About Me


Hadis Dhaif: Menggauli lstri Di Malam Jum'at Sebagai Sunnah Nabi Muhammad


Oleh: Sudono S. Madpuri

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan UGM, Yogyakarta)


Harianindonesiapost.com Selama ini kita sering mendengar atau membaca tulisan serta meme tentang Sunnah Malam Jum'at. Dan yang dimaksud adalah jimak/menggauli istri. Yang pro sunnah malam jum'at ini, sudah tentu mereka melakukan aktifitas ini karena dianggap mengikuti sunnah Nabi Muhammad dan merasa berpahala di samping kenikmatan biologis dan kepuasan psikologis, sementara yang tidak pro, maka malam hari atau siang hari apapun mereka lakukan kalau sedang ingin. 
   Ternyata istilah Sunnah Malam Jum'at sebagai aktifitas jimak yang sudah viral itu ternyata tidak ada dalilnya baik dari Al Qur'an maupun dari hadis. Kalau dianggap ada hadisnya maka itu hanya takwil ulama bukan langsung dari Nabi Muhamkad dan bersifat debatable 
   Menurut Shodik seperti dilansir dakwah.id. bahwa dalam bab keutamaan amal, sering didapati penyantuman hadits-hadits dha’if, baik dhaif secara sanad ataupun dhaif secara matan (konten hadits). Bahkan, tak jarang hadits yang digunakan sebagai argumentasi adalah hadits munkar atau bahkan palsu.

Informasi tentang keutamaan menggauli istri di malam Jumat pun tak luput dari serbuan hadits-hadits dha’if. Misalnnya hadits,

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يُجَامِعَ أَهْلَهُ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ؛ فَإِنَّ لَهُ أَجْرَيْنِ: أَجْرُ غَسْلِهِ، وَأَجْرُ غَسْلِ اْمرَأَتِهِ؟

“Apakah seorang di antara kalian lemah untuk menggauli istrinya di setiap Jumat padahal itu mempunyai dua pahala; pahala mandi junub dan pahala memandikan istrinya (menggauli istrinya)?”

Hadits yang diriwayatkan dari Baqiyah bin al-Walid, dari Yazid bin Sinan, dari Bakir bin Fairuz, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini ternyata dinilai sebagai hadits yang munkar.

Pernyataan ini disampaikan oleh syaikh Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah hadits nomor 6194 (13/424) versi al-Maktabah asy-Syamilah.

Hadits tersebut dikeluarkan oleh abu Na’im dalam kitab Ath-Thibb (2/79), Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman No. 2991 (3/98), ad-Dailami dalam kitab Musnad al-Firdaus No. 1 (1/180)

Selain hadits tersebut, ada hadits lain yang dijadikan argumentasi penguat adanya sunah menggauli istri di malam Jumat. Hadits ini disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin ketika beliau menyebutkan adanya sebagian ulama yang menyukai Jimak pada hari dan malam Jumat.

Akan tetapi hadits tersebut disampaikan hanya sekilas tanpa ada kelengkapan riwayat dan teks haditsnya. Beliau menuliskan,

رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيُجَامِعَ أَهْلَهُ فَيُكْتَبُ لَهُ بِجِمَاعِهِ أَجْرُ وَلَدٍ ذَكَرٍ قَاتَلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَقُتِلَ

“Telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya seorang suami yang menggauli (jimak) istrinya, maka jimaknya itu dicatat memperoleh pahala seperti pahalanya anak lelaki yang berperang (dengan kaum kafir) di jalan Allah, lalu terbunuh.’” (Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali, 2/51, versi al-maktabah asy-Syamilah)

Setelah ditelusuri, ditemukan bahwa hadits tersebut tidak ditemukan asal-usul riwayatnya. Al-Iraqi mengatakan bahwa riwayat tersebut Lam ajid lahu ashlan; tidak ditemukan asal riwayatnya. Sementara as-Subki juga mengatakan bahwa beliau belum pernah menemukan jalur sanadnya. (Takhrij Ahadits Ihya’ Ulumiddin, Muhammad al-Haddad, 2/994)


Sementara iti Ibnu Kharish dalam
BincangSyariah.Com, menyatakan, pada dasarnya, tidak ditemukan anjuran khusus dari Rasulullah, baik berupa perkataan atau perbuatan, mengenai hari yang baik untuk melakukan hubungan intim suami-istri. Namun demikian, ada penjelasan ulama terhadap hadis Nabi terkait dianjurkannya melakukan hubungan intim pada malam Jumat atau hari Jumat, sebagaimana dijelaskan Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin.

Hadis Nabi yang dimaksud oleh Imam al-Ghazali tersebut adalah hadis riwayat Aus bin Aus yang mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

من غسل يوم الجمعة واغتسل وبكر وابتكر، ومشى ولم يركب، ودنا من الإمام واستمع، ولم يلغ كان له بكل خطوة عمل سنة أجر صيامها وقيامها (رواه أبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه)
Barangsiapa yang membasuh kepala dan membasuh seluruh badannya pada hari Jumat, berangkat lebih dini sehingga mendapatkan awal khutbah Jumat, berjalan kaki tidak naik kendaraan, duduk di dekat imam, memperhatikan khutbah dengan khusyuk, maka ia mendapatkan pahala puasa dan ibadah salat malam selama satu tahun dalam setiap langkah (menuju salat Jumat) (HR Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibn Majah).

Terdapat kalimat “Barangsiapa yang membasuh kepala dan membasuh seluruh badannya pada hari Jumat” dalam potongan hadis di atas. Menurut Imam al-Ghazali, potongan hadis tersebut dipahami oleh sebagian ulama merupakan anjuran melakukan hubungan intim suami-istri pada malam Jumat atau hari Jumat. Dalam hadis lain yang senada dengan hadis di atas juga membicarakan tentang mandi junub pada hari Jumat.

“Kalau mandi junub pada hari Jumat, berarti malam Jumat-nya kan habis melakukan hubungan suami-istri,” mungkin demikian sederhanya. Oleh karena itu, kemungkinan besar istilah “Sunah Rasul pada malam Jumat” atau “Malam Jumatan” yang beredar di sebagian masyarakat muslim adalah berasal dari takwil ulama atas hadis Nabi di atas.

Selain itu, Imam al-Ghazali juga menyebutkan, dimakruhkan bagi suami untuk berhubungan intim dengan istri pada tiga malam dari satu bulan yaitu pada awal bulan, akhir, dan tengah bulan (hijriah). Dikatakan: Sesungguhnya setan akan menghadiri hubungan intim yang dilakukan pada malam-malam ini. Konon, menurut Imam al-Ghazali, pendapat tersebut dinisbatkan pada sahabat Ali, Abu Hurairah, dan Muawiyah. 

Shodiq dakwah.id menambahkan, Selain itu, ada dalil lain yang berhubungan dengan ada atau tidaknya keutamaan menggauli istri di malam Jumat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ وَغَدَا وَابْتَكَرَ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا

“Barang siapa membersihkan dirinya dan mandi, lalu ia segera berangkat (ke masjid) sedini mungkin serta mendekat kepada imam, dan ia tidak melakukan hal yang sia-sia, setiap langkahnya laksana amalan satu tahun disertai puasa dan shalat malamnya.” (HR. An-Nasai No. 1364; HR. At-Tirmizi No. 456; HR. Ad-Darimi No. 1503; HR. Ahmad No. 16348 )

Ketika menjelaskan hadits di atas, imam an-Nawawi mengatakan bahwa ada dua riwayat tentang hadits tersebut. Riwayat pertama menyebutkan redaksi kata غسل tanpa menggunakan tasydid di huruf س, sedangkan riwayat kedua menggunakan tasydid di huruf س. Perbedaan tersebut berdampak pada penafsiran maknanya.

Redaksi hadits yang kata غسل nya menggunakan tasydid pada huruf س, mengandung tiga penafsiran;

Pertama, ghassala zaujatahu. menggauli istrinya sehingga menuntut dirinya untuk harus mandi (mandi janabah). Dalam penafsiran ini, kata ightasala dimaknai dengan dianjurkan bagi dirinya untuk menggauli istri pada hari ini (hari Jumat) agar ia merasa aman dari hal-hal yang mengganggu hatinya saat perjalanan menuju masjid.

Kedua, maksudnya adalah mencuci anggota badan saat wudhu, masing-masing bagian dibasuh tiga kali kemudian mandi Jumat.

Ketiga, mencuci pakaian, lalu mencuci kepala, lalu mandi Jumat.

Sedangkan riwayat hadits yang menggunakan redaksi غسل tanpa tasydid memiliki tiga makna;

Pertama, jimak

Kedua, mencuci pakaian dan kepala.

Ketiga, wudhu.

Pendapat yang dipilih adalah pendapat imam al-Baihaqi dan ulama ahli tahqiq lainnya; yaitu dengan redaksi tanpa tasydid, maknanya mencuci atau membersihkan kepalanya.

Baca Juga: Nikah Gagal Gara-gara Kesandung Weton, Aduh.. Kasihan

Pendapat ini dikuatkan dengan adanya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud yang berbunyi,

مَنْ غَسَلَ رَأْسَهُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ

“Barangsiapa yang membersihkan kepalanya pada hari Jumat dan mandi.”

Imam Abu Daud dalam kitab sunan-nya (no. 346) dan al-Baihaqi meriwayatkan penafsiran ini dari makhul dan Said bin Abdul Aziz.

Al-Baihaqi mengatakan bahwa telah tampak jelas dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Organ kepala disebutkan secara khusus tersebab kebiasaan orang pada saat itu melumuri rambut dengan lemak dan pewarna dari bunga, sehingga mereka membersihkannya terlebih dahulu baru setelah itu mandi. (Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 4/543)

Post a Comment

0 Comments