keluar dari pukat.
Jika rizqi berpihak kepada mereka, sekali tawur dapat beberapa PETAK, di lambung perahu ada tempat yang disekat-sekat, jumlahnya disesuaikan dengan ukuran besar kecilnya perahu, sebab sekat sesuai dengan kerangka perahu, tempat yang disekat ini namanya PETAK untuk tempat hasil tangkapan ikan dan di atasnya ditutup papan untuk aktifitas awak parahu, memasak, istirahat, sholat dan lain-lain. 
Biasanya jika sekali tawur dapat beberapa petak mereka langsung pulang untuk menjaga kualitas ikan sebab zaman dahulu menjaga kesegaran ikan itu hanya menggunakan garam tidak seperti sekarang menggunakan es balok ada juga yang menggunakan formalin yang membahayakan kesehatan.  

Kami anak-anak nelayan belah tompo, berharap cemas ketika bapak sudah hari ketiga melaut belum pulang, sementara bapaknya teman yang berangkat bersama bapak kami hanya beda perahu sudah pulang, sebab bekerja sebagai nelayan tradisional, rawan musibah perahu tidak dilengkapi perangkat keselamatan, tidak ada alat navigasi, alat komonikasi bahkan sekedar pelampung tidak disediakan, mereka mengandalkan akrab dengan alam tetapi jika alam tidak lagi bersahat maka musibah pasti terjadi,  di hari keempat bapak juga belum pulang bertambah cemas, baru pada hari kelima bapak pulang memikul ikan kering yang banyak sekali karena banyak kesempatan mancing.

Saat malam tiba sambil melepas lelah jagongan di teras bapak bercerita sebab musabab miyang kali ini sampai lima hari, kata bapak saat tawur hari pertama dapat satu petak di hari kedua tambah apes lagi hanya dapat setengah petak akan pulang tanggung hanya membawa hasil tangkapan satu setengah petak maka dijual kepada "KEMANDAH" pedagang yang biasa mendatangi nelayan di tengah laut dan melakukan transaksi jual beli ikan dengan harga murah di bawah harga pasar di TPI.
Kemandah  juga sering kali menghadang para nelayan yang hendak pulang untuk melakukan transaksi agar mendapatkan harga di bawah standar karena para nelayan tidak tahu harga pasar saat itu.
Bagaimana KEMANDAH dalam perspektif fiqh Islam?

Probolinggo, 1 juli 2019

Post a Comment

0 Comments