About Me


Campohan



Oleh: Sudono S. Madpuri

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan UGM, Yogyajarta)

Harianindonesiapost.com Setiap kapal nelayan sudah tentu punya awak kapal  yang punya tugas berbeda beda. Salah satunya bertugas membersihkan kapal itu jika habis dipakai melaut untuk mencari ikan tangkapan perairan. Namanya CAMPOHAN. Biasanya Campohan itu terdiri dari anak anak atau remaja umur 10-15 tahun, mereka tidak ikut melaut. Hanya menunggu di darat. Tugas mereka untuk membersihkan kapal itu dari bekas kotoran ikan dll, supaya prahu tidak bau arus ikan lagi dan bersih, di samping itu, Compohan juga disuruh suruh Jeragan, orang memiliki kapal nelayan tersebut, atau orang mengoperasionalkan kapal orang lain.
   Dulu, ketika saya berumur 12 tahunan pernah ikut jadi CAMPOHAN atau awak kapal kecil nelayan yang melaut harian. Melaut sekitar jam 02.00 dini hari, ketika angin berembus dari darat ke laut dan pulang sore hari ketika angit laut berembus ke darat sekitar jam 15.00. Waktu itu tenaga dorong kapal laut masih tradisional dan alamiah yaitu dari angin yang mendorong layar kapal bentuk segi tiga yang dibentangkan di atas kapal.
   Kapal kecil yang melaut harian, dengan gunakan jaring Payang/Cantrang yang lazin disebut Miyang, atau yang gunakan Pancing yang kazim disebut Mancing, Bandil dan Ngirit,  kapalnya disebut Jonjon atau Jonijon. Biasanya awak jonijon ini sekitar 2-3 orang plus Campohan.
   Sedangkan kapal yang gunakan jaring Pukat untuk menjaring ikan Layang layang, biasanya disebut Prahu, bentuk kapalnya lebih besar dan panjang. Kepalanya ada LINGGInya lebar dan panjang serta lancip, begitu juga ekornya ada LINGGInya, tapi lebih pendek. Jumlah awaknya/belahnya pun lebih banyak, sekitar 10-15 orang. Namun nama kapal nelayan ini bisa beda beda jika lain desa, walaupun bentuknya hampir sama. Misalnya, daerah Blimbing, Dengok,  Brondong, Paciran dan sekitarnya namanya PRAHU. KUNTING untuk Weru dan sekitarnya. Sedang Jonijon untuk Blimbing, Dengok dan sekitarnya. Jonijon ini kalau di Weru dan sekitarnya namanya Sompe.
   Dulu ketika teknologi tangkap ikan perairan laut masih jadul, hanya mengandalkan angin untuk melajukan prahu dan jonijon dan dengan tenaga manusia untuk menarik payang dan atau pukat prahu. 
   Sedang tali tambang untuk Jonijonnya terdiri dari ijuk hitam sebesar jempol kaki orang dewasa yang disebut Batek. Cara membuatnya diplintir plintir dengan suatu alat, namanya Babi, karena bentuknya seperti kepala babi, proses membuat tali tambang itu disebut NYENTOLO. Maka itu telapak  tangan para awak Jonijon ini keras karena Ngapal atau Kapalen, karena sering dipakai menarik tambang ijuk yang keras itu. 
   Sekitar 3 tahun saya jadi CAMPOHAN Jonijon milik ibuku yang dioperasionalkan pamanku sendiri, Kak Matlazim namanya, dengan bagi hasil. Sedang bagian saya sebagai CAMPOHAN sebesar 10 % dari bagian belah. Lumayan untuk nambah uang jajan dan sambil latihan kerja melaut. 
   Teman teman sebayaku dulu banyak yang jadi CAMPOHAN Jonijon milik ortunya atau kakaknya sendiri. Mereka yang meneruskan profesi sebagai nelayan, tahun 80an sudah pada jadi nelayan profesional. Tahun 90an, mereka sudah pada jadi JURAGAN. Apakah debagau Jeragan/Juragan pemilik prahu dan jaringnya sendiri atau sebagai Jeragan Antek, yaitu orang yang memimpin operasional prahu milik orang lain, atau istilah kerennya disebut kapten kapal.  
   Juragan antek ini dapat bagian lebih banyak dari awak prahu yang lain, karena tanggung jawabnya lebih besar.
   Dulu ketika saya jadi CAMPOHAN, pernah juga belajar miyang sama paman paman saya. Kalau lagi feet, tidak mabuk laut, dapat pujian dari paman pamanku, "lni dia calon penerus generasi Madpuri"
Tapi kalau lagi kurang enak badan, mabuk laut ga ketulungan, muntah muntah terus selama di laut, ga bisa apa apa kecuali tidur saja, pusing dan sakit. Pengalaman ga nyaman inilah yang nemupus harapan saya untuk jadi nelayan profesional. Dengan begitu hilang juga keinginan untuk melamar anak gadis para Jeragan. Sebab syarat utama melamar anak gadis para Heragan adalah harus jadi nelayan profesion He he he....
  Maka kami bertiga bersaudara, laki laki semua, anaka nelayan profesional bapak Madpuri Allahu yarham, saudaranya Matlazim Allahu yarham, tidak ada yang mewarisi profesionilsme bapaknya.

Post a Comment

0 Comments