About Me


Keinginanku Miyang Sampai Sekarang Tidak Terwujud


Oleh: Murtadlo HS. 

(Alumni Pon Pes "YTP" dan SMAM 2 Kertosono). 

Harianindonesiapost.com Ketika saya naik kelas 2 tsanawiyah Muhammadiyah Dengok, saat itu juga saya diikutkan bapak mengikuti kakakku pindah untuk nyantri di Pondok Pesantren Ar-Raudlotul Ilmiyah Kertosono. Ketika saat nyantri beberapa tahun saya mulai merasakan akan beban kedua orang tua. Dalam tradisi pesantren setiap sesudah semester ada libur satu minggu. Musim liburan ini dimanfaatkan oleh para santri pulang kampung guna melepas rindu dengan kedua orang tuanya ada juga yang memanfaatkannya ikut berlibur di rumah teman-temannya. Sebagai anak yang sudah bisa merasakan kondisi ekonomi oran tua, saya berfikir untuk tidak terlalu membebaninya. Rata-rata para santri kembali ke pondok tidak bersamaan karena menunggu cukupnya bekal untuk kebutuhan hidup di pondok. Satu minggu sebelum saya balik ke pondok saya minta ijin kepada kedua orang tua kalau saya mau nyimbat miyang, namun mereka tidak memberi ijin. Setiap libur semester saya pulang dan setiap akan kembali saya minta ijin, namun jawabannya tetap sama yaitu "ojo mengko awakmu mundak mendem". Terakhir, ketika aku pulang dari sulawesi dan mau balik, keuangan untuk membeli tiket kapal agak menipis, maka saya minta ijin sekali lagi, namun kali ini mereka melarang keras "wes thoh pokok e ojo melu miyang (sudahlah pokoknya jangan ikut berlayar). Maka saya mencoba bertanya sama emak saya "mak aku kok ora nate diwenehi ijin melu miyang?". "bapakmu gak ngolehi kowe miyang kui supoyo kowe iso sekolah, sekolah seng dhuwur, miyang kanggone bapakmu kuwi abot bapakmu biyen yo nate miyang" Itulah jawaban yang aku dapatkan. Sejak itu aku menyadari bahwa keinginan semua orang tua ingin agar anaknya menjadi "orang", menjadi lebih baik, bisa memberikan manfaat kepada agama dan bangsanya. Dulu saya sering su'udhon sama mereka karena dilarang ini itu ternyata di balik larangannya itu tersembunyi cita-cita yang luhur. Dan akhirnya yang namanya miyang sampai saat ini belum pernah saya rasakan, sebagai gantinya dari keinginanku itu Allah mengijinkan saya beberapa kali naik kapal besar pelni: Kapal Tidar, Kapal Bukit Sigontang, dan Kapal Rinjani. Semoga apa yang telah di perjuangkan orang tua kita menjadi amal jariyah buat mereka, serta teriring doa Allohumaghfirli waliwa lidaiyya warhamhuma kama robbayani shoghiero. Aamiin.
Enrekang, 28 Juni 2019

Post a Comment

0 Comments