Socialize

Benarkah Sahabat Alqamah Sebagai Anak Durhaka Pada Ibunya?


Diceritakan kembali oleh: Sudono Syueb

(Mantan Lurah Pondok YTP, Kertosono , Nganjuk)
                

Harianindonesiapost.com Selama ini beredat kisah Al Qamah yang dianggap "DURHAKA" pada ibunya ini sering kita dengar,  disampaikan oleh guru-guru agama, para muballigh, ustadz dan kiai di surau surau, masjid masjid dan di sekolah sekolah, untuk mendidik anak-anak agar mereka tidak durhaka kepada kedua orang tuanya. 
Saya sekali kisah sahabat Al Qamah yang dianggap "DURHAKA"  dan populer  itu bersumber dari  hadits dhaif berikut ini:

وعن عبد الله بن أبي أوفى ، رضي الله عنه ، قال : كنا عند النبي صَلى الله عَلَيه وسَلَّم فأتاه آت ، فقال : شاب يجود بنفسه ، قيل له : قل : لا إله إلا اللّه. فلم يستطع. فقال : كان يصلي ؟ قال : نعم. فنهض رسول الله صَلى الله عَلَيه وسَلَّم ونهضنا معه فدخل على الشاب ، فقال له : قل : لا إله إلا اللّه , فقال : لا أستطيع ، قال : لم ؟ قال : كان يعق والدته. فقال النبي صَلى الله عَلَيه وسَلَّم : أحية والدته ؟ قالوا : نعم ، قال : ادعوها , فجاءت ، فقال : هذا ابنك ؟ فقال : نعم , فقال لها : أرأيت لو أججت نار ضخمة ، فقيل لك : إن شفعت له خلينا عنه وإلا حرقناه بهذه النار أكنت تشفعين له ؟ قال : يا رسول الله صَلى الله عَلَيه وسَلَّم ، إذًا أشفع ، قال : فأشهدي الله وأشهديني أنك قد رضيت عنه ، قال : اللهم إني أشهدك وأشهد رسولك أني قد رضيت عن ابني , فقال له رسول الله صَلى الله عَلَيه وسَلَّم : يا غلام ، قل : لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله , فقالها ، فقال رسول الله صَلى الله عَلَيه وسَلَّم : الحمد للّه الذيما أنقذه بي من النار.
                    Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: Kami pernah berada bersama  Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu datanglah seseorang, ia  berkata, "Ada seorang pemuda yang nafasnya hampir putus, lalu  dikatakan kepadanya, ucapkanlah Laa ilaaha illallah,akan tetapi ia  tidak sanggup mengucapkannya." Beliau bertanya kepada orang itu," Apakah anak muda itu masih menjalankan shalat?" Jawab orang itu,"Ya." Lalu Rasulullah  Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bangkit berdiri dan kami pun berdiri  besama beliau, kemudian beliau masuk menemui anak muda itu, beliau  bersabda kepadanya,"Ucapkan Laa ilaaha illallah." Anak muda itu  menjawab, "Saya tidak sanggup." Beliau bertanya, "Kenapa?" Dijawab oleh orang lain, "Dia telah durhaka kepada ibunya." Lalu Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertanya, "Apakah ibunya masih hidup?"  Mereka menjawab, "Ya". Beliau bersabda, "Panggillah ibunya kemari," Lalu datanglah ibunya, makab belaiu bersabda, "Ini anakmu?" Jawabnya, "Ya." Beliau bersabda lagi kepadanya, "Bagaimana  pandanganmu kalau sekiranya dibuat api unggun yang besar lalu  dikatakan kepadamu: Jika engkau memberikan syafa'atmu  (yaitu memaafkannya, pen) kepadanya niscaya akan kami lepaskan  dia, dan jika tidak pasti kami akan membakarnya dengan api, apakah engkau  mau memberikan syafa'at kepadanya?" Perempuan itu menjawab, "Kalau begitu, aku akan memberikan syafa'at kepadanya." Beliau bersabda," Maka Jadikanlah Allah sebagai saksinya dan  jadikanlah aku sebagai saksinya sesungguhnya engkau telah meridhai anakmu." Perempuan itu berkata, "Ya Allah sesungguhnya aku  menjadikan Engkau sebagai saksi dan aku menjadikan RasulMu sebagai saksi sesungguhnya aku telah meridhai anakku". Kemudia Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda kepada anak muda itu, "Wahai anak muda ucapkanlah Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa asyhadu anna muhammada 'abduhu wa rasuluhu." Lalu anak muda itupun dapat mengucapkannya. Maka bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dirinya  dari api neraka, lantaran diriku.”

   Ustadz Ahmad Sabiq bin Qbdul Lathif Abu Yusuf menjelaskan bahwa Imam Al Bushiri Rahimahullah mengatakan:

رواه أحمد بن منيع ، والطبراني واللفظ له ، وعبد الله بن أحمد بن حنبل ، وقال : لم يحدث أبي بهذا الحديث ، ضرب عليه من كتابه لأنه لم يرض حديث فائد بن عبد الرحمن ، وكان عنده متروك الحديث.
قلتُ : وضعفه ابن معين وأبو حاتم ، وأبو زرعة والبخاري ، وأبو داود والنسائي ، والترمذي وغيرهم ، وقال الحاكم : روى عن ابن أبي أوفى أحاديث موضوعة.
                Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, Ath Thabarani –dan ini adalah lafaz miliknya-, dan Abdullah bin Ahmad bin Hambal, dia berkata: “Ayahku (Imam Ahmad) belum pernah membicarakan hadits ini, Beliau menghilangkannya dari kitabnya, karena beliau tidak ridha dengan hadits Faaid bin Abdurrahman. Menurutnya (Imam Ahmad), Faaid adalah matrukul hadits – haditsnya ditinggalkan.
                Aku (Al Bushiri) berkata: “Dia didhaifkan oleh Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Al Bukhari, Abu Daud, An Nasa’i, At Tirmidzi, dan selain mereka. Al Hakim berkata: diriwayatkan dari Ibnu Abi ‘Aufa hadits-hadits palsu.” (Imam Al Bushiri, Az Zawaid, No. 5039)   
                lebih lsnjut Ahmad Sabiq sqmpaikan, Imam Al Haitsami juga mengatakan demikian:

 رواه الطبراني وأحمد بأختصار كثير وفيه فائد أبو الورقاء وهو متروك
                Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dan Ahmad dengan banyak diringkas, dan di dalam sanadnya terdapat Faaid bin Abdurrahman Abu Al Waraqa’, dan dia adalah matruk. (Majma’ Az Zawaid, 8/148)
                Syaikh Al Albani mengatakan tentang hadits ini: dhaif jiddan. (Dhaif Targhib wat Tarhib, No. 1487)
                Imam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa hadits ini tidak sah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam sanadnya terdapat Faaid. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan: matrukul hadits. Yahya mengatakan: “Bukan apa-apa.” Ibnu Hibban mengatakan: “tidak boleh berhujjah dengannya.” Al ‘Uqaili mengatakan: “Tidak ada yang menjadi mutaba’ah (penguat) hadits ini, kecuali dari orang yang seperti dia juga.”
                Dalam sanadnya juga terdapat Daud bin Ibrahim. Imam Abu Hatim mengatakan: Dia berdusta. (Lihat Al Maudhu’at, 3/87)
                Maka jelaslah bahwa hadits ini tidak sah disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
              
   Selanjutnya Ahmad Sabiq katakan bahwa sisi kelemahannya adalah bahwa kisah ini diriwayatkan hanya dari jalur Abul Warqo’ Fa’id bin Abdirrahman, sedangkan dia adalah seorang yang ditinggalkan haditsnya, dan seorang yang  tertuduh berdusta.

Berkata Ibnu Hibban rahimahullah,”Dia termasuk orang yang meriwayatkan hadits-hadits munkar dari orang-orang yang terkenal. Dia meriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa dengan hadits-hadits yang mu’dhol, maka tidak boleh berhujjah dengannya.

Berkata Imam Bukhari rahimahullah,”Dia meriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa, dan dia seorang yang munkar hadits.”

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah,”Dia orang yang lemah, tidak tsiqoh, dan ditinggalkan haditsnya dengan kesepakatan para ulama.”

Oleh karena itu para ulama telah melemahkan hadits ini, diantaranya:

1. Imam Ahmad dalam Musnad beliau

2. Al Uqoili dalam adh Dhu’afa al Kabir 3/461

3. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6/198

4. Ibnul Jauzi dalam al Maudhu’at 3/87

5. Al Mundziri dalam at Targhib wat tarhib 3/222

Karena beliau meriwayatkan kisah ini dengan lafaz (ra waw ya – diriwayatkan). Sedangkan beliau mengatakan dalam muqoddimah kitab tersebut: apabila dalam sanad sebuah hadits terdapat seorang pendusta, pemalsu hadits, tertuduh berdusta, disepakati untuk ditinggalkan haditsnya, lenyap haditsnya, lemah sekali, lemah atau saya tidak menemukan penguat yang memungkinkan untuk mengangkat haditsnya menjadi hasan, maka saya mulai dengan lazadz (ra waw ya – diriwayatkan). Dan saya tidak menyebutkan siapa perowinya juga tidak saya sebutkan sisi cacatnya sama sekali. Dari sini maka sebuah sanad yang lemah bisa diketahui dengan dua tanda, pertama: dimulai dengan lafadz (ra waw ya – diriwayatkan), dan tidak ada keterangan sama sekali setelahnya.”

6. Adz Dzahabi dalam Tartibul Maudhu’at no.874

7. Al Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id 8/148

8. Ibnu ‘Aroq dalam Tanzihusy Syari’ah 2/296

9. Asy Syaukani dalam Al Fawa’id al Majmu’ah

10.  Al Albani dalam Dlo’if Targhib

Mari Kita Ganti Yang Shohih

Setelah diketahui kelemahan hadits ini, kata Ahmad Sabiq, maka tidak boleh bagi siapapun untuk menyebutkan kisah ini saat membahas tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua dan larangan durhaka kepadanya. Namun perlu diketahui bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah sebuah kewajiban syar’i dan durhaka adalah sebuah keharaman yang nyata. Banyak ayat dan hadits yang menyebutkan hal ini, diantaranya:

Firman Allah azza wa jalla (yang artinya):

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS.al Isro’:23]

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata,”Saya datang demi berbaiat kepadamu untuk berhijrah, namun saya meninggalkan kedua orang tuaku menangis.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau membuat keduanya menangis.” [HR.Abu Dawud dengan sanad shohih.lihat Shohih Targhib: 2481]

Dari Abdullah bin Umar berkata, “Saya mempunyai seorang istri yang saya cintai, namun Umar membencinya, dan dia mengatakan kepadaku, “Ceraikan dia.” Saya pun enggan untuk menceraikannya. Maka Umar datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menyebutkan kejadian itu, maka Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku,”Ceraikanlah dia.” (HR.Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dan beliau menshohihkannya. Berkata Tirmidzi: “Hadits ini Hasan Shohih.”)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Dosa-dosa besar adalah berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa serta sumpah palsu.” (HR.Bukhari)

Dan untuk mengetahui banyak hadits tentang pahala berbuat bakti kepada kedua orang tua dan ancaman bagi yang durhaka kepada keduanya, lihatlah shohih Targhib wat Tarhib Oleh Syaikh al Albani rahimahullah pada bab ini. Wallahu A’lam.


Sumber : https://alqiyamah.wordpress.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel