About Me


Branjang: Rumah Tangkap Ikan Di Laut Dalam Pantura Lamongan dan Gresi


Penyusun: Sudono S. Madpuri

(Alumni Ponpes YTP dan UGM, Yogyakarta)

Harianindonesiapost.com Keberadaan Branjang sebagai  alat tangkap ikan  di tengah laut hanya ada di desa Campurejo, Panceng, Gresik. Mulai dari Tuban sampai Banyuwangi, tidak ada.
   Kiai  Ihsanuddin, orang yang pernah ikut mengoperasionalkan Branjang, mengatakan, Branjang adalah alat penangkap ikan yang merupakan bangunan di tengah laut yang bahannya dari serba bambu dengan luas15x15m pada kedalaman 15 sd 30m. 
   Pada awalnya alat ini dibuat oleh nelayan pendatang dari Sulawesi ke Weru Komplek, Paciran, Lamongan dan desa Campurejo, Panceng, Gresik kemudian di kembangkan oleh nelayan setempat.
   Menurut ustadz Muvarrok bahwa yang mengembangkan Branjang pada awalnya adalah nelayan dari desa Campurrejo, Panceng, Gresik skitar tahun 1950an.
    Bangunan Branjang ini, kata lhsanuddin,  menancap didasar laut.
Sambungan bambu satu dengan yang lain diikat dengan tali dari ijuk.
Sedang alat penangkap ikannya pake jaring khusus namanya Waring yang posisinya berada di tengah tengah bangunan Branjang itu, dengan cara di putar pada gilingannya. Memutar Waring ke atas itu namanya Nangon.  
   Untuk menarik ikan ikan supaya masuk ke Waring Branjang menggunakan penerangan lampu petromax 3 sd 5 lampu. Biasanya ikan yang masuk Waring, menurut tadz Barrok sejenis ikan teri nasik, teri ndas, cumi, udang dll


   "Berbagai jenis ikan yang sudah ditangkap oleh nelayan Branjang biasanya dibeli oleh para juragan di laut, namanya NGADANG. Kemudian ikan yang sudah dibeli juragan Ngadang tadi, diasinkan dalam tong tong ikan, kemudian dijemur di LOHO (sejenis tikar dari bambu, pen) yang dibentang di PLAGORAN, sampai beberapa hari. (Biasanya di halaman rumahnya yang luas atau di lapangan Desa, pen). Setelah kering ikan ikan itu dibeli oleh para Cukong/Daukeh (biasanya China). Lalu diangkut atau dimuat dalam truk tronton di bawa ke kota, misalnya, Bogor, Jakarta dan sekitarnya," papar tadz Mubarrok tentang proses transaksi jual beli ikan mulai dari nelayan Branjang ke juragan Ngadang sampai ke Cukong/ Daukeh China.   
   Ada mata rantai pasar panjang, ikan tangkapan Branjang, untuk bisa sampai ke konsumen. Mungkin harganya sudah naik berlipat ganda. Dari sini kita jadi faham betapa nelayan Branjang dari Pantura Lamongan dan Gresik ini bisa memberikan peluang usaha orang banyak dari hulu (para juragan Ngadang) sampai ke hilir (para resaller ikan asin nelayan Branjang).
   Sementara itu us. Khotimah yang berasal dari desa Campurejo menambahi, Branjang iku alat nelayan cari iķan hanya di satu tempat dengan membuat rumah ditenga tengah laut pakai ori/bambu sekitar 100 m dalamnya dan dikasi waring alias jaring ditaro dibawa dasar laut, cara ambil ikannya diputar keatas.
   Ustadz 
Mubarrok bisa menjelakan secara detil proses transaksi ikan hasil tangkapan nelayan Branjang, karena dia adalah cucunya juragan ngadang itu sendiri. "Kebetulan Mbah saya, yai Dono,  termasuk salah satu pembeli ikan hasil tangkapan Branjangan, jadi saya tau mulai Ngadang-Pengasinan-Pengeringan sampai pada penjualan,' urai ustadz Barrok secara fasih.
  Di bagian lain lhsan katakan,  Bentuk bangunan Branjang persegi empat , panjang dan luasnya sama: 15×15m.
3 - 5 lampu tadi di gantung pada posisi tengah Branjang dengan agak mengumpul, jarak ketinggian dengan air antara 1 Depa/1 m.
   Membuat Branjang ini susah karena dilaut dalam, hanya orang orang tertentu saja yang punya keahlian ini. Orang yang ahli menancapkan bambu (namanya Ceblok Branjang) di laut sedalam 30-50 untuk buat fondasi Branjang dinamakan DAKOR.
   Ustadz Mubarok yang asli desa Campurejo menyela,  Maaf kalau Branjang bukan dikembangkan oleh nelayan Weru, tapi nelayan desa Campurrejo
   Ihsanuddin lantas nimpali, Ya pokoknya di sekitar situlah he he he.
   Ustadz Mubarrok nambahi, Soale kalau nelayan Weru lebih pada nelayan kursin dengan awak kapalnya kisaran 20 orang dan kepergiannya dalam melaut samapi 20 hari, ini yang disrbut Amen. Sedangkan Branjang pakai kapal namanya "but" berangkat sore jelang malam dan pulang pagi. Jadi melautnya cuma semalam.
   "Iya segi empat bentuknya,  sebab saya pernah ikut melaut alias Lemban untuk mepraktekkan pada teman teman yang pingin tau teknisnya cuma saya melemban siangnya, sebenarnya waktu cari ikan itu malamnya", kata us. Khotimah.
    Ihsanuddin melanjutkan ceritanya,  Saya ikut mBranjamg dulu malah masih pake layar, ada but masih jarang sekali.
" Kulo nggih menangi layar yi ikhsan he he he", saut ustadz Mubarrok
   Selanjutnya Ihsanuddin katakan,  Saya dulu ikut menjalankan branjang punya Haji Noto almarhum, adiknya Haji Somo.  
   Dari tadi nampaknya Kaskar Laut nyimak perbincangan tentang Branjang dan akhirnya ikut nimbrung,  Sungguh terharu setelah  membaca cerita-cerita di atas, perjuangan orang tua kita yang berada di pantura yang semangatnya luar biasa sehingga bisa melahirkan generasi yang intelektual...ayo semangat pagi 💪🏼.

Post a Comment

0 Comments