By: Bukhori at Tunisi

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan UIN SUKA, Yogyakarta)

Harianindonesiapost.com Ku telusuri jalan
Tiada berujung
Berliku
Berlubang
Berkelok bak bidadari
yang sedang menari
Orang berjejal
Menelusuri lorong-lorong sempit 
Mencari tujuan

Begitu lincah
Tarian anak bangsa
Mencari ma'isyah
Tanpa menengadah
Mengemis-ngemis
Tuk mengais rezeki
Tapi
Mempertaruhkan nyawa
Memeras keringat
Banting tulang
Menyinsingkan lengan baju
Derap langkah ke depan
Pantang mundur ke belakang

Di sana
Di belakang meja
Para hulubalang kuasa
Memeras keringat rakyat
Makan tulang rakyat
Memperbudak rakyat
Outsourcing laknat
Bahagia atas derita rakyat
Kesadaran musnah
Dirasyawah cukong-cukong keparat
Akal sehat minggat
Nurani sekarat

Lihat rakyatmu
Berjejal di jalanan
Mempertahankan nyawa
Tuk mengais rezeki halal

Tapi
Kau palak
Kau rampas
Kau hisap
Tanpa kau sadar
Lewat kebijakanmu
Yang tak berpihak rakyat
Tapi berpihak pemodal

Sadarkah
Di pundakmu amanat dipikulkan
Masa depan dipertaruhkan
Malah kau memperbudak rakyat

Dulu koloni
Sekarang neo kolonial
Dulu menjajah
Sekarang memerah
Dulu memperbudak
Sekarah menghisap darah 
setiap saat
Setiap detik
Setiap nafas

Jalan berliku
Berjejal
Pekerja mencari hidup
yang halal, berkah, dan rahmah.

Adakah sisa-sisa
di nadimu
Rasa iba pada sesama
Itu kan saudaramu
Itu kan sedarah denganmu
Itu kan serahim dengan mu
Iku kan seibu dengan mu
Itu kan sebapak dengan mu
Itu kan dari Satu Pencipta
dengan mu

Masihkah akal sehatmu
Menalar sesaat
Bagaimana nasib saudaramu?
Bahagia?
Sengsara?
Menderita?
Atau kamu pura-pura tuli, bisu dan buta
Atau kau pura-pura dungu
Masa bodoh
Atau pura-pura gila

Jalan penuh liku
Berapa saudaramu yang
Memuntahkan darah terlindas di trotoar jalan

Kau bilang
Bangsamu pemalas
Kau bilang melayu pemalas
Kau bilang bangsamu tak pandai

Tapi kau berpendidikan
Tapi tak pintar
Kau sekolah
Tapi tak berakhlak
Kau sarjana
Tapi Miskin moral
Kau S3
Tapi tak nalar

Negara
Rakyat
Tak butuh yang formal
Nabiku tak sekolàh
Tapi belajar kepada pencipta Fajar
Dia bukan putra fajar
Tapi terbit bagi fajar
Membelah gulita jahiliyah

Ia tak berijazah
Tapi belajar pada Ilah
Ia lahir dari bangsa jahiliyah
Tapi dia obor penerang
Cahaya yang bersinar
Bukan lampu yang redup
Tertiup angin 
Lalu surup

Turunlah ke jalan
Lihat rakyatmu
Berjejal di jalan
Berlomba mengejar waktu
Tuk menggapai yang dituju

Siapa yang malas?
Siapa yang culas?
Siapa penghisap?
Siapa pengkhianat?
Siapa penindas?

Rakyat?
Penguasa
Para centeng
Cukong 
Atau siapa?

Tanya pada rumput yang bergoyang
Ebiet pun tak bisa jawab
Karena mulut tak mampu berkata
Nurani tak bersuara
Nyali mati
Akal terjungkal
Terbolak balik
Yang benar salah
Yang salah benar
Rumput pun tak bisa bergoyang
Karena rumput tlah jadi
gedung pencakar langit
Rakyat menjerit
Tapi suara tiada yang mendengar
Mati suri
Habis itu
Mati

Bangunlah
Jangan kau gantung nasib mu pada orang
Teriaklah
Berjuanglah
Kau kan merdeka
Bahagia